Morowali, Teraskabar.id – Haul Guru Tua di Wosu kembali menegaskan perannya sebagai momentum refleksi kolektif masyarakat. Bahkan sejak awal pelaksanaan, Haul Guru Tua di Wosu langsung menghadirkan nuansa religius sekaligus kebersamaan yang kuat. Selain itu, kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, melainkan juga menjadi ruang aktualisasi nilai. Oleh karena itu, Haul Guru Tua di Wosu terus menunjukkan relevansinya di tengah dinamika sosial. Dengan demikian, Haul Guru Tua di Wosu menjadi pengikat spiritual sekaligus penggerak kesadaran pendidikan di Morowali.
Haul ke-58 Guru Tua, Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, digelar di halaman Masjid Nurul Iman Wosu, Kecamatan Bungku Barat, Sabtu (11/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan ribuan jamaah. Tidak hanya itu, masyarakat juga mengikuti rangkaian acara dengan penuh khidmat. Karena itu, suasana religius terasa sejak awal hingga akhir kegiatan.
Tema yang diusung, “Dari Wosu Menuju Sulteng Nambaso: Guru Tua Sang Arsitek Pendidikan dan Pejuang Kemanusiaan Sepanjang Masa,” memperkuat pesan utama haul. Di satu sisi, tema tersebut mengingatkan pada perjuangan Guru Tua. Di sisi lain, tema ini mendorong masyarakat untuk melanjutkan nilai-nilai pendidikan dan kemanusiaan. Dengan begitu, kegiatan ini tidak hanya mengenang, tetapi juga menggerakkan.
Haul Guru Tua di Wosu: Kehadiran Tokoh dan Rangkaian Kegiatan Penuh Makna
Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka antara lain Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulteng Syarifudin Hafid dan Arnila Moh Ali, serta Wakil Bupati Morowali Iriane Iliyas. Kehadiran para tokoh ini memperlihatkan besarnya pengaruh Guru Tua. Bahkan, lintas generasi tetap menjaga warisan pemikirannya.
Rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan penuh makna. Pertama, panitia menampilkan qasidah yang menggugah suasana. Selanjutnya, Taufik Kambayang menyampaikan ceramah agama yang menekankan pentingnya keteladanan. Kemudian, jamaah bersama-sama membaca Surah Yasin dan tahlil. Akibatnya, kebersamaan spiritual semakin terasa kuat.
Di tengah acara, suasana semakin hangat saat Syarifudin Hafid menyampaikan pantun. Ia menutup sambutannya dengan pesan ringan namun bermakna.
“Jalan-jalan ke Desa Wosu, jangan lupa membeli kenari. Mari kita jaga warisan Guru Tua, agar Sulteng Nambaso segera berdiri,” ujarnya.
Pantun tersebut langsung disambut tepuk tangan meriah. Bahkan, jamaah tampak tersenyum dan menikmati momen tersebut. Dengan demikian, suasana kebersamaan semakin terasa hidup.
Pandangan Wabup Morowali, Iriane Iliyas
Sementara itu, Wakil Bupati Morowali Iriane Iliyas menegaskan pentingnya kegiatan ini. Ia menyebut haul sebagai sarana membangun karakter masyarakat. Selain itu, ia menekankan bahwa Guru Tua merupakan teladan dalam pendidikan dan pembinaan umat.
“Kegiatan ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga menjadi momentum untuk melanjutkan perjuangan beliau dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa kemanusiaan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini memperkuat silaturahmi. Bahkan, masyarakat dapat mempertegas komitmen bersama dalam menjaga nilai perjuangan. Oleh sebab itu, haul menjadi bagian penting dalam pembangunan sosial.
Refleksi dari Pencinta Guru Tua Pada Haul Guru Tua di Wosu
Lebih jauh, Pencinta Guru Tua, Muhammad Azmy, memberikan pandangan mendalam. Ia menilai tema haul sangat relevan bagi masyarakat Morowali. Pasalnya, tema tersebut mencerminkan keberhasilan putra-putri asal Morowali menduduki posisi penting di tingkat provinsi Sulawesi Tengah.
Menurutnya, capaian tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Sebaliknya, keberhasilan itu lahir dari spirit perjuangan Guru Tua. Terlebih lagi, Wosu memiliki nilai historis sebagai titik awal berkembangnya tradisi haul. Karena itu, nilai keikhlasan dan pengabdian terus diwariskan.
Azmy juga menyoroti konsep Tabarruk dalam kehidupan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa keberkahan hadir ketika seseorang melanjutkan perjuangan para wali. Dengan kata lain, keteladanan menjadi kunci utama. Akibatnya, kehidupan masyarakat menjadi lebih bermakna.
Pada akhirnya, Haul Guru Tua di Wosu tidak hanya menjadi agenda tahunan. Sebaliknya, kegiatan ini menjadi pengingat pentingnya pendidikan dan kemanusiaan. Oleh karena itu, dari Wosu, semangat tersebut terus bergerak menuju Sulawesi Tengah yang lebih maju dan berkeadaban. (G).






