
Namun dengan adanya Partai Demokrat sebagai sponsor koalisi dan juga duet, Khoirul memprediksi pasangan Anies-AHY akan mendapat dukungan dari partai politik lain yang berada di garis ideologi nasionalis dan khususnya dari garis ideologi politik Islam.
“Mereka akan merapat, untuk mendapatkan efek ekor jas (coattail effect). Efek ekor jas itu terbentuk jika partai politik pengusung nama Capres-Cawapres memiliki chemistry dan paradigma yang sama, sehingga tidak ada kegamangan yang menjadi sumber split ticket voting,” jelasnya.
Faktor kedua yang juga teramat penting, menurut Khoirul, adalah sikap tegas Anies terhadap politik. Dia memperkirakan, apabila mantan Mendikbud itu tak bergabung dengan satu parpol, maka besar kemungkinan deklarasi dukungan dari parpol akan membanjiri pasangan Anies-AHY.
“Selama Anies tidak mendeklarasikan diri masuk ke partai politik, maka Anies bisa menjadi pemersatu bagi partai-partai pengusungnya,” katanya.
Di samping itu, Khoirul juga melihat faktor pendukung yang cukup mempengaruhi jalannya konsolidasi koalisi parpol. Yaitu, ada Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono di belakang AHY, dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla di balik Anies.
“Jika duet ini digarap dengan baik, bisa saja duet Anies-AHY mengulang kemenangan SBY-JK sebagaimana terjadi di Pemilu 2004 lalu,” demikian Khoirul. (teraskabar)






