Minggu, 25 Januari 2026
Home, Opini  

Analisis Kemiskinan di Parigi Moutong: Potensi Sumber Daya Alam dan Tantangan Kesejahteraan

Kritik terhadap Badan Bank Tanah: Pengabaian Hak Masyarakat Adat dan Prinsip Reforma Agraria
Dedi Askary. Foto: Istimewa

Oleh Dedi Askary***

Abstrak

KABUPATENParigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, memiliki paradoks pembangunan yang menarik. Meskipun dikenal sebagai lumbung padi, penghasil kakao terbesar, serta kaya akan sumber daya perikanan dan pertambangan, tingkat kemiskinan di daerah ini masih tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab kemiskinan di Parigi Moutong, mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat kesejahteraan masyarakat, serta menawarkan solusi dan program kegiatan yang relevan untuk mengatasi masalah tersebut. Data yang digunakan meliputi data kependudukan, statistik kemiskinan, dan informasi terkait sektor pertanian, perikanan, dan pertambangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemiskinan di Parimo disebabkan oleh kombinasi faktor struktural, ekonomi, dan sosial. Diperlukan pendekatan multidimensi yang melibatkan peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan industri pengolahan, peningkatan akses pendidikan dan kesehatan, serta penguatan tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan untuk mengatasi kemiskinan di Parimo.

Pendahuluan

Kabupaten Parigi Moutong memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, namun ironisnya, tingkat kemiskinan di daerah ini masih menjadi masalah serius. Data tahun 2024 menunjukkan jumlah penduduk Parimo sekitar 459,57 ribu jiwa, dengan pertumbuhan tahunan yang cenderung menurun. Pada tahun 2025, Parimo menempati urutan ketiga tertinggi di Sulawesi Tengah dengan persentase penduduk miskin sebesar 13% atau sekitar 71.880 jiwa. Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa Parimo, dengan segala potensi yang dimilikinya, masih bergulat dengan masalah kemiskinan?

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Databoks, dan instansi pemerintah terkait. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, petani, nelayan, pelaku usaha, dan pejabat pemerintah. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan di Parimo.

  Petugas Pemilu Terlindungi Kesehatannya Saat Menjalankan Tugas Melalui Program JKN

Hasil dan Pembahasan

  1. Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan di Parimo

◦ Produktivitas Pertanian yang Rendah: Meskipun Parimo dikenal sebagai lumbung padi, produktivitas pertanian masih rendah akibat penggunaan teknologi yang belum optimal, keterbatasan akses terhadap pupuk dan bibit unggul, serta masalah irigasi.

◦ Ketergantungan pada Sektor Primer: Sebagian besar masyarakat Parimo menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan perikanan yang rentan terhadap fluktuasi harga dan perubahan iklim. Kurangnya diversifikasi ekonomi menyebabkan masyarakat rentan terhadap guncangan ekonomi.

◦ Akses Terbatas terhadap Pendidikan dan Kesehatan: Tingkat pendidikan yang rendah dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan berkualitas menghambat peningkatan kualitas sumber daya manusia. Hal ini berdampak pada kemampuan masyarakat untuk bersaing di pasar kerja dan meningkatkan pendapatan.

◦ Tata Kelola Sumber Daya Alam yang Belum Optimal: Pemanfaatan sumber daya alam seperti pertambangan belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Masalah perizinan, konflik lahan, dan dampak lingkungan menjadi kendala utama.

◦ Infrastruktur yang Belum Memadai: Keterbatasan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan listrik menghambat aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. Hal ini juga berdampak pada akses terhadap layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan.

  1. Solusi dan Program Kegiatan yang Dipandang Penting

◦ Peningkatan Produktivitas Pertanian:

◦ Program: Penyediaan bibit unggul, pupuk bersubsidi, pelatihan teknologi pertanian modern, dan perbaikan sistem irigasi.

◦ Tujuan: Meningkatkan hasil panen dan pendapatan petani.

◦ Pengembangan Industri Pengolahan:

◦ Program: Pembangunan pabrik pengolahan hasil pertanian dan perikanan, pelatihan keterampilan bagi tenaga kerja lokal, dan promosi produk lokal.

◦ Tujuan: Meningkatkan nilai tambah produk lokal dan menciptakan lapangan kerja baru.

◦ Peningkatan Akses Pendidikan dan Kesehatan:

  Kontribusi Nyata PT Vale untuk Morowali: Sehat, Berdaya, dan Maju Bersama

◦ Program: Peningkatan kualitas guru dan fasilitas sekolah, pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu, pembangunan puskesmas dan peningkatan kualitas layanan kesehatan.

◦ Tujuan: Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesehatan masyarakat.

◦ Penguatan Tata Kelola Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan:

◦ Program: Penertiban aktivitas pertambangan ilegal, pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam.

◦ Tujuan: Memastikan pemanfaatan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan.

◦ Peningkatan Infrastruktur:

◦ Program: Pembangunan dan perbaikan jalan, jembatan, dan jaringan listrik, serta penyediaan air bersih.

◦ Tujuan: Meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas masyarakat serta mendukung aktivitas ekonomi.

Kesimpulan

Kemiskinan di Kabupaten Parigi Moutong merupakan masalah kompleks yang disebabkan oleh kombinasi faktor struktural, ekonomi, dan sosial. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan multidimensi yang melibatkan peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan industri pengolahan, peningkatan akses pendidikan dan kesehatan, serta penguatan tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan. Program-program yang diusulkan di atas diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengurangan kemiskinan di Parimo.

Semoga tulisan ini memberikan gambaran yang komprehensif dan solusi yang relevan untuk mengatasi masalah kemiskinan di Kabupaten Parigi Moutong. (***)

***Pernah menjadi Konsultan riset Ketahanan Pangan di Lembah Baliem Kabupaten Jaya Wijaya tahun 2004