Morowali, Teraskabar.id – Dari air kelapa menjadi berkah. Ungkapan ini tepat menggambarkan semangat lima ibu rumah tangga di Desa Laroue, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali, yang sukses mengolah air kelapa yang semula hanya terbuang sia-sia, menjadi produk bernilai ekonomis tinggi: nata de coco alami.
Usaha ini bermula pada Februari 2024, ketika sekelompok pendamping UMKM dari Econatura yang bekerjasama dengan PT Vale, datang ke desa mereka untuk menawarkan pelatihan usaha kecil-kecilan. Setelah menyatakan kesediaan, kelima ibu rumah tangga itu, yakni Nurul Husna, Yusniar, Mawarni, Darni, dan Nurlia, menjalani pelatihan intensif selama enam bulan.
“Kami lihat air kelapa di sini dibuang begitu saja, tidak ada harganya. Sangat disayangkan. Dari situ kami terdorong untuk mengubahnya jadi sesuatu yang bermanfaat,” tutur Nurul Husna, Ketua Kelompok UMKM Bahonala Nata De Coco kepada Teraskabar, Senin (23/6/2025).
Produksi nata de coco dilakukan dengan teliti dan higienis. Air kelapa dimasak hingga suhu 90⁰C bersama campuran gula, ZA, asam asetat, dan sedikit benzoat. Cairan tersebut lalu dituangkan ke nampan dan ditutup dengan kertas koran yang diikat rapat menggunakan karet. Dalam waktu sepekan, lapisan nata mulai terbentuk.

Setelah itu, nata dipanen, dipotong dadu kecil, dan dicuci tiga kali menggunakan air bersih tak berbau. Proses pemasakan dilakukan kembali sebanyak dua hingga tiga kali, sebelum dimasak terakhir kali menggunakan air galon hingga matang sempurna. Produk akhir kemudian dikemas setelah didinginkan dalam loyang stainless.
“Bahan baku Bahonala Nata De Coco sebagian besar dari luar Morowali, kecuali air kelapa. Tapi produk kami sangat alami, tanpa bahan pengawet,” jelasnya.
Salah satu kendala utama adalah faktor cuaca yang mempengaruhi pertumbuhan nata. “Kalau cuaca tidak menentu, nata bisa gagal tumbuh. Kami siasati dengan memperbanyak bibit,” tambahnya.
Meski masih dipasarkan terbatas di rumah produksi dan melalui media sosial seperti Facebook serta WhatsApp, produk ini telah mendapat respon positif. “Banyak yang bilang produk kami lebih enak dari nata de coco yang dijual di minimarket,” ujar Nurul Husna bangga.
Produk ini juga telah mengantongi sertifikasi halal. Namun, izin P-IRT belum bisa diberikan karena produk tak mampu bertahan lama di suhu ruangan. Meskipun demikian, para pelaku usaha ini tidak patah semangat. Mereka bahkan sudah dua kali mengikuti pelatihan kewirausahaan dari Dinas Koperasi dan UMKM.
Secara ekonomi, hasil penjualan sudah bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga harian, seperti membeli bumbu dapur. “Alhamdulillah, dari hasil penjualan kami bisa belanja kebutuhan dapur tanpa harus mengandalkan uang suami,” katanya.
Kelima ibu ini memiliki harapan besar agar produk mereka bisa menembus pasar yang lebih luas, termasuk minimarket. Mereka juga berharap adanya dukungan dan bantuan lebih dari pemerintah.
“Jangan buta melihat kami pelaku UMKM. Kami ini sebenarnya wajah keberhasilan daerah. Kalau kami berhasil, daerah juga ikut naik,” tutupnya dengan penuh harap.
Semangat dan kerja keras para ibu-ibu di Laroue ini menjadi bukti nyata bahwa potensi lokal, jika dikelola dengan serius dan diberi ruang berkembang, bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi baru yang membanggakan daerah. (Ghaff Teraskabar)






