Palu, Teraskabar.id – Otoritas Jasa Keuangan Sulawesi Tengah (KOJK Sulteng) menilai kondisi Industri Jasa Keuangan (IJK) di wilayah Sulawesi Tengah hingga April 2024 tetap terjaga stabil dengan kinerja yang positif, likuiditas yang memadai dan profil risiko yang terjaga.
Hal itu disampaikan Budi Hamdani selaku Kepala Bagian Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis Kantor OJK Provinsi Sulteng pada kegiatan jurnalis update Perkembangan Sektor Jasa Keuangan Provinsi Sulteng, Rabu (26/6/2024), di ruang meeting utama kantor OJK Sulteng.
Budi Hamdani kali ini mewakili Kepala OJK Provinsi Sulteng Triyono Rahardjo yang sedang tugas dinas luar daerah.
Baca juga: Indikator Perbankan Tumbuh 2 Digit di Sulteng pada TW I 2024, Penyaluran Kredit Tumbuh 17 Persen
Melalui Budi Hamdani, kantor OJK Provinsi Sulteng menjelaskan perkembangan industri perbankan, industri keuangan non-bank dan pasar modal di Sulawesi Tengah pada April 2024 tumbuh positif seiring kegiatan edukasi dan inklusi keuangan, serta pelindungan konsumen yang dilakukan secara berkelanjutan.
Pada posisi April 2024 kata Budi, seluruh indikator perbankan mengalami pertumbuhan positif double digit secara year-on-year. Secara rinci ia menyebutkan, untuk posisi aset perbankan tercatat sebesar Rp69,26 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 15,36 persen yoy dibanding periode yang sama pada 2023 sebesar60,04 Triliun.
“Sedangkan, untuk penyaluran kredit sebesar Rp52,44 triliun atau meningkat sebesar 18,43 persen secara year on year dibanding periode yang sama pada April 2023 yang hanya mencapai Rp44,28 Triliun,” ujarnya.
Baca juga: Periode Januari 2024, Penyaluran Kredit Perbankan di Sulteng Tumbuh Dua Digit
Selanjutnya, untuk penghimpunan Dana Pihak Ketiga atau DPK mencapai angka Rp34,55 triliun atau meningkat 12,91 persen secara yoy, di mana pada periode yang sama pada April 2023 tercatat hanya Rp30,60 Triliun.
Begitupula terkait kinerja intermediasi perbankan terjaga pada level yang tinggi dengan Loan to Deposit Ratio atau LDR sebesar 151,22 persen dan tingkat rasio kredit bermasalah terkendali pada level aman dengan non-performing loan 1,79 persen.
“Tingkat risiko kredit perbankan di Sulawesi Tengah masih tetap terjaga di posisi 1,79 persen dan berada di bawah ambang batas sebesar 5 persen,” kata Budi.
Kinerja perbankan syariah juga mengalami peningkatan. Misalnya, dari sisi nilai aset tercatat sebesar Rp3,14 triliun atau sebesar 15,44 persen secara yoy.
Baca juga: Periode Januari 2024, Penyaluran Kredit Perbankan di Sulteng Tumbuh Dua Digit
Begitupula pembiayaan syariah masih menunjukkan tren positif tumbuh sebesar 15,70 persen yoy menjadi Rp2,80 triliun dan penghimpunan dana pihak ketiga tumbuh sebesar 25,45 persen secara yoy menjadi Rp2,07 triliun.
“Dari sisi share pembiayaan, bank konvensional tercatat 94,66 persen sedangkan perbankan syariah tercatat hanya 5,34 persen, masih terbilang jauh perbandingannya,” uajrnya.
Budi juga menyinggung soal komitmen perbankan terhadap UMKM. Menurutnya, pihak perbankan tetap berkomitmen untuk terus mendorong pertumbuhan UMKM yang diwujudkan dalam peningkatan penyaluran kredit kepada UMKM. Misalnya, pada April 2024, posisi penyaluran kredit kepada UMKM sebesar Rp16,62 triliun atau tumbuh 15,98 persen secara yoy dengan kualitas NPL yang masih terjaga sebesar 3,10 persen atau masih di bawah threshold 5 persen. (red/teraskabar)