Oleh Abd. Ghafur Halim (Jurnalis Teraskabar)
ADA peristiwa sederhana yang membawa harapan besar, menurut saya. Dua legislator Morowali, Aminuddin Awaludin dan Moh. Sadhak Husain, mendatangi Kementerian PUPR. Bukan untuk seremonial, bukan pula untuk cari panggung, tapi untuk menyampaikan suara rakyat tentang kondisi jalan yang selama ini menjadi luka diam-diam di tubuh Morowali.
Langkah itu memang tampak teknis, konsultasi ke Direktorat Jenderal Bina Marga. Namun bagi saya, rakyat biasa yang setiap hari berjibaku di jalan berdebu atau berlumpur, ini adalah pesan yang dalam, ada niat baik untuk bekerja sama, ada semangat untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Dan yang paling penting, ini adalah tanda bahwa Pilkada sudah selesai. Sudah cukup waktu kita tersandera dalam sekat-sekat politik. Sudah selesai kontestasi, kini waktunya kolaborasi. Jika kemarin ada yang berseberangan karena pilihan politik, hari ini semua harus kembali dalam satu barisan untuk Morowali.
Saatnya membunuh sekat-sekat, mematikan ego sektoral, dan menghidupkan semangat gotong royong. Morowali tak butuh pemenang yang berjalan sendiri. Morowali butuh pemimpin dan wakil rakyat yang mau duduk semeja, berpikir bersama, dan bertindak untuk rakyat yang menanti perubahan.
Apa yang dilakukan legislator kita ini adalah langkah nyata menuju hal itu. Mereka tidak menunggu panggilan, tapi menjemput harapan. Mereka tidak menuding kelemahan, tapi membangun kekuatan bersama. Dan yang lebih penting, mereka mengakui bahwa pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, hanya akan berhasil jika ada sinergi antara legislatif, eksekutif, dan pusat.
Kita mestinya menyambut ini dengan hati terbuka. Karena, membangun Morowali tidak bisa dengan niat satu pihak saja. Dibutuhkan kesadaran bersama bahwa jalan yang menghubungkan satu titik ke titik yang lain juga harus menghubungkan pemimpin ke rakyat. Jalan itu bukan hanya jalur kendaraan, tapi jalur keadilan. Dan hanya bisa dibangun jika semua pihak berjalan dalam irama yang sama.
Saya percaya, jika kolaborasi ini dijaga, maka kita akan menyaksikan perubahan nyata, dari infrastruktur yang membaik, hingga wajah desa yang tak lagi tertinggal. Dari birokrasi yang makin responsif, hingga investasi yang berpihak pada rakyat. Morowali tidak akan maju karena satu orang hebat, tapi karena banyak orang yang saling mendukung dan saling percaya.
Inilah waktu terbaik untuk membuktikan bahwa Pilkada tidak menciptakan musuh, tapi melahirkan tanggung jawab bersama. Bahwa kemenangan sejati bukan di TPS, tapi di hati rakyat yang melihat jalan-jalan dibangun, akses terbuka, dan layanan dasar terpenuhi. Bahwa kolaborasi bukan pilihan, tapi kewajiban moral kita semua sebagai anak daerah yang ingin melihat Morowali tidak hanya dikenal karena tambangnya, tapi karena manusianya yang saling menguatkan.
Sebagai rakyat biasa, saya menaruh harapan besar pada kolaborasi ini. Semoga ia bukan sesaat, bukan basa-basi, tapi menjadi budaya yang kuat dalam membangun daerah. Karena dalam dunia yang terus bergerak, Morowali hanya akan tertinggal jika para pemimpinnya terus bersilang arah. (***)






