Sabtu, 17 Januari 2026
Home, Opini  

Swasembada Beras Tercapai dan Hilirisasi Segera, Selaras Program Anwar Hafid BERANI Makmur dan BERANI Sejahtera

Swasembada Beras Tercapai dan Hilirisasi Segera, Selaras Program Anwar Hafid BERANI Makmur dan BERANI Sejahtera
Dr. Hasanuddin Atjo. Foto: Dok

Oleh Hasanuddin Atjo

RABU ( 7/1/2026), bertempat di Kabupaten Karawang – Jabar, Presiden Prabowo Subianto melakukan panen raya dan sekaligus mendeklarasikan Indonesia swasembada beras tahun 2025.

Menurut Mentan, Andi Amran Sulaiman, produksi beras kita tahun 2025 sebesar 34,7 juta ton, dan stok awal tahun 2026 sebesar 3,25 juta ton. Prestasi ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.

Menurutnya pula, dampak lain swasembada, berkontrubusi terhadap harga beras dunia. Tahun 2025 harga beras dunia turun sebesar 44% dari US$ 650 per metrik ton menjadi US$ 340.

Sejumlah kalangan menilai, ini prestasi membanggakan dan harus dijaga keberlanjutannya mengingat sejumlah pihak merasa tidak nyaman karena bisnisnya terganggu .

Bahkan Menteri Amran memberi sanksi kepada 192 pejabat eselon lingkup Kementrian Pertanian sepanjang tahun 2025. Selain itu mencabut izin ribuan suplier dan distributor yang melanggar.

Sejumlah pihak juga berharap agar peningkatan produktifitas diikuti dengan hilirisasi melalui pengembangan produk produk turunan dari beras dan limbah yang dihasilkan dari usahatani sawah.

Separuh dari produksi beras Nasional (16,5 juta ton) adalah kontribusi pulau Jawa. Sisanya berasal dari pulau Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Maluku, Papua, Nusa Tenggara dan Bali.

Produktifitas padi sawah di Jawa 2 – 3 kali dibandingkan luar Jawa. Kesuburan lahan, dukungan infrastruktur, sarana dan prasarana serta pasar menjadi pembeda dengan luar Jawa.

Karena itu cita cita Presiden Prabowo menjadi produsen beras utama dunia berada di “ujung mata”. Tinggal seperti apa strategi yang dibangun. Kolaborasi Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat menjadi poin utama.

Sulawesi Tengah pada tahun 2025 target tanam mencapai 251.828 ha, produksi beras 528.179 ton (1,5% terhadap Nasional) dan surplus beras sebesar 233.705 ton atau 7% Nasional (Dinas TPH Provinsi Sulteng).

  FKUB Sulteng Sosialisasikan Moderasi Beragama di Tiga SMA di Palu

Disebutkan pada acara panen raya dan deklarasi itu bahwa daerah yang dilintasi equator line (khatulistiwa) jadi salah satu penyangga bagi wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua.

Program BERANI Makmur dan BERANI Sejahtera merupakan program unggulan Gubernur Anwar Hafid dan Wakilnya Reny Lamadjido untuk sektor pangan termasuk beras.

BERANI makmur didesain lebih pada naiknya produktifutas , sedangkan BERANI Sejahtera bagaimana meningkatkan nilai tambah (value) dari usahatani beras

Sesungguhnya keinginan dari Gubernur Anwar Hafid sangat sederhana. Pertama, seperti apa strategi agar pada akhir tahun 2030 produktifitas padi naik dari 3.000 kg/ha/MT jadi 5.000 kg/ha/MT.

Kedua, bagaimana strategi agar NTP (Nilai Tukar Petani) Tanaman pangan melewati angka 100 persen dan selama ini setia berada pada kisaran angka 95 – 96 %.

Terakhir bahwa untuk mencapai kedua target itu mesti dibuat role model (pilot project) yang didesain berdasarkan prinsip BERANI Makmur dan Berani Sejahterah pada setiap Kabupaten/Kota. (***)