Senin, 12 Januari 2026
Home, Opini  

Anak Muda: Melek Politik dan Melek Berpartai

Anak Muda: Melek Politik dan Melek Berpartai
Azman Asgar. Foto: Istimewa

Azman Asgar (Sekretaris DPW Partai Gema Bangsa Sulawesi Tengah)

PERISTIWAAgustus beberapa bulan lalu menjadi luka sekaligus tonggak sejarah gerakan anak muda di abad Post-Milenial. Beberapa media menyebutnya sebagai ‘Asian Spring’. Sebuah gerakan kebangkitan Gen Z Asia Tenggara menentang elit politik.

Menteri dan anggota perwakilan rakyat ikut menjadi target kemarahan anak-anak muda. Rumah pribadi jadi sasaran penjarahan. Ini bukan aksi biasa, lebih kepada Urban Riots. Di mana aksi kekerasan, penjarahan, atau perusakan sebagai bentuk ekspresi frustrasi terhadap ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan politik.

Tidak hanya di Indonesia, puncak paling populer gerakan ‘NepoKids’ Nepal juga ditulis sebagai sejarah perubahan paling fenomenal di Negeri Land of the Himalayas itu.

Gerakan NepoKids Nepal tidak hanya mendelegitimasi peran Negara, bahkan meruntuhkan kekuasaan yang dibangun Ram Chandra Poudel dalam sekejap. Menariknya, gerakan anak-anak muda di sana telah mempersiapkan kepemimpinan alternatif di masa transisi pemerintahan. Seorang mantan Mahkamah Agung, Sushila Karki dipilih oleh anak-anak muda Nepal.

Skema Revolusi ‘menjebol lalu membangun’ itu justru menutup ruang kediktatoran militer mengambil alih pemerintahan Nepal. Itu artinya, gerakan NepoKids benar-benar melek terhadap sejarah gerakan perubahan dunia.

Dari Indonesia Gelap Hingga Penuntasan Reformasi

Jauh sebelum peristiwa Agustus meletus, Indonesia di ambang kecemasan akibat penyesuaian kebijakan yang berdampak signifikan pada kepentingan publik. Belum lagi aksi penindasan terhadap Band Punk Suka Tani asal Purbalingga yang justeru menyulut emosi publik terhadap cara negara merawat demokrasi.

Protes Indonesia gelap merupakan cerminan realitas yang tengah dihadapi anak-anak muda Gen Z Indonesia. Bagi anak-anak muda, Negara tidak lagi melayani kepentingan mereka, melainkan dimanipulasi oleh sekelompok elit bisnis yang mempunyai akses terhadap kekuasaan.

  NETA Bagikan Tips Cara Menggunakan Tire Repair Kits di Mobil Listrik

Praktik State Caputre seperti itu tidak memberi jaminan masa depan bagi anak-anak muda selain kemunculan kaum Serakahnomics baru di Indonesia. Itu sebab wajah pengambil kebijakan politik kita dari pusat hingga daerah tidak pernah mengalami perubahan bentuk, masih terkonsentrasi dalam lingkaran elit dan sanak keluarganya.

Beruntungnya, Presiden Prabowo cepat merespon gerakan anak muda ini kedalam bentuk kebijakan evaluasi pemerintahan. Salah satunya reformasi institusi Kepolisian RI. Meski belum menyentuh secara keseluruhan problem bangsa, respon Prabowo terhadap isu publik terbilang cepat.

Di gedung parlemen, tunjangan gaji DPR batal diberlakukan. Larangan flexing mulai diterapkan kepada semua anggota DPR/MPR RI. Gerakan Agustus yang dipelopori anak-anak muda Gen Z mampu menemukan bentuknya dalam memberi penyadaran kepada elit politik kita. Bagaimanapun, gerakan Agustus merupakan capaian perubahan yang akan terus diingat sebagai gerakan yang dipelopori anak-anak muda Gen Z Indonesia.

Keterlibatan Politik Generasi Muda

Sebuah data populasi penduduk Indonesia menunjukan angka yang mengkonfirmasi peran vital dan eksistensi anak muda di Indonesia.

Usia produktif (15-64 tahun) mencapai 69,51% dari total populasi sekitar 286,7 juta jiwa pada pertengahan tahun 2025. Angka ini diprediksikan akan terus bertambah.

Itu artinya anak-anak muda Indonesia mampu menjadi katalisator perubahan arah kebijakan negara. Secara elektoral pun, anak muda dan Gen Z masih menjadi kunci kemenangan dalam kontestasi. Tahun 2024 saja, jumlah pemilih usia muda di angka 52-55%. Sangat signifikan.

Eksistensi serta kecemasan anak-anak muda harus segera dikanalisasi dalam sebuah gerakan politik yang sadar. Partai Politik bisa menjadi saluran paling rasional dan realistis bagi anak-anak muda mengaktualisasikan ide-idenya tentang masa depan Indonesia.

Carita eksistensi anak muda paling menarik baru-baru ini terjadi di Negara super liberal Amerika. Zohran Mamdani, politisi Partai Demokrat yang menang pemilihan Walikota New York, AS.

  Partai Gema Bangsa Deklarasi Pekan Depan di Jakarta

Zohran mampu mendobrak landscape politik Amerika yang didominasi kaum tua konservatif juga kelompok Serakahnomics Amerika. Cerita kemenangan Zohran hanya bagian kecil dari banyaknya sejarah besar yang dikonstruksikan anak-anak muda di belahan dunia lainnya.

Di Indonesia sendiri belum lahir Zohran-Zohran baru. Zohran yang tidak hanya mewakili anak muda dan Gen Z secara usia tapi juga membawa misi perdamaian, demokrasi, keadilan dan kemandirian.

Hemat saya, kecemasan anak-anak muda Indonesia belum mampu diorganisir kedalam payung organisasi seperti partai politik. Masih bersifat Collective anger yang momentual dan sporadis. Belum ada keberanian politik (Political Courage) untuk mengambil resiko, berbicara dan bertindak di arena politik liberal.

Sejak dini anak-anak muda Indonesia belum cukup hanya disuguhi kesadaran melek politik, harus juga melek berpartai. Di masa mendatang kita hanya menyisahkan dua pilihan: menyerahkan masa depan kita di atur oleh kelompok penikmat romantisme masa lalu, atau, menyusun sendiri ide-ide bersama tentang masa depan yang lebih relate dengan kehendak zaman. ***