Oleh Hasanuddin Atjo
ARCHIPELAGIC STATE (Negara Kepulauan) beriklim tropis, adalah modal dasar Indonesia bersaing menjadi produsen utama udang dunia, mengisi kebutuhan pasar global yang terus meningkat.
Memiliki 7 gugus pulau besar dengan panjang garis pantai 96.000 km, terpanjang kedua dan beriklim tropis, memberi kesempatan industri ini bisa dikerjakan sepanjang tahun, yang tidak dimiliki Negara subtropis.
Pendekatan Industri berbasis pulau besar dipandang miliki nilai lebih, antara lain target produksi bisa diatur, penyakit lebih mudah dikendalikan serta ongkos logistik yang jadi soal selama ini dapat ditekan.
Selain itu berdasar informasi bahwa cita rasa udang yang diproduksi di Negara tropis lebih disukai konsumen. Ini menambah kekuatan untuk motivasi mendorong bisnis ini berkembang.
Keunggulan yang disebutkan menjadi peluang, kekuatan membangun industri udang nasional yang tangguh dan berdaya saing. Mendukung program swasembada serta pertumbuhan ekonomi.
Saatnya peta jalan (roadmap) industri udang berbasis pulau besar dibuat. Agar arah dan investasi lebih terukur serta tepat sasaran, berkolerasi positif dengan harapan.
Tidak terjebak pada korelasi yang negatif antara investasi dan manfaat yang selama ini menjadi ciri pengembangan industri udang dalam negeri.
Investasi mencetak tambak, pabrik input produksi serta prosesing meningkat. Namun kinerja produksi dan ekspor menurun akibat penyakit dan penolakan produk oleh buyer
Pada sisi lain , pendapatan perkapita Indonesia Emas tahun 2045 sebesar $US 23.000 – 30.300, tersisa 20 tahun lagi, memberi pesan investasi mesti berkorelasi positif terhadap kinerjanya.
Peta jalan idealnya berfokus pada pemetaan dan rencana aksi tiga subsistem yaitu off farm hulu, on farm serta off farm hilir. Ketiganya mesti didesain komprehensif dan simultan, melibatkan pihak profesional.
Pada off farm hulu, rekayasa genetik pada breeding sistem menjadi kunci utama. Setiap pulau nantinya akan memiliki strain induk yang benihnya adaptif dengan agroklimat masing masing., sehingga produksi lebih terjamin.
Pada on farm, menerapkan teknologi budidaya dua step, yaitu nursery dan growout (pembesaran) pada setiap tingkat teknologi. Kepadatan tebar menpertimbangkan kemampuan suplai oksigen dan mutu air.
Sterilisasi guna memperbaiki mutu air, tidak lagi memakai bahan kimia. Diganti dengan sterilisasi yang berbasis fisik (sinar UV dan elektrolisis), agar lebih ramah lingkungan sebagaimana tuntutan oleh pasar global.
Buangan air kolam budidaya mesti ditangani, sehingga tidak mengganggu ekosistem perairan yang menjadi air sumber industri budidaya. Harapannya produksi udang bisa berkelanjutan.
Pada off farm hilir (hilirisasi) memperbesar nilai tambah jadi kunci. Menjaga mutu dan diversifikasi serta keamanan pangan menjadi prinsip yang mesti dicapai, dipertahankan.
Harmonisasi hubungan off farm dan on farm menjadi salah satu katalisator positif. Mesti terbangun komitmen yang sama bahwa daya saing itu bisa dicapai bila dikemas dalam satu visi yang sama.
Hal yang tidak kalah penting dalam peta jalan tersebut adalah peran pengawasan dan pembinaan terhadap implementasi standarsasi pada off farm dan on farm
Berdasar seafood megazine (2024) posisi ndonesia berada pada peringkat lima dengan produksi udang 492.000 ton dibawah Equador, China, India dan Vietnam.
Sementara Equador beriklim tropis, garis pantai terbatas 2.237 km, namun mampu menjadi produsen terbesar dengan produksi 1.450.250 ton, tiga kali Indonesia.
Priode 2000 – 2010 menjadi masa pelik industri udang Equador. Produksi udang pada saat itu anjlok kurang dari 100.000 ton akibat kasus penyakit.yang merebak dzn tidak terkendali.
Membuat peta jalan agar bisa keluar dari persoalan menjadi strategi mereka. Peta jalan itu terus menerus mereka evaluasi dan kemudian disempurnakan.
Kesuksesan industri breeding memicu kebangkitan mereka, setelah sukses memproduksi induk udang tahan penyakit dan adaptif terhadap gejolak lingkungan.
Regulasi Penerintahnya tidak memperbolehkan mrlakukan impor induk, namun izinkan mengekspor, sebagai upaya memproteksi penyakit tidak masuk dari luar.
Tidak berhenti sampai disitu, mereka kembangkan inovasi budidaya two step, menabur benih ukuran besar (20 – 25 hari berada di kolam nursery) dan selanjutnya dibesarkan di tambak.
Selanjutnya pengembangan efisiensi terus dilakukan, antara lain memanfaatkan sensor IOT dalam pemberian pakan, menghidupkan motor suplai oksigen dan mengukur kualitas air.
Penggunaan pakan udang fungsional dalam upaya peningkatan imun dan laju pertumbuhan, merupakan salah satu inovasi terbaru dalam membangun daya saing industri udang mereka.
Belajar dari Equador dalam menyusun peta jalan menjadi penting sebagai referensi. Mengintegrasikan praktik praktik sukses di tanah air dengan pengalaman Negara lain menjadi poin strategis dalam menyusun peta jalan. (***)






