Rabu, 28 Januari 2026

Ketua Majelis Adati To Bungku Kecamatan Witaponda Sikapi Video Rektor UNM, Begini Katanya…..

Ketua Majelis Adati To Bungku Kecamatan Witaponda Kabupaten Morowali, Hasarudin Husaini dengan latar belakang tangkapan layar video viral Rektor UNM. Foto : Ghaff
Ketua Majelis Adati To Bungku Kecamatan Witaponda Kabupaten Morowali, Hasarudin Husaini dengan latar belakang tangkapan layar video viral Rektor UNM. Foto : Ghaff

Morowali, Teraskabar.id – Sebuah video Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Karta Jayadi, M.Sn, sempat menuai sorotan setelah beredar di media sosial. Dalam video yang diunggah di akun TikTok @marlina.lhin5, rektor menirukan gerakan membungkuk ketika seorang mahasiswa menyebut dirinya berasal dari Bungku, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Meski menuai berbagai kritik, namun ada pula yang menilai hal itu bukanlah bentuk penghinaan, melainkan hanya candaan ringan dalam forum akademik. Candaan tersebut dilakukan rektor dengan maksud mencairkan suasana dialog agar lebih akrab dan komunikatif dengan mahasiswa.

Ketua Majelis Adati To Bungku Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali, Hasarudin Husaini, yang turut menanggapi hal tersebut, menilai bahwa apa yang dilakukan Rektor UNM tidaklah bermaksud merendahkan masyarakat Bungku.

“Saya sudah tonton videonya berulang-ulang, itu hanya candaan biasa dan tidak bermaksud ada unsur penghinaan terhadap masyarakat Bungku. Candaan itu semata-mata untuk mencairkan suasana dalam proses dialog sehingga tidak terlihat kaku, dalam rangka mencapai kedekatan antara seorang dosen dan mahasiswanya,” ujar Hasarudin saat diwawancarai oleh Teraskabar, Sabtu (16/8/2025).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa candaan itu muncul ketika rektor mendengar penyebutan daerah asal mahasiswa dari Bungku, namun terdengar mirip dengan kata “bungkuk”. Spontan, sang rektor menirukan gerakan membungkuk sambil tertawa.

“Walaupun sebenarnya beliau juga mendengar kata ‘Bungku’, tapi spontanitas itu dimaksudkan untuk mencairkan suasana agar lebih komunikatif, dekat, dan lucu. Jadi tidak perlu dipersoalkan atau ditanggapi berlebihan, apalagi sampai menganggap ada unsur penghinaan terhadap masyarakat Bungku,” tambahnya.

Dengan demikian, Ketua Majelis Adati To Bungku Kecamatan Witaponda menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa tersinggung atas peristiwa tersebut. Sebaliknya, hal itu diharapkan menjadi bagian dari dinamika komunikasi yang sehat dan penuh keakraban antara pimpinan perguruan tinggi dengan mahasiswanya. (Ghaff/Teraskabar)