Warga Morowali Korban Perdagangan Orang, Dipekerjakan di Bahrain Tanpa Gaji

Palu, Teraskabar.id– Kasus dugaan perdagangan orang kembali mencuat di Sulawesi Tengah (Sulteng). Kini korbannya adalah warga Morowali inisial IS. Perempuan ini menjadi TKW di Bahrain sebagai asisten rumah tangga dengan iming iming gaji Rp5 Juta per bulan.

Namun, selama dua bulan bekerja, perempuan inisial IS tidak pernah menerima gaji. Sehingga, korban memutuskan  untuk bekerja di tempat lain dengan gaji 8 dinar per hari. Dari majikannya inilah korban dibantu diantarkan ke KBRI Bahrain.

Baca jugaTiga Perempuan Korban TPPO di Morowali, Jadi Pekerja Seks Komersial Tarif Rp2,2 Juta

Kini perempuan korban kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tersebut telah tiba di Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu.

Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menjemput kepulangan korban di Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Jumat (5/7/2024).

“Pukul 13.00 wita siang kemarin, korban diduga korban TPPO telah tiba di Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu,” kata Kabidhumas Polda Sulteng melalui Kasubbid Penmas AKBP Sugeng lestari di Palu, Jumat (5/7/2027)

Di Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu sudah menunggu Kasubdit Renakta Ditreskrimum Polda Sulteng bersama Tim BP2MI Sulteng untuk menjemput korban inisial IS warga Kab. Morowali, jelas Kasubbid Penmas.

Baca juga: Pj Bupati Rachmansyah Tegaskan THR Honorer Pemkab Morowali Setara Sebulan Gaji

Dugaan IS adalah korban TPPO jelas Sugeng, karena sebelumnya Polda Sulteng ada menerima Laporan dari suami korban inisial FA yang tertuang dalam laporan polisi nomor LP/B/65/III/2024/SPKT/Polda Sulteng.

Sugeng juga menyebut, di dalam laporannya suami korban mengungkapkan kalau istrinya (IS) diajak SH untuk bekerja menjadi TKW di Bahrain sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) dengan gaji Rp 5 juta per bulan.

Masih kata Kasubbid penmas, korban dari Palu menuju Jakarta tanggal 10 Desember 2023 untuk dipersiapkan bekerja di Bahrain.  Tanggal 2 Februari 2024 korban diberangkatkan ke Bahrain, selama 2 bulan bekerja korban tidak pernah menerima gaji. Sehingga korban memutuskan untuk bekerja ditempat lain dengan gaji 8 dinar per hari. Dari majikannya inilah korban dibantu diantarkan ke KBRI Bahrain.

Baca juga: Isu Darurat TPPO Yang Disuarakan Yahdi Basma Jadi Tema Khusus Diskusi MPR RI

“Berdasarkan laporan suami korban itulah, Kepolisian terus melakukan penyelidikan dengan berkoordinasi beberapa pihak diantaranya BP2MI Sulteng,” terang Kasubbid Penmas.

Dengan bantuan pihak BP2MI Sulteng, Polda Sulteng dapat berkoordinasi dengan pihak KBRI Bahrain yang akhirnya dengan bantuan KBRI berhasil memulangkan korban ke Indonesia tanggal 3 Juli 2024, dan 5 Juli 2024 dari Jakarta korban langsung pulang ke Palu, bebernya.

Perkara dugaan TPPO saat ini sedang didalami oleh tim penyidik subdit IV Renakta Polda Sulteng guna mengetahui jaringan pelakunya.  “Perkembangan hasil penyelidikan nanti diinformasikan kembali,” kata Sugeng. (red/teraskabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *