Minggu, 25 Januari 2026

Pemukim Ilegal Yahudi: Tidak Ada Perayaan Haggada Tanpa Gencatan Senjata dan Pengembalian Tawanan!

Pemukim Ilegal Yahudi: Tidak Ada Perayaan Haggada Tanpa Gencatan Senjata dan Pengembalian Tawanan!
Pemukim illegal Yahudi yang selamat dari Kibbutz Be'eri berkumpul di meja Seder di Hostages Square melakukan aksi protes berapi-api di depan kediaman Perdana Menteri Israel, Benyamin Netranyahu, Senin malam (22/4/2024). Foto: Istimewa

Gaza, Teraskabar.id – Pemukim illegal Yahudi yang selamat dari Kibbutz Be’eri berkumpul di meja Seder di Hostages Square melakukan aksi protes berapi-api di depan kediaman Perdana Menteri Israel, Benyamin Netranyahu, Senin malam (22/4/2024).

Kibbutz (קיבוצ) merupakan sebutan bagi tempat-tempat pemukiman ilegal dengan sistem kepemilikan bersama dan struktur demokratis dalam bersosial.

Israel peringati Paskah di bawah bayang-bayang agresi selama 200 hari, tidak adanya 133 sandera di Gaza, sementara ribuan pemukim ilegal di Tel Aviv terus berdemonstrasi menuntut kesepakatan pertukaran sandera dan dilakukannya gencatan senjata.

Baca jugaDewan Keamanan PBB Setujui Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

Thomas, salah satu pemukim illegal di Kibbutz mengungkapkan kekecewaannya, “Kami telah kehilangan banyak orang. Enam bulan hadapi ketidakpastian yang luar biasa, tidak hanya mengenai nasib orang yang mereka cintai, tetapi juga masa depan Kibbutz dan pengkhianatan rezim Netanyahu yang tidak lakukan gencatan senjata dan pengembalian tawanan perang!”.

Hari raya Paskah Yahudi dimulai di Israel pada Senin malam (22/4), dengan berkumpul bersama untuk makan malam di meja Seder yang diadakan tahun ini di bawah bayang-bayang perang dengan Hamas dan 133 sandera yang masih ditahan.

Orang Yahudi orthodox melakukan Haggadah pada malam Paskah, yang menceritakan kisah kebebasan bangsa Israel dari perbudakan dan eksodus dari Mesir.

Pada tanggal 7 Oktober, 100 anggota Kibbutz Be’eri tewas dan 30 berhasil disandera oleh pejuang Gaza. Sebelas dari sandera masih berada di Gaza, enam tewas di penjara akibat serangan udara Zionist dan 13 lainnya dibebaskan pada akhir November lalu. Kurang lebih pemukim illegal di Kibbutz berjumlah sekitar 1.000 kepala keluarga pada tanggal 6 Oktober tahun lalu.

  Koperasi Merah Putih: Inisiatif Rakyat Atau Desain Elit?

Kini anggota keluarga yang masih hidup telah menjadi pengungsi internal selama 200 hari terakhir.
Peringatan tersebut, yang hanya diperuntukkan bagi anggota Kibbutz Be’eri, mencakup seruan yang jelas kepada otoritas Israel untuk lakukan segala kemungkinan membawa pulang para sandera dan gencatan senjata.

Beraninya Netanyahu Merayakannya

Sementara itu, beberapa keluarga para sandera dan ratusan pendukung Kibbutz mengadakan protes “non-Seder” di luar rumah pribadi Netanyahu di Kaisarea. Para demonstran meminta perdana menteri mencapai kesepakatan untuk membebaskan para sandera.
“Tidak ada kebebasan selama korban penculikan masih berada di tangan Hamas. Netanyahu, yang gagal melakukan perang dengan baik dan mengembalikan para tawanan, tidak dapat terus memimpin,” kata mereka dalam sebuah pernyataan.

“Bagaimana mungkin keluarga Netanyahu merayakannya di sebuah vila mewah, ketika ada beberapa ‘warga’ Israel yang ditahan di terowongan,Hamas dan menanggung kelaparan”. Kesal para pengunjuk rasa.

Baca jugaRangkaian Pembersihan Etnis, Pemukim Yahudi Menyerang Warga Palestina di Enam Desa di Tepi Barat

Ayala Metzger, ayah mertuanya Yoram Metzger, 80, ditahan oleh Hamas di Gaza sejak 7 Oktober lalu, hal imi menandai hari-hari sejak ribuan pejuang Hamas menembus keamanan Israel sekitar, di mana 1.200 orang tewas sementara 253 lainnya dibawa ke Gaza sebagai tawanan perang.

Dengan teriakan “Bawa mereka pulang sekarang!” para pengunjuk rasa memercikkan cat merah ke meja “non-Seder”, mereka alih-alih menumpahkan anggur merah tradisional saat mengenang Sepuluh Tulah saat pembacaan Haggadah.

Di akhir upacara, pengunjuk rasa membakar meja simbolis Seder di tengah teriakan “Setujui genjatan senjata sekarang!”

Kursi kosong

Tahun ini, banyak keluarga di Israel meninggalkan kursi kosong di meja untuk mewakili mereka yang terbunuh atau disandera dalam serangan Hamas.

  Militer Israel Akui Kekuatan Hamas di Gaza Utara Masih kokoh Walau Terus Dibombardir

Putra Rachel Goldberg-Polin yang berusia 23 tahun, Hersh, ditangkap dan dibawa ke Gaza pada 7 Oktober ketika pejuang Hamas menyerang festival musik Supernova di Israel selatan.

Dia mengatakan, peringatan Paskah tahun ini akan lebih bermakna dari sebelumnya dan mendesak pemerintah untuk menemukan cara memulangkan para sandera.
“Semua hal simbolis yang kami lakukan di Seder akan memiliki makna yang lebih mendalam tahun ini,” kata Goldberg-Polin, warga negara ganda Israel dan Amerika Serikat, kepala wartawan.

Forum Sandera dan Keluarga Hilang Israel, organisasi yang mewakili sebagian besar keluarga para sandera, mendesak keluarga untuk menempatkan kursi kosong di meja Seder mereka dengan potret seorang sandera.

Baca jugaPengadilan Kriminal Internasional Memproses Penerbitan Surat Perintah Penangkapan Internasional terhadap Netanyahu

Goldberg-Polin mengatakan dia mengharapkan gencatan senjata di Gaza, agar para sandera kembali dan mengakhiri “rawa kesengsaraan dan trauma.”
“Sesuatu yang kita ingin semua pemimpin kita lakukan, semuanya, adalah membuat keputusan untuk lebih peduli dan mencintai rakyatnya sendiri daripada membenci musuhnya,” katanya.

Diketahui 129 sandera yang diculik pejuang Hamas pada 7 Oktober masih berada di Gaza – tidak semuanya hidup – setelah 105 warga sipil dibebaskan dari tawanan Hamas selama gencatan senjata selama seminggu pada akhir November, dan empat sandera telah dibebaskan sebelumnya.

Di lain sisi, Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan update hari ke-199 genosida Israel ke Jalur Gaza. Serangan udara Zionist target 6 pembantaian terhadap warga sipil di Jalur Gaza, 54 syahid dan 104 luka-luka selama 24 jam terakhir.

Jumlah korban genosida Israel terus meningkat, 34.151 telah syahid dan 77.084 orang terluka sejak tanggal 7 Oktober lalu. Di mana 73% korban genosida merupakan wanita & anak-anak. Adapun korban jiwa akibat malnutrisi dan dehidrasi meningkat menjadi 30+ syahid dan sebagian besar anak-anak. (teraskabar)

  Operasi Madago Raya Kembali Diperpanjang hingga Maret 2025