Selasa, 27 Januari 2026
News  

Jelang Hari Santri 2024, PW ISNU Sulteng Gandeng Kesbangpol Gelar Seminar Pembauran Kebangsaan

Palu, Teraskabar.id – Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Sulawesi Tengah (Sulteng) bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Palu menggelar seminar pembauran kebangsaan.

Kegiatan dalam rangka Hari Santri Nasional ini bertemakan tentang “Entitas Santri di Tengah Modernisasi Kebangsaan, Refleksi Jihad Santri Mengisi Kemerdekaan Indonesia”,bertempat di Gedung Madinah, Asrama Haji, Kota Palu, Kamis(19/10/2023).

Ketua ISNU Sulteng, Dr Sahran Raden mengatakan, sebenarnya santri ini bukan hanya sebagai satu institusi lembaga pendidikan saja, tapi santri itu bisa dimaknai lebih luas sebagai suatu entitas masyarakat.

“Karena disana ada banyak pembauran ketika dalam pesantren mereka membaur dalam berbagai macam suku daerah asal masing-masing, tapi mereka membaur bersama dia punya budaya, bahasa yang berbeda-beda, maka itu pesantren dan santri menjadi satu entitas baru,”  kata Sahran.

“Kalau kita melihat masyarakat majemuk itu ada di pesantren, maka itu sebenarnya suatu entitas kebangsaan itu contohnya ada di pesantren. Maka itu kita mengangkat tema itu seiring dengan hari santri dan masalah-masalah kebangsaan yang timbul saat ini,” tutur Sahran.

Selain itu, Kaban Kesbangpol Kota Palu, Ansyar Sutiadi menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Palu saat ini sementara mendorong agar nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme bisa tumbuh dan membudaya.

Hal tersebut diwujudkan salah satunya dengan menjalin kerjasama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, sehingga mengantarkan Kota Palu menjadi role model pembinaan Pancasila.

“Salah satunya ditandai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza,” ucap Kaban.

Dia menyatakan, Pemerintah Kota Palu terus menjalin tawaran-tawaran kerjasama dalam hal penguatan nilai-nilai Pancasila, sehingga di beberapa kesempatan Badan Kesbangpol Kota Palu melibatkan komunitas-komunitas agar nilai-nilai kebangsaan itu terawat dengan baik.

  Medio Juli 2025, ASN Pemprov Sulteng Wajib Kenakan Kemeja Putih dan Kopiah Setiap Hari Jumat

Dalam kesempatan ini, Kaban mengajak para sarjana Nahdlatul Ulama untuk menciptakan kondisi di tahun politik yang aman, damai, dan tidak terjadi perpecahan.

“Demokrasi itu penting, politik itu penting, tapi kemanusiaan lebih penting dari semuanya,” ungkap Kaban mengutip perkataan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Kaban berharap, walaupun pilihan berbeda-beda, tapi sebagai sesama muslim, patut menjaga nilai-nilai kebhinekaan dan persatuan, sehingga Indonesia akan tetap ada. (sukri/teraskabar)