Selasa, 13 Januari 2026
News  

Difasilitasi Balai Bahasa Sulteng, Dokter Estetik, Nur Awaliah Maharani Terbitkan Buku Cerita Anak Berbahasa Kaili

Difasilitasi Balai Bahasa Sulteng, Dokter Estetik, Nur Awaliah Maharani Terbitkan Buku Cerita Anak Berbahasa Kaili
Nur Awaliah Maharani foto bersama ibundanya usai seremoni peluncuran 32 buku hasil terjemahan bahan bacaan anak 2023 yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Sulteng, Sabtu (16/12/2023). Foto: Teraskabar.id

Palu, Teraskabar.id – Raut muka Nur Awaliah Maharani terlihat ceria menanti momen untuk tampil ke atas panggung menerima buku hasil karyanya, berupa Cerita Anak berbahasa daerah Sulawesi Tengah (Sulteng).

Dokter muda lulusan Universitas Tadulako ini merupakan salah satu dari 32 penulis yang diundang pada peluncuran 32 Buku Cerita Anak 2023 berbahasa daerah Sulteng. Ia bersama 31 penulis muda Sulteng pada hari itu, Sabtu (16/12/2023), menerima buku hasil karya mereka masing-masing dalam rangkaian Peluncuran 32 Buku Terjemahan Bahan Bacaan Anak 2023 yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sulteng di Sriti Convention Hall.

Hari itu, Nur Awaliah menggunakan busana etnis Kaili warna hitam dipadu jilbab warna kuning keemasan. Busana adat yang digunakan oleh perempuan kelahiran Ujung Pandang, 16 Maret 1995 itu diselaraskan dengan buku yang dia tulis dalam Bahasa Kaili (Ledo). Ujung Pandang kini berubah nama menjadi Makassar ibukota Provinsi Sulawesi Selatan.

Selain menerima buku hasil karyanya yang telah terdaftar di HAKI, Nur Awaliah Maharani juga menerima uang pembinaan sebagai penulis muda dari Balai Bahasa Provinsi Sulteng.

Nur Awaliah Maharani ditemui usai seremoni peluncuran 32 buku hasil terjemahan untuk bahan bacaan anak 2023, memberi apresiasi kepada Balai Bahasa Provinsi Sulteng yang telah memfasilitasi dirinya dan 31 penulis lainnya dari berbagai daerah di Sulteng ,sehingga bisa menghasilkan buku cerita anak berbahasa ibu dari domisili masing-masing penulis.

Nur Awaliah Maharani yang saat ini berkarir sebagai dokter estetika di Kota Palu,  sangat bersyukur bisa merampungkan sebuah buku cerita anak berbahasa Kaili (Ledo) dengan judul Pomore Kada (Permainan Kaki). Buku tersebut rampung setelah proses panjang, kurang lebih 9 bulan. Rangkaian prosesnya dimulai dengan pelaksanaan bimbingan teknis kepenulisan. Kemudian memasuki masa menulis, dilanjutkan penyuntingan,  uji keterbacaan, serta penyuntingan akhir. Tahap berikutnya adalah  penerbitan,  hingga masuk pada fase terakhir, peluncuran buku yang seluruhnya difasilitasi Balai Bahasa Provinsi Sulteng.

“Karena sudah tidak pernah ada yang mainkan ini (Pamore Kada) lagi permainan, sudah banyak anak-anak yang lebih memilih main gadget ketimbang permainan kaki,” ujarnya menjawab alasan memilih judul Pamore Kada.

Rangkaian proses yang membutuhkan waktu cukup panjang untuk menghasilkan satu buku cerita anak tersebut, bagi Nur Awaliah Maharani bisa dilaluinya tanpa harus mengganggu aktivitasnya sebagai seorang dokter estetika di FR Beauty Clinik Palu.

“Banyak kendalanya tapi tidak membuat semangat menulis itu turun, tidak membuat semangat menulis itu hilang karena saya sangat suka menulis,” kata putri dari H. Hasrullah, mantan Kacab Toyota Kalla Juanda Palu itu.

Nur Awaliah mulai menulis sejak tahun 2009 dan kini telah melahirkan 80 judul puisi dan 15 judul cerpen yang telah dicetak oleh media cetak di Makassar, Sulawesi Selatan dan Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Saat aktif kuliah di Fakultas Kedokteran, Nur Awaliah Maharani mengaku masih  tetap aktif menulis sehingga bisa menerbitkan tiga judul novel. Tiga novel tersebut, masing-masing berjudul Two Queens, Memories, dan Secret.

Meskipun aktif sebagai dokter estetik tapi beberapa kali masih terlibat sebagai mentor kepenulisan untuk para pelajar. (teraskabar)