Palu, Teraskabar.id – Dukungan dana sebesar Rp1,7 Triliun dari PT Mega Corpora ke PT Bank Pembangunan Daerah Sulteng atau PT Bank Sulteng, bukan dalam bentuk uang tunai melainkan komitmen jaminan kepada bank kebanggaan rakyat Sulteng itu.
“Dukungan jaminan Mega Corpora sebesar Rp1,7 triliun memang bukan dalam uang tunai,” kata Direktur Utama (Dirut) Bank Sulteng Ramiatie melalui Direktur Kepatutan Yudy Koagow kepada wartawan di kantornya, Kamis (15/5/2025).
Pemberian jaminan permodalan tersebut sebagai upaya penguatan struktur permodalan perbankan melalui pembentukan Kelompok Usaha Bank (KUB) dengan menunjuk PT Bank Mega selaku pelaksana perusahaan induk dan Bank Sulteng selaku perusahaan anak.
Hal itu untuk menindaklanjuti pemenuhan kewajiban pelaksanaan konsolidasi Bank sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum. Sebab, Bank Sulteng saat itu baru mampu menyiapkan modal inti minimun sebesar Rp1,3 Triliun. Sedangkan kewajiban pemenuhan modal inti minimum sebesar Rp3,00 triliun per Januari 2024.
Alasan dukungan dana bukan dalam bentuk fresh money, karena kalau secara tunai, maka Mega Corpora menjadi pemegang saham terbesar, sehingga otomatis menjadi pengendali Bank Sulteng.
“Untuk menghindari itu, maka mega Corpora hanya sebagai penjamin agar modal inti minimun mencapai Rp3 triliun sebagaimana dipersyaratkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi apapun yang terjadi terkait dengan bank sulteng mega korpora yang menjamin termasuk penambahan modal Rp1,7 triliun,” ujar orang kepercayaan Chaerul Tanjung itu.
Yudy menjelaskan, bila Mega Corpora tidak melakukan penguatan struktur permodalan perbankan sebagaimana dipersyaratkan dalam POJK Nomor 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum, maka Bank Sulteng harus turun kelas menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
“Kalau Mega Corpora mencabut sahamnya atau tidak menjamin penambahan modal sebesar Rp1,7 triliun maka bank Sulteng turun kelas menjadi BPR,” ujarnya.
“Kita patut berterima kasih ke Mega Corpora karena mau membantu memberikan jaminan ke Bank Sulteng sehingga modal inti minimun mencapai Rp3 triliun,” jelas Yudy. (red/teraskabar)







