Oleh Nursalim Z.A. (Ketua Yayasan Tepe Asa Morowali)
DI TENGAH pesatnya perkembangan industri di Morowali, khususnya dalam lingkup kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kebutuhan akan penguatan kapasitas sumber daya manusia lokal semakin mendesak. Dalam konteks inilah, kami menilai bahwa sudah saatnya IMIP berinisiatif membangun Mandarin Learning Centre di Morowali, Sulawesi Tengah.
Langkah ini jauh lebih strategis dibanding hanya mendirikan Asean-China Centre (ACC) di Makassar, seperti di Universitas Hasanuddin, yang dalam praktiknya tidak memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas masyarakat Morowali. Betul bahwa pusat-pusat studi seperti ACC memiliki nilai penting dalam menjalin kerjasama regional dan akademik, namun bagi masyarakat lokal Morowali, manfaat nyata dari keberadaan lembaga semacam itu masih terasa sangat minim, bahkan nyaris tidak menyentuh kebutuhan dasar mereka.
Sebaliknya, keberadaan Mandarin Learning Centre di jantung kawasan industri Morowali akan memberi dampak konkret dan berkelanjutan. Di tengah realitas kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam sektor industri pengolahan logam, kemampuan berbahasa Mandarin bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar untuk bisa bersaing dan berkembang.
Program-program kerja sama bidang metalurgi dan sumber daya kelautan yang digagas oleh ACC mungkin memiliki nilai jangka panjang, namun belum tentu memberikan hasil optimal dalam waktu dekat. Sedangkan kebutuhan mendesak saat ini adalah memastikan bahwa putra-putri daerah Morowali tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Mereka perlu dibekali keterampilan bahasa yang relevan dengan dunia kerja, dan dalam konteks industri saat ini, bahasa Mandarin menjadi salah satu kunci utama.
Kami membayangkan Mandarin Learning Centre ini bukan sekadar tempat kursus biasa, melainkan pusat pelatihan bahasa yang didesain secara komprehensif—menggabungkan pendekatan budaya, teknik komunikasi bisnis, hingga pemahaman dasar mengenai norma kerja lintas budaya. Dengan dukungan IMIP, lembaga ini dapat menjadi embrio lahirnya generasi emas Morowali: anak-anak muda yang tidak hanya tangguh secara fisik, tapi juga mumpuni secara intelektual dan mampu bersaing secara global.
Tentu saja skema pendirian dan operasional lembaga ini dapat dibahas bersama. Yayasan kami, dan saya yakin banyak pihak lainnya, siap menawarkan konsep terbaik apabila IMIP menunjukkan keseriusannya dalam membangun sumber daya manusia daerah.
Pesan penting kami sederhana: jangan membangun pusat-pusat pendidikan yang terlalu jauh dari masyarakat yang paling membutuhkannya. Lihatlah anak-anak Morowali yang kini harus menghadapi “gempuran” pencari kerja dari luar daerah. Ini bukan sekadar persaingan, melainkan tantangan eksistensial bagi masa depan mereka. Tanpa penguatan kapasitas, masyarakat lokal akan terus terpinggirkan di tanah sendiri. Serangan seperti ini bahkan lebih mengkhawatirkan dari sekadar rudal-rudal yang diluncurkan di wilayah konflik seperti Iran atau Israel. Karena ini menyentuh masa depan generasi kita.
Maka, mari kita buka mata dan hati. Saatnya IMIP menunjukkan keberpihakan nyata. Membangun Mandarin Learning Centre bukan hanya investasi pada bahasa, tetapi pada masa depan Morowali itu sendiri. (***)






