Oleh Hasanuddin Atjo
INDONESIA dinilai berpeluang menjadi salah satu produsen udang tangguh dan disegani, bila mampu membenahi tiga soal secara masif – simultan.
Tangguh, disegani bermakna bahwa udang Indonesia bisa dijamin keamanannya secara konsisten (bebas cemaran biologis, kimia serta fisika).
Suplai tetap terjaga meski harga berfluktuasi mengikuti dinamika pasar dunia. Bisa update dan adaptif terhadap trend perubahan permintaan.
id.wikipedia.orgNegeri ini miliki keunggulan komparatif. Beriklim tropis, bergaris pantai 96 ribu km, dan memiliki 7 gugus pulau besar yang tidak dimiliki oleh Negara kompetitor.
Equador, sama sama negeri tropis, namun dengan cara cara baru, mampu mengelola potensi terbatas (garis pantai 2.237 km). Dan selanjutnya menempatkannya sebagai produsen udang terbesar
Mereka mampu berproduksi 1.420.000 ton. Sementara itu Indonesia potensinya sangat besar, hanya berada pada posisi kelima sebesar 492.000 ton setelah Equador, China, India serta Vietnam (Seafood Megazine, 2024).
Sumberdaya manusia sangat berperan dalam manfaatkan potensi sumberdaya lainnya, wujudkan sebagai produsen udang tangguh dan disegani.
.
Tiga soal terkait sumberdaya manusia yang mesti segera dibenahi yaitu Perubahan mindset, mitigasi resiko dan tatakelola industri berbasis kewilayahan.
Mindset tatakelola hulu dan hilir saatnya dirubah. Dari mindset dagang ke industri. Dari pendekatan produksi ke permintaan pasar
Stakeholders harus memiliki visi dan tindakan yang sama tethadap keinginan menjadi produsen tangguh, disegani oleh pasar dunia.
Tidak lagi berpikir parsial dan sendiri sendiri. Bekerja mesti berdasarkan standar, aturan yang berlaku. Kesalahan di hulu mempengaruhi hilir, dan sebaliknya.
Budaya mitigasi resiko mesti dibangun, dengan biasakan “catat apa yang dikerjakan, kerjakan apa yang dicatat”. Filosofi ini sederhana, namun membiasakan kerja terukur dan tertelusur.
Pengecekan kesehatan benur sebelum ditabur jadi salah satu contoh. Menabur benur berukuran lebih besar karena melalui nursery merupakan upaya mitigasi resiko yang lagi naik daun.
Pengukuran kualitas air dari sumber hingga air buangan, tumbuh kembang kreatifitas (cara) dan inovasi (eksekusi ), dan mengikuti fenoma pasar jadi contoh mitigasi resiko.
Kebijakan pengembangan industri udang,idealnya telah berorientasi kewilayahan ( pulau besar). Harapannya mampu menekan disparitas pertumbuhan yang saat ini masih jomplang.
Berdasarkan pertimbangan teknis, kebijakan seperti ini mempermudah pengaturan keproduksi dan pengendalian penyakit serta meningkatkan efisiensi logistik.
Tiga soal yang telah diulas, merupakan hal mendasar dan perlu disempurnakan. Peta jalan implenentatif mencapai tujuan itu menjadi salah satu syarat strategis. (***)







