BERANI Tak Akan Memberi Uang di Pilgub Sulteng 2024 Tapi Menyiapkan Ruang

Palu, Teraskabar.id – Bakal pasangan calon (Bapaslon) Anwar Hafid – Renny A Lamadjido memiliki komitmen kuat untuk menciptakan Pilkada Sulteng 2024 berkualitas. Caranya dengan mencerdaskan masyarakat agar tidak terjebak pada tiga persoalan yang merusak demokrasi kita yaitu, isu hoaks, politik identitas dan money politic atau politik uang.

““Saya kira kita mencerdaskan masyarakat melalui teman-teman media. Kami juga di tim BERANI sudah sampaikan bahwa kita ingin menciptakan pilkada berkualitas. Jangan sekali kali menyebarkan hoaks, fitnah antara satu dengan lainnya, serta politik uang,” kata Anwar Hafid di hadapan sejumlah awak media, Ahad (7/7/2024), di kediamannya di Jalan Samratulangi Kota Palu, usai menjemput surat keputusan penetapan calon gubernur dan wakil gubernur di DPP PKS Jakarta.

Baca juga: Pasangan BERANI yang Berani Pertama Deklarasi Bacalon untuk Pilgub Sulteng 2024

Anwar Hafid didampingi istri, bakal calon wakil gubernur Renny A Lamadjido, Ketua DPW PBB Sulteng Herman Latabe, Sekretaris DPW PKS Rusman Ramli serta jajaran unsur pimpinan DPD Partai Demokrat Sulteng  menyebutkan, tiga persoalan yang merusak proses demokrasi saat suksesi kepemimpinan di suatu daerah. Secara rinci disebutkan mantan Bupati Morowali 2 periode itu adalah money politik atau politik uang, politik identitas, serta isu hoaks.

Politik uang tegas Anwar Hafid harus dilawan secara berjamaah karena ini akan sangat merusak sendi sendi demokrasi. Bahkan, akan merusak proses pembangunan ke depan.

Menurut Anwar Hafid, rakyat harus diedukasi agar semakin cerdas dalam memilih pemimpin yang memiliki kriteria, punya integritas, rekam jejak, dan yang paling penting memahami kondisi daerah.

“Ini saja saya kira kriterianya, sehingga siapapun dia calon yang memenuhi kriteria, itu layak dipilih. Asalkan tidak menghalalkan segala cara dengan money politik atau  bagi- bagi uang. Akhirnya rakyat kita ini lama lama nanti  tidak akan ada lagi gubernur ataupun bupati kalau tidak ada uangnya,” ujar anggota DPR RI Dapil Sulteng ini.

Baca jugaPasangan BERANi Mulai Persiapkan Format B1KWK untuk Mendaftar di KPU Sulteng

Anwar Hafid mengungkapkan, banyak rakyat Indonesia, khususnya di Sulteng berasal dari kalangan yang tidak terlalu mapan dari sisi finansial. Namun memiliki kecerdasan, punya  komitmen, punya integritas yang besar tapi tak bisa menjadi kepala daerah, hanya karena tidak ditunjang materi yang memadai. Penyebabnya, karena rakyat sudah dibiasakan dengan pola pola transaksional.

“Saya di mana-mana, saat jadi bupati misalnya, di pileg (pemilihan legislative), saya kampanyekan seperti ini (menolak money politik),” ujarnya.

Makanya di Pilgub Sulteng 2024 kata Anwar Hafid, pasangan BERANI tidak memberi uang tapi menyiapkan ruang bagi rakyat Sulteng. Ruang sejahtera, ruang cerdas, kemudian ruang sehat, serta ruang kepada mereka bisa merasa nyaman tinggal di Sulteng ini.

“Jadi berani tidak akan memberi uang kepada rakyat tapi akan menyediakan ruang. Kalau uang tiga hari habis, tapi kalau ruang kami siapkan, insya Allah selamanya mereka akan nikmati,” ujarnya.

Olehnya, melalui sosialisasi media, Anwar Hafid mengajak untuk menciptakan Pilkada Sulteng 2024 sebagai Pilkada riang gembira dan adil sehingga masyarakat juga ikut senang merayakan pesta demokrasi ini.

Baca jugaArea Kedatangan Bandara Mutiara Palu Disesaki Ribuan Pendukung BERANI

“Tapi senangnya bukan karena serangan fajar tapi senangnya karena akan mendengar calon calon gubernur yang akan menawarkan gagasan dan ide untuk mensejahterakan mereka di masa akan dating,” katanya.

Poin penting lainnya yang perlu jadi perhatian untuk menciptakan Pilgub Sulteng 2024 berkualitas adalah, hindari menyebarkan hoaks, fitnah antara satu dengan lainnya.

“Jangan sekali-kali menyebarkan berita hoaks, fitnah antara satu dengan lainnya,” imbuh ketua DPD Partai Demokrat Sulteng ini.

Terakhir adalah terkait politik identitas. Media kata Anwar Hafid sangat perlu mengedukasi masyarakat agar menghindari politik identitas dalam suksesi kepemimpinan. Sebab, politik identitas membuat masyarakat jadi terkotak-kotak.

“Mari kita bersama sama memberikan pencerahan kepada masyarakat, siapapun dia, yang kita mau pilih ini adalah pemimpin Sulteng,” ujarnya. (red/teraskabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *