Palu, Teraskabar.id – PT Citra Palu Minerals (CPM) sedang mengembangkan metode eksploitasi tambang emas bawah tanah atau underground mining di kawasan kontrak karya di wilayah Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Tahap studi terhadap persiapan eksploitasi underground mining ini berlangsung sejak tahun 2024. Namun, metode eksploitasi tambang emas bawah tanah di lokasi tambang emas Poboya, tidak serta merta dilakukan, telah dirancang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sejak 2017 silam.
“Ini yang kami mau sampaikan bahwa CPM sedang men-depolove underground atau tambang bawah tanah agar masyarakat kota Palu mengetahuinya agar tidak timbul pemehaman keliru soal metode tambang bawah tanah ini,” kata General Manager (GM) External Affairs and Security PT Citra Palu Minerals (CPM), Amran Amier pada seremoni Kick-off GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), Rabu (28/5/2025), di Balai Kelurahan Talise Valangguni, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.
Pernyataan tersebut disampaikan Amran Amir menyikapi kehawatiran penerapan metode underground mining di wilayah Poboya karena berada di jalur patahan sesar Palu Koro yang sangat rentan terhadap gempa.
Justeru dengan metode underground mining tersebut kata Amran, CPM memitigasi dampak bencana. “Metode penggalian yang dilakukan selama ini oleh penambang, contoh kecil metode eklpoitasi tambang bawah tanah, dan tidak terpengaruh saat gempa 2018,” kata Amran.
Pemahaman keliru soal dampak eksploitasi underground mining itu, menurut Amran, perlu ia luruskan karena kekurangpemahaman masyarakat mengenai metode pertambangan tersebut. Bahkan, menurut Amran, pengembangan metode underground mining jauh lebih aman dibanding metode open pit.
“Kalau open pit itu berarti tambang terbuka, digali semua gunung sehingga diratakan semua,” ujarnya.
Lain halnya dengan metode tambang bawah tanah, eksploitasinya dilakukan selektif mining.
“Selektif mining kalau bahasa sederhananya hanya mengambil di bagian uratnya. Pengambilannya tidak selebar dengan metode pit mining. Kira kira lebarnya selebar panggung ini saja (Balai Pertemuan Kelurahan Talise Valangguni). Selebihnya untuk manuver alat berat dan truk,” ujarnya.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Amran Amir menegaskan, bahwa kehadiran CPM bukan untuk memberi dampak buruk bagi masyarakat Kota Palu, tapi ingin memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pemerintah dan masyarakat kota palu, tentunya untuk pengembangan investasi di wilayah ini. (red/teraskabar)







