Oleh Hasanuddin Atjo
AMERIKA SERIKAT menyetop impor udang dari Indonesia, setelah FDA (Food and Drugs Administration) mendeteksi udang beku asal Indonesia terpapar radioaktif Cesium 137 (Cs-137), pertengahan Agustus 2025.
Meskipun kadarnya di bawah ambang batas, yaitu sebesar 68 Becquerel per kilogram (68 bq/kg), di bawah standar Nasional (500 bq/kg) dan FDA AS (1200 bq/kg), penemuan itu membuat heboh sejagat raya, karena CS-137 sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Penutupan sementara ekspor udang ke AS (Tengah Agustus hingga akhir Oktober 2025), memberi tekanan yang berat bagi keberlanjutan industri udang nasional yang menjadi salah satu andalan sektor KP dalam penyerapan tenaga kerja dan perolehan devisa.
Jumlah orang dipekerjakan (hulu dan hilir) diperkirakan pernah mencapai 1 juta orang dan devisa sebesar US$ 2,3 milyar (2021) dengan volume ekspor 241.101 ton. Setelah itu ekspor dan devisa terus mengalami penurunan.
Tahun 2024 ekspor udang Indonesia menurun menjadi 202.454 ton, berkontribusi sebesar 7,09 % mengisi pasar udang dunia. Ironinya sekitar 63 % pasar udang Indonesia bergantung ke AS, sisanya ke Jepang, UE dan lainnya.
Tahun 2025, ekspor udang diperkirakan tidak melebihi ekspor tahun 2024. Kinerja ekspor hingga triwulan tiga sebesar154.201 ton. Ekspor triwulan ke empat diprediksi kurang dari 40.000 ton karena panen ukuran kecil dan tunda penebaran dampak tutupnya ekspor ke AS.
Ekspor udang ke AS dibuka kembali per 31 Oktober 2025, setelah terjadi kesepakatan antara Pemerintah melalui Badan Karantina KKP dengan FDA AS. Pencabutan tersebut disambut suka cita pelaku industri udang tanah air.
Hanya saja terkendala proses keluarnya sertifikat bebas CS-137, dan membutuhkan waktu cukup lama karena keterbatasan infrastruktur pengujian. Ini menambah persyaratan jumlah sertifikat
ekspor dan perlu disikapi.
Penutupan ekspor sementara bisa diambil hikmahnya dan menjadi pembelajaran bagi stakeholders guna menyusun strategi meningkatkan daya saing dan bertekad menjadi salah satu kontributor utama udang dunia yang disegani.
Setidaknya Indonesia dalam lima tahun mendatang (akhir tahun 2030) ditargetkan bisa mengisi pasar udang dunia menjadi 15 %, meningkat dua kali dari sebelumnya. Dan target ini sesungguhnya tidak sulit untuk dicapai.
Mindset stakeholders mesti berubah, dari pendekatan dagang ke mindset industri.
Selain itu kekompakan hulu dan hilir perlu dibangun dan dijaga. Setidaknya ada empat pilar faktor pembatas perlu disikapi, dibuat streteginya.
Pertama, strategi berkaitan peningkatan produktifitas tambak pada berbagai level teknologi. Penguatan inovasi breeding, sistem budidaya, sterilisasi air berbasis listrik dan penerapan biosecurity menjadi poin penting.
Kedua, menekan cost logistik yang tergolong lebih mahal karena berstatus archipelago dibanding kompetitor seperti Equador, India dan Vietnam sebagai Negara kontinental.
Mengembangkan industri udang berbasis kluster pulau besar menjadi strategi yang lebih pas bagi Indonesia yang beriklim tropis dengan garis pantai terpanjang.
Selain memangkas ongkos angkut, industri berbasis kluster pulau besar memberi keunggulan lain diantaranya bisa meminimalkan sebaran penyakit udang yang pada saat ini masih jadi pekerjaan rumah.
Ketiga, meningkatkan akan jaminan keamanan pangan yang saat ini jadi tuntutan negara buyer. Menerapkan sistem rantai dingin mulai dipanen hingga diproses secara utuh sesuai SOP, tidak kalah pentingnya.
Meminimalkan penggunaan bahan kimia untuk sterilsasi dan menggantinya dengan teknologi listrik yang lebih ramah lingkungan. Budidaya dengan teknologi kecukupan oksigen juga mulai menjadi isu global menghindari kesan amimal walfare.
Keempat, membutuhkan dukungan regulasi berkait dengan penataan ruang dan zonasi. Dukungan investasi pengembangan sektor hulu dan hilir, serta insentif bagi pengembangan pada wilayah yang minim infrastruktur.
Selain itu membuka ruang bagi investasi join venture pada sektor hulu dan hilir agar permudah peningkatan produksi dan jaminan pasar.
Diyakini bahwa strategi ini bisa direalisasikan, karena telah menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto yaitu swasembada pangan, air dan energi pada akhir tahun 2030.
Terakhir Integrasi peran BRIN (badan riset inovasi nasional) dan Perguruan Tinggi serta Praktisi dunia usaha menjadi salah satu kekuatan yang mesti dimanfaatkan dalam melahirkan inovasi teknologi menyusul ekspor udang ke AS dibuka. (***)






