Morowali, Teraskabar.id – Bagi sebagian orang, pensiun mungkin sekadar akhir dari rutinitas. Namun bagi Rosnawati Mustapa, purna tugas adalah sebuah babak yang penuh makna. Per 1 September 2025, perempuan yang selama hampir separuh hidupnya berkecimpung di dunia birokrasi ini resmi menutup perjalanan panjangnya.
Ia memulai langkah sebagai CPNS pada Februari 1990, di masa ketika dunia administrasi publik masih serba manual. Puluhan tahun kemudian, ia menyaksikan dan turut mengawal perubahan besar menuju layanan kependudukan yang serba digital.
Selama 35 tahun itu, Rosnawati berpindah dari satu meja kerja ke meja kerja lain, dari satu kantor ke kantor berikutnya, dengan tanggung jawab yang kian besar. Ia pernah menjadi Kabid Teknis Fungsional di Badan Diklat, lalu menjejak di Dinas Pendidikan, hingga dipercaya menduduki posisi penting di BPP dan KB. Bahkan, perjalanan kariernya sempat membawanya masuk dalam tiga besar seleksi calon Sekretaris Daerah, sebuah capaian yang membuktikan kapasitas dan ketangguhannya.
Namun, di atas semua jabatan yang pernah ia emban, banyak orang mengenang Rosnawati sebagai sosok yang ramah, pekerja keras, dan penuh ketelitian. Sejak 2016 hingga menjelang purna tugasnya, ia menakhodai Dinas Dukcapil Morowali. Di tangan dinginnya, pelayanan kependudukan yang sebelumnya sering dikeluhkan mulai ditata, dibenahi, dan dipermudah lewat inovasi sistem yang lebih transparan.
“Bagi saya, pelayanan administrasi bukan sekadar mengurus dokumen. Ini tentang membantu orang mendapatkan haknya sebagai warga negara,” begitu ia pernah berucap.
Kini, setelah puluhan tahun mencurahkan tenaga dan pikiran, Rosnawati menutup lembar pengabdian dengan senyum. Ia meninggalkan jejak yang tak hanya tertulis di arsip birokrasi, tetapi juga di ingatan masyarakat yang pernah terbantu oleh kerja tulusnya.
Bagi rekan-rekan seprofesi, Rosnawati adalah teladan tentang arti loyalitas dan integritas. Bagi ASN muda, ia contoh bahwa pengabdian bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang kesetiaan melayani. Dan bagi dirinya sendiri, mungkin ini saatnya meneguk secangkir kopi di beranda rumah, sambil mengenang perjalanan panjang yang akhirnya sampai di garis purna bakti. (Ghaff/Teraskabar)







