Teraskabar.id – Gaya spiritual Anwar Hafid menjadi paradigma baru kepemimpinan daerah. Keberanian Anwar Hafid selaku Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) memerintahkan jajarannya untuk menghentikan aktivitas pemerintahan 30 menit sebelum azan berkumandang menjadi sebuah gebrakan baru level kepala daerah di Indonesia.
Sepengetahuan penulis belum ada di Indonesia pemimpin sekelas gubernur, bupati dan wali kota yang secara lantang dan berani memerintahkan jajarannya untuk menghentikan aktivitas kerja pemerintahan dikala azan berkumandang.
Apalagi ditambah dengan ultimatum, apabila ada kepala dinas atau kepala OPD yang tidak mengindahkannya akan diberhentikan dari jabatannya.
Thomas Kuhn (1964) seorang ahli fisika di abad ke-19 telah mengumandangkan konsep Paradigma, yang menurutnya tidak ada satupun konsep, teori hingga dalil yang dapat bertahan dalam kurun waktu tertentu, dan konsep atau teori itu akan mengalami pasang surut yang disebutnya paradigma.
Namun, para analis dan penulis buku dibidang sosiologi pemerintahan (Inu Kencana: 2000), Ary Ginanjar Agustian (2010), Danah Zohar dan Ian Marshall (2001) dan lain-lain berkeyakinan bahwa paradigma kepemimpinan yang dilatar belakangi ajaran dan konsep ilahiah (Quran) akan bertahan terus dan tidak akan mengalami anomaly, apalagi krisis sebagaimana diprediksi oleh Thomas Kuhn.
Normal sains, anomaly dan krisis serta revolusi pemikiran merupakan sebuah siklus yang kerap terjadi dalam semua aspek kehidupan termasuk Paradigma Kepemimpinan.
Sebagai mantan bupati dan seorang birokrat, kepemimpinan Anwar Hafid banyak terilhami dari ajaran-ajaran Ilahiah yang sangat diyakininya banyak membawa perubahan mendasar.
Gerakan Salat berjamaah tidak saja berpengaruh dalam pemerintahan, tetapi akan berdampak kepada rumah tangga para ASN dan menghilangkan mental korupsi dan perilaku penyimpangan lainnya terutama kejahatan jabatan.
Publik di Sulteng menyebutnya sebuah keberanian Anwar Hafid, mengapa? karena Birokrasi di Sulawesi Tengah tidak hanya terdiri dari kaum Muslimin, tetapi ada juga dari saudara kita Nasrani, Hindu bahkan Budha.
Gaya Spiritual Anwar Hafid, BERANI Mengumandangkan Salat Jamaah
Sejak gubernur Sulteng dipimpin Azis Lamadjido, HB. Paliudju, Aminudin Ponulele, Longki Danggola hingga Rusdy Mastura, sepengetahuan penulis belum ada satupun dari mereka yang mengumandangkan gerakan salat berjamaah di masjid saat waktu-waktu kerja ASN.
Sekalipun kualitas Ke-Islaman para mantan Gubernur tidak diragukan, tetapi keberanian mereka tidak pernah terungkapkan sebagaimana yang digagas oleh Anwar Hafid.
Menurut Anwar Hafid bahwa Presiden Jokowi saja setuju dengan ide dan gagasannya itu.
Gerakan Salat berjamaah di masjid bagi para ASN adalah desain dan rancangan baru AH (Anwar Hafid) yang akan membentuk birokrasi Sulawesi Tengah lebih mempertajam disiplin, loyalitas dan kinerja. Praktik-praktik jual beli jabatan, perilaku korupsi dan kejahatan jabatan lainnya yang banyak ditemukan di era kepemimpinan masa lalu akan terkubur dengan sendirinya melalui gerakan salat berjamaah di masjid.
Publik membaca pikiran dan hati Anwar Hafid adalah sebuah langkah maju yang sangat diyakini akan membawa rakyat Sulawesi Tengah lebih sejahtera, maju dan mandiri sebagaimana janji Allah dalam Alquran bahwa dengan Salat akan kuselesaikan masalahmu.
Kalimat yang dikumandangkan oleh muadzin dalam adzan hayyalasholah dan hayyalalfalah adalah panggilan untuk menuju kemenangan, yang dimaknai akan kucukupkan rezekimu, akan kuselesaikan masalahmu, akan kutempatkan engkau dalam jabatan yang engkau inginkan, dan lain-lain.
Dan lebih dari itu Anwar Hafid meyakini dan banyak yang berkeyakinan bahwa masalah-masalah pemerintahan di Sulawesi Tengah akan dapat diselesaikan dengan baik dan benar melalui Salat yang terinspirasi dari Gaya Spiritual Anwar Hafid.
Kolaborasi Disiplin, Loyalitas Dan Kinerja
Argumentasi mendasar dapat dikemukakan bahwa dalam birokrasi di semua tingkatan pemerintahan membutuhkan ASN yang disiplin.
Hanya dengan disiplin dalam semua aspek, birokrasi dapat berjalan secara benar dan baik. Faktor disiplin menjadi kunci utama dalam birokrasi.
Banyak faktor atau variabel yang mempengaruhi disiplin seseorang, tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengaruh Kepemimpinan terhadap disiplin sangat besar sebagaimana hasil penelitian Marzuki ( 2003) dan hasil penelitian Sudirman ( 2008).
45 % disiplin dipengaruhi oleh Kepemimpinan sebagaimana hasil penelitian diatas.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya.
Maka, jika salatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil.
Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’
Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan).
Namun keutamaan dalam menjalankan shalat adalah di awal waktu.
Hendaknya kita selalu berusaha untuk selalu shalat di awal membiasakan diri shalat di awal waktu membentuk karakter kita menjadi disiplin.
Sesuai dengan hadits yang menyatakan bahwa shalat di awal waktu itulah yang paling afdhol.
Dari hadist diatas menunjukkan bahwa instruksi atau perintah gubernur Anawar Hafid sangat urgent dan relevan. Apalagi sangat diyakini bahwa sholat itu menghindari perbuatan keji dan munkar.
ASN tidak hanya dituntut disiplinnya, tetapi juga Kinerja nya atau hasil kerja.
Hasil penelitian Muhammad Zainal Abidin ( 2013) tentang keterkaitan salat dengan kinerja menunjukkan bahwa pengaruh salat terhadap kinerja adalah sebesar 67,5 % dan sisanya sebesar 32,5 % dipengaruhi oleh disiplin.
Hal ini membuktikan bahwa dua variabel dependen yaitu kinerja dan disiplin sangat dipengaruhi oleh salatnya.
Hasil penelitian Wahyu Bagja Supemi (2018) menunjukkan bahwa pengaruh salat terhadap hasil belajar adalah sebesar 73,6 %.
Di era kecerdasan buatan (AI) saat ini dimana kemajuan teknologi informasi yang sangat canggih, banyak manusia yang menghabiskan waktunya di depan komputer dan laptop bahkan waktunya habis bermain computer, laptop dan HP.
Tidak hanya masyarakat biasa, tetapi juga para ASN dalam kesehariannya, tidak untuk kerja yang produktif tetapi dihabiskan dengan bercengkerama dengan kecanggihan teknologi informasi yang bernama HP.
Anwar Hafid sebagai gubernur yang baru ingin merubah kebiasaan-kebiasaan buruk para ASN dengan menggagas gerakan salat berjamaah dilingkungan pemerintahan di Sulawesi Tengah.
Gaya Spritual Anwar Hafid Patut Diikuti Bupati dan Wali Kota
Kapasitas AH sebagai Ketua MCMI (Masyarakat Cinta Masjid Indonesia) Sulteng dinilai sangat efektif dalam merubah mental birokrasi di Sulteng.
Sekalipun para bupati dan wali kota bukan bawahan gubernur, tetapi bila ajakan kebenaran dan kebaikan melalui Gerakan Salat Berjamaah di masjid ini dilakukan oleh semua Bupati dan Wali Kota serta jajarannya dapat diprediksi bahwa Birokrasi Pemerintahan di Sulawesi Tengah akan mendapatkan prestasi dan kinerja pemerintahan yang membanggakan.
Selain prestasi yang membanggakan juga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Sulawesi Tengah, sehingga gaya kepemimpinan AH tidak saja mempengaruhi para birokrat atau ASN tetapi akan berdampak kepada ummat Islam Sulawesi Tengah untuk memakmurkan masjid yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan.
Para Bupati dan walikota se Sulteng yang ingin melakukan perubahan, kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya, maka gagasan/ide yang dilakukan bapak Gubernur Sulteng perlu diikuti dan sangat diyakini, seluruh rakyat akan mendukung pemimpin nya yang menempatkan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan yang utama mengalahkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.
Gaya Spiritual Anwar Hafid, Dirigen Bupati dan Wali Kota Se-Sulteng
Selain mengusung semangat religiusitas dalam pola kepemimpinannya, gaya spiritual Anwar Hafid dalam memimpin mengusung semangat kolaboratif. Anwar Hafid berupaya “merangkul” 13 bupati/wali kota se-Sulteng untuk sinergi dalam program kerja.
Rapat koordinasi (Rakor) evaluasi capaian program prioritas nasional Astacita yang digelar pada Senin (17/11/2025), di Estrella Hotel and Conference Center, Luwuk Selatan, Kabupaten Banggai, salah satu langkah untuk mensinergikan program kerja provinsi dengan 13 kabupaten/kota di Sulteng. Anwar Hafid selaku Gubernur Sulteng tampil sebagai dirigen memberi solusi kepada 13 bupati dan wali kota se-Sulteng di tengah kesulitan fiskal akibat pemotongan anggaran dari pemerintah pusat.
Sulteng Berjamaah
Sulteng Berjamaah semakin masif implementasinya menyusul Program 9 BERANI di mana didalamnya tercantum BERANI Berkah, sudah memiliki payung hukum dalam bentuk Perda. BERANI Berkah adalah salah satu program unggulan yang merajut benang emas antara kekuatan spiritual dan kearifan lokal yang hidup di Sulteng.
“Kekuatan religi dan kearifan lokal ibarat langit dan bumi kalau bumi dan langit menyatu, Sulawesi Tengah akan sejahtera,” kata Gubernur Anwar Hafid dalam suatu pertemuan.
Program BERANI Berkah dengan implementasi Sulteng berjamaah adalah upaya pemerintah mengajak umat beragama untuk konsisten meramaikan rumah-rumah ibadah sebagai pusat pembinaan mental spiritual.
“Berjamaah berarti bersama-sama,” urainya bahwa dalam konteks ibadah, berjamaah ialah aktivitas ibadah umat beragama secara bersama-sama.
Lanjut gubernur lagi, ramainya rumah ibadah merupakan salah satu indikator kemajuan wilayah selain indikator lain seperti pasar sebagai pusat perekonomian dan lapangan atau ruang terbuka sebagai denyut kehidupan sosial masyarakat. ***
***Oleh Dr. Syarif Makmur, M.Si (Arsiparis Ahli Utama Kementerian Dalam Negeri)






