Palu, Teraskabar.id – Seorang pria bernama Jamil (32) ditemukan tewas bersama anaknya yang berumur 2 tahun di rumah bosnya di Jalan PDAM, Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Ahad malam (26/7/2026). Sedangkan istri korban, Nurhanisa, dikabarkan sedang kritis dan mendapat penanganan medis di salah satu rumah sakit di Kota Palu. Kesaksian tetangga korban pembunuhan sempat mengira aksi KDRT.
Korban merupakan karyawan di rumah potong ayam yang juga merupakan tempat domisili korban bersama anak dan istrinya.
Sementara itu, informasi yang berhasil dihimpun media ini di lokasi kejadian, pelaku diduga merupakan rekan kerja korban dan masih memiliki pertalian kekerabatan. Pelaku diduga memiliki dendam terhadap korban karena adanya perselisihan soal pekerjaan.
Saat kejadian, korban diduga sempat membela diri sebelum akhirnya meregang nyawa. Sedangkan anak korban diduga wajahnya dibekap dengan kain hingga wajah korban korban kebiruan dan tak bisa bernafas. Sedangkan istri korban dikabarkan sempat digorok di bagian leher, namun masih mempertahankan kesadaran hingga warga tiba untuk memberi bantuan.
Menurut pengakuan Bahtiar (49) selaku tetangga korban yang tinggal di bagian belakang lokasi tempat kejadian mengaku, insiden tersebut terjadi saat dirinya sementara bermain game pada malam hari sekitar pukul 21.30 Wita, sebelum menemukan korban terkapar tidak berdaya.
Kesaksian Tetangga Korban Pembunuhan, Pelaku dan Korban Miliki Kekerabatan
Bahtiar mengaku bahwa sang pelaku masih memiliki pertalian kekerabatan dengan dirinya. Pelaku tinggal di Jalan Pengawu, dengan inisial AK. Korban dikabarkan baru dua pekan tinggal di rumah ini. Antara pelaku dan korban diketahui memiliki bos yang sama yang memiliki beberapa tempat penjualan ayam potong. Lalu mereka berdua dirolling. Pelaku di tempatkan di lokasi lain, sedangkan korban yang merupakan pegawai lama dan sudah berkeluarga sehingga menempati tempat kejadian. Dugaan sementara pembunuhan terjadi karena adanya kecemburuan antara sesama karyawan.
“Saya kira awalnya yang ribut-ribut itu anak-anak di sini main, kan biasa sampai tengah malam mereka bermain. Jadi saya mengintip di sini, saya lihat bicara mati. Kok masih bangun anak anak padahal sekolah besok, saya lihat dari sini tidak ada anak-anak. Sudah saya duduk di situ, tiba-tiba ada teriakan” ujarnya.
Bahtiar mengatakan sempat mendengar sang istri korban meminta tolong agar jangan dibunuh. “Saya sempat dengar istri korban minta tolong, waktu saya masuk ke dalam dia bilang tolong saya, jangan bunuh saya,” kata Bahtiar mengutip teriakan istri korban.
Bahtiar mengaku sempat meneriaki korban karena mengira terjadi KDRT dalam rumah dan memperingatkan agar suami istri tak berbuat nekat.
“Saya sempat berteriak jangan baku bunuh kamu di dalam karena awalnya saya pikir ini adalah masalah rumah tangga dan tidak menutup kemungkinan terjadi aksi gelap mata,” ujarnya.
“Tiba-tiba ada saya dengar suara mengorok dan suaranya saya kenal sekali. Ah tidak enak di dalam hati saya. Begitu saya suruh buka pintu dan sempat saya tendang tapi tidak bisa terbuka,” tambahnya.
Ia akhirnya menelpon rekan-rekan tetangganya beserta ketua RT untuk meminta bantuan. Saat mereka tiba tiba di lokasi, warga disaksikan ketua RT kembali mencoba untuk membuka pintu secara paksa. Saat berhasil membuka pintu, korban terlihat sudah bersimbah darah dalam keadaan tidak bernyawa.
Sedangkan sang istri yang tergeletak dalam kondisi kritis namun masih sadar, sempat meminta tolong untuk menyelamatkan nyawa anaknya yang tergeletak di tempat tidur dalam posisi tengkurap dan sudah tidak bernyawa, tepat disamping sang ibu. Sedangkan mayat sang suami berada dekat pintu masuk, sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait motiv pembunuhan serta melakukan pengejaran terhadap pelaku yang melarikan diri. (red)






