Selasa, 13 Januari 2026

Embung Mati Disulap Jadi Sentra Ketahanan Pangan Desa Solonsa Jaya Morowali

Embung Mati Disulap Jadi Sentra Ketahanan Pangan Desa Solonsa Jaya Morowali
Kepala Desa Solonsa Jaya, Kasmon, bersama Ketua BUMDes Bunga Sawit, Yusran M., di lokasi penangkaran ikan program ketahanan pangan Desa Solonsa Jaya, Senin (4/8/2025). Foto: Ghaff.

Morowali, Teraskabar.id– Pemerintah Desa Solonsa Jaya, Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali, resmi menggulirkan Program Ketahanan Pangan dengan memanfaatkan 20 persen Dana Desa untuk membuat unit penangkaran ikan air tawar yang dikelola oleh BUMDes Bunga Sawit. Inisiatif ini sekaligus memanfaatkan embung desa yang dibangun sejak 2018.

Langkah ini sejalan dengan Permendes PDTT Nomor 8 Tahun 2022 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa 2023, yang diperkuat dengan Surat Edaran Bersama antara Kemendes PDTT, Kemendagri, dan Kemenkeu yang mengatur bahwa minimal 20 persen Dana Desa wajib dialokasikan untuk program ketahanan pangan dan hewani.

Ketua BUMDes Bunga Sawit, Yusran M., menyampaikan bahwa pemanfaatan embung ini merupakan bentuk konkret dari kolaborasi Pemerintah Desa dan BUMDes dalam menjawab tantangan ketahanan pangan di desa.

“Melihat kondisi embung yang belum difungsikan sejak 2018, dan peluang alokasi dana ketahanan pangan sebesar 20%, maka kami bersama Pemerintah Desa Solonsa Jaya dan Kabupaten Morowali memutuskan menjadikan embung ini sebagai pusat budidaya ikan air tawar. Alokasi dana sebesar Rp206 juta kami gunakan untuk tahap awal” ujar Yusran di lokasi embung, Senin (4/8/2025).

Yusran menjelaskan bahwa jenis ikan yang akan dibudidayakan antara lain lele dan nila serta ikan air tawar lainnya, dengan segmentasi pasar yang menyasar pedagang grosir lokal hingga perusahaan besar sebagai mitra distribusi jangka panjang. Selain itu, masyarakat sekitar juga akan diberi akses untuk membeli langsung dari BUMDes.

“Kami juga berharap Pemerintah Kabupaten Morowali dapat membantu secara berkelanjutan, baik berupa tambahan anggaran maupun pembinaan teknis dan manajerial, agar unit ini dapat berjalan profesional dan menambah Pendapatan Asli Desa (PADes),” tambahnya.

Senada dengan itu, Kepala Desa Solonsa Jaya, Kasmon, menyatakan bahwa program ini merupakan pelaksanaan amanah dari pemerintah pusat yang wajib ditindaklanjuti secara serius di tingkat desa.

“Hari ini kami turun langsung ke lapangan untuk meninjau langsung progres awal. Alhamdulillah semua berjalan sesuai regulasi. Pihak BUMDes telah memulai pekerjaan sesuai juknis. Kami bersyukur kegiatan ini juga telah diverifikasi oleh Pemerintah Kabupaten,” ungkap Kasmon, yang baru saja menjabat sebagai Kepala Desa Antar Waktu (PAW).

Kasmon menambahkan bahwa sinergi antara Pemerintah Desa, BUMDes, dan masyarakat menjadi fondasi penting agar program ini berhasil dan berdampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan warga.

“Kami berharap setelah tahap awal ini selesai, Pemerintah Kabupaten Morowali dapat memberikan dukungan lanjutan. Tidak hanya dari sisi anggaran, tetapi juga dari sisi fasilitas dan pasar. Kami ingin penangkaran ini jadi ikon ketahanan pangan desa,” pungkasnya.

Dukungan nyata dari Pemerintah Desa juga ditunjukkan melalui penyediaan alat berat untuk pembersihan embung yang dinilai sangat cepat dan responsif.

Program ini tidak hanya menjadi solusi bagi pemanfaatan aset desa yang terbengkalai, tetapi juga menjadi model inovatif pengelolaan Dana Desa untuk ketahanan pangan berbasis potensi lokal, sesuai semangat pemberdayaan desa yang digaungkan pemerintah pusat. (Ghaff/Teraskabar)