Minggu, 25 Januari 2026

Desa Towale Donggala Raih Rekor MURI Jumlah Penenun Terbanyak

Desa Towale Donggala Raih Rekor MURI Jumlah Penenun Terbanyak
Kades Wisata Towale, Subhan Thahir saat menerima rekor MURI dari Menkraf Sandiaga Salahudin Uno, kala itu. Foto: Jalu

Donggala, Teraskabar.id– Desa Wisata Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, menjadi satu-satunya desa wisata di Sulawesi Tengah yang menerima rekor dunia dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Desa Towale juga meraih juara dua sebagai desa dengan souvenir terbaik yakni hasil tenun sarung Donggala.

Pemberian rekor MURI ke desa Towale bersamaan dengan 13 Desa Wisata lainya di Indonesia peserta Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 berkat jumlah penenun terbanyak.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) kala itu, Sandiaga Salahuddin Uno saat menyerahkan penghargaan mengapresiasi dukungan dari MURI yang telah menetapkan penghargaan bagi desa-desa wisata di Indonesia.

Kepala Desa Wisata Towale, Subhan Thahir dihubungi mengaku bangga atas penghargaan yang diberikan oleh MURI kepada desanya. Ia mengatakan, hal itu menjadi bukti bahwa masyarakat di desanya masih melestarikan warisan leluhur yakni menenun.

“Pemberian rekor MURI ini sebagai bukti bahwa di desa Wisata Towale masih menjaga dan melestarikan kebudayaan tenun. Meskipun belum ada perhatian serius dari pemerintah,” katanya, Kamis (13/2/2025).

Subhan mejelaskan, pada tahun 2020 pemerintah desa Towale telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) soal jumlah penenun. Yang tercatat secara resmi tahun 2020 sebanyak 129 penenun. Namun jumlah itu semakin meningkat setelah mendapatakan rekor MURI yakni menjadi 176 penenun.

“Di tahun 2025 bertambah lagi menjadi 223 penenun. Progresnya tiap tahun akan naik. Kami sudah bentuk wadahanya dengan nama Kelompok tenuj Yamamore 1 dan Yamamore 2,” jelasnya.

Kendati demikian, ungkan Subhan yang menjadi kendala bagi para penenun di desanya soal bahan baku. Subhan meminta Pemkab Donggala dan Propinsi Sulteng membuat program penanaman ulat sutra agar bahan bakunya tidak lagi dipesan dari Surabaya, Jawa Timur.

  Jemaah Haji Sulteng Siap Hadapi Puncak Haji 1445 Hijiriyah

“Sangat disayangkan apabila tenun terancam punah karena minimnya usaha pelestarian. Kami mendorong Pemkab Donggala dan Pemprov Sulteng untuk membuat program penanaman ulat sutra. Pasalnya bahan baku untuk penenun di Towale kurang memadai. Sampai hari ini penenun memesan bahan baku dari Surabaya,” katanya. (jalu/teraskabar)