Jumat, 6 Februari 2026
Home, Opini  

2026 Sinyal Industri Udang Menguat, Perlu Kalibrasi SOP dan Monitoring Agar mampu Bersaing dan Berkelanjutan

2026 Sinyal Industri Udang Menguat, Perlu Kalibrasi SOP dan Monitoring Agar mampu Bersaing dan Berkelanjutan
Dr. Hasanudin Atjo (Tengah, berbaju putih). Foto: Istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo

SEMPAT terseok pada tahun 2025, performa Industri udang Nasional awal tahun 2026 menggeliat lagi. Ini memberi motivasi kepada pelaku bisnis udang yang sempat redup terutama pembudidaya.

Berbagai masalah mendera industri yang menjadi andalan sektor Kelautan dan Perikanan (KP) dalam penerimaan devisa Boleh dikata 2025 merupakan tahun berkabung Industri ini, dan untungnya tidak sampai angkat “bendera putih”.

Masalah tersebut mulai kasus penyakit udang yang belum reda, pengenaan tarif masuk (resiprokal) ke pasar Amerika Serikat (AS) hingga 22,3 % dan penolakan pasar oleh karena terdeteksi adanya residu antibiotik.

Paling menghebohkan adalah penemuan radioaktif Cesium (Cs-137) oleh FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat (AS) pada salah satu kontainer udang yang berasal dari Indonesia.

Penemuan Cs-137, berdampak AS menutup sementara Impor udang Indonesia ( Agustus – Oktober 2025). Korbannya harga udang anjlok hingga 50% , berada di bawah HPP. Bahkan udang berukuran besar sangat minim peminat. Pasalnya sekitar 63% udang Indonesia diekspor ke AS.

Sinyal menggeliat ditandai harga udang 2026 kembali normal. Bahkan harga udang size 100 tembus di angka 62 ribu rupiah/kg, hampir dua kali terhadap harga pada tahun 2025, yang anjlok hingga 35 ribu rupiah/kg.

Momentum ini mestinya dijaga agar masalah tersebut tidak lagi berulang, dan mendorong kinerja industri udang Negara Kepulauan terbesar bergaris pantai terpanjang yang kedua (mendekati 100 ribu km) dan beriklim tropis.

Dibutuhkan kalibrasi Standar Operasional Presedur ( SOP) terhadap lima pilar berkaitan dengam maju – mundurnya industri yang berdampak pada devisa maupun penyerapan tenaga kerja.

Lima pilar dimaksud adalah penyediaan benur bermutu, teknologi sterilisasi air, sistem budidaya, penanganan limbah serta pascapanen. Kelimanya harus dibenahi secara paralel.

  Usai Dipanggil Presiden Prabowo Soal Pagar Laut di Pesisir Tangerang, Menteri KKP: Belum Diketahui Siapa Pemiliknya

Benur merupakan pilar yang urgent dibenahi. Hampir 60 % benur yang beredar terdeteksi berpenyakit dengan karakter genetik belum jelas, karena adanya praktek persilangan antarstrain di hatchery.

SOP hatchery mestinya segera dibenahi, memenuhi kriteria kalibrasi. Hatchery yang belum bisa memenuhi persyaratan, untuk sementara waktu tidak diperkenankan beroperasi. Ini tentunya membutuhkan cara win win solution.

Sterelisasi air menggunakan bahan kimia harus ditinggal, karena tuntutan pasar yang semakin kuat. Sudah saatnya menggunakan cara mekanis yang lebih ramah lingkungan.

Integrasi filter mekanis dengan sterilisasi yang berbasis listrik (sinar ultra violet dan teknik elektrosis), saatnya digunakan karena akan meningkatkan efisiensi antara lain pangkas areal tandon dan menekan ongkos produksi sterilisasi.

Penerapan budidaya dua step, yaitu nursery (karantina) dan growout (kolam pembesaran) saatnya diterapkan. Budaya pengecekan kesehatan benur sebelum menabur di nursery dan diteruskan ke growout mesti dibangun dan wajib.

Konsep dua step dan budaya pengecekan kesehatan benur berlaku pada semua tingkat teknologi. Dari teknologi yang paling sederhana di rakyat hingga yang intensif di level perusahaan.

Agar efisiensi diperoleh, maka integrasi dari IoT (Internet of Things) dalam pemantauan kualitas air, menghidupkan aerator dan mesin pelontar pakan terintegrasi dengan sensor.

Konsep ini membuat Equador menjadi raja udang dunia meski bergaris pantai sekitar 3.200 km, mereka mampu mengekspor pada tahun 2025 mendekati 1,2 juta ton. Sedang Indonesia hanya sekitar 200 ribu ton dengan HPP budidaya lebih mahal $US 0,75/kg.

Teknologi penanganan limbah mesti terus dikembangkan. Integrasi teknis mekanis, bio treatment dan pemanfaatan komoditi yang bisa menyerap bahan organik terlarut dapat dikembangkan.

Luas areal IPAL idealnya lebih besar dari tandon yang dibagi menjadi tiga segmen. Segmen pertama mekanisasi limbah padat, kedua bio treatmen menggunakan probiotik dan terakhir pemanfaatan Ikan Nila Salin dan Rumput laut.

  Jelang Idul Adha 1445H, IMIP Salurkan 35 Ekor Sapi untuk Program Kurban

Pascapanen masih menjadi persoalan mendasar dalam berbaikan mutu udang karena mengakar. Tataniga yang terbangun sejak lama telah menjadi budaya yang mesti dirubah.

Proses sortir mengelompokan size (ukuran) yang dilakukan di tambak sangat menurunkan mutu udang. Seharusnya cara itu diubah dengan mematikan udang secara cepat, segera diangkut dengan prinsip rantai dingin (Cold Chain System) dan selanjutnya proses sortir di pabrik.

Merealisasikan SOP seperti yang dibahas bukan perkara mudah. Namun bisa dilakukan seperti yang dipraktekkan oleh Equador, Vietnam maupun Thailand. Mindset mereka adalah mutu dan efidiensi.

Terakhir, Indonesia tentunya bisa melakukan hal itu dengan membangun frekuensi yang sama. Diperlukan konsep kalibrasi yang baku, kemudian disosialisasi, diimplementasi diawasi dan dievaluasi untuk penyempurnaan.

Diperlukan role model untuk menguji konsep kalibrasi pada lima pilar itu. Dan disarankan berbasis pulau besar seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku dan Papua. SEMOGA