Senin, 12 Januari 2026
Home, Opini  

Bomba Saga: Menjahit Identitas yang Tercecer, Meletakkan Batu Bata Peradaban di Parigi Moutong

Bomba Saga: Menjahit Identitas yang Tercecer, Meletakkan Batu Bata Peradaban di Parigi Moutong
Dedi Askary. Foto: Dok

Oleh: DEDI ASKARY (Tinggal di Baliara, Parigi Barat)

Pada 10 April 2025, Kabupaten Parigi Moutong genap berusia 23 tahun. Dalam siklus hidup manusia, usia 23 adalah fase dewasa muda—masa di mana identitas diri seharusnya sudah terbentuk kokoh, karakter sudah matang, dan arah tujuan sudah jelas. Namun, secara kritis harus diakui, selama lebih dari dua dekade, kabupaten yang membentang dari Maleali hingga Molosifat ini mengalami “Krisis Identitas Simbolik”.

Meski dikenal dengan kekayaan alam yang melimpah dan kemajemukan etnis yang luar biasa, Parigi Moutong seolah “gagap” dalam melahirkan satu karya peradaban yang mampu merangkum seluruh keragaman itu. Selama bertahun-tahun, kita melihat pembangunan fisik, namun sepi dari pembangunan jiwanya. Hingga akhirnya, kebuntuan peradaban itu dipecahkan melalui kelahiran Bomba Saga.

  1. Kritik atas Kekosongan Peradaban:

23 Tahun Tanpa Wajah
Secara analitis, ketiadaan motif atau karya seni yang benar-benar merepresentasikan identitas kolektif selama 23 tahun adalah sebuah kelalaian kultural. Daerah ini kaya, tetapi kekayaannya berserak. Suku-suku hidup berdampingan, namun belum memiliki satu simbol pengikat yang disepakati bersama dalam bentuk karya seni rupa atau wastra (kain).

Karya peradaban tidak lahir dari ruang hampa. Ia membutuhkan kesadaran kolektif. Selama ini, upaya pencarian identitas mungkin ada, namun seringkali terjebak pada seremonial belaka, bersifat top-down (instruksi atasan), dan miskin riset. Akibatnya, produk budaya yang dihasilkan seringkali dangkal, tidak berakar, dan gagal menjadi kebanggaan komunal.

  1. Antitesis Cara Kerja:
    Riset, Partisipasi, dan Legitimasi Akademik

Di tengah kekosongan tersebut, inisiatif yang digerakkan oleh Hestiwati Nanga, SKM, M.Kes., Ketua TP-PKK sekaligus Ketua Dekranasda Parigi Moutong, menawarkan sebuah antitesis (perlawanan) terhadap cara-cara kerja lama yang instan. Proses kelahiran Bomba Saga patut dibedah sebagai sebuah studi kasus manajemen kebudayaan yang ideal:

  Kolaborasi Regional, Parimo dan Kota Tomohon Teken Kerja Sama Pengendalian Inflasi dan Ketahanan Pangan
  • Menolak Jalan Pintas:
    Rentang waktu tiga bulan untuk sebuah perumusan motif adalah kemewahan dalam birokrasi yang biasanya serba terburu-buru. Waktu ini digunakan bukan untuk sekadar menggambar, tetapi untuk kontemplasi dan penggalian.
  • Perkawinan Tradisi dan Sains:
    Pelibatan tetua adat dari Maleali hingga Molosifat memberikan legitimasi sosiologis dan historis. Sementara itu, pelibatan akademisi Universitas Tadulako memberikan validasi ilmiah dan metodologis. Ini memastikan bahwa Bomba Saga bukan sekadar “kain cantik”, melainkan sebuah tesis budaya yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan filosofis.
  • Partisipatif dan Inklusif:
    Proses ini membuktikan bahwa Hesti tidak memposisikan diri sebagai penguasa tunggal estetika, melainkan sebagai dirigen yang memadukan suara-suara tetua adat dan pakar menjadi satu harmoni visual.
  1. Hestiwati Nanga, SKM, M.Kes
    Mengubah Gagasan Berserak Menjadi Tenun Pengikat

Dalam analisis kepemimpinan budaya, peran Hestiwati Nanga, SKM, M.Kes (istri Bupati Hi. Erwin Burase, S.Kom) melampaui tugas seremonial istri pejabat. Ia bertindak sebagai “Cultural Aggregator” (pengumpul dan penyatu budaya).

Gagasan-gagasan tentang kekayaan alam dan etnisitas Parigi Moutong yang awalnya berserak, parsial, dan terfragmentasi, berhasil ia konsolidasikan. Dibutuhkan energi besar dan visi yang tajam untuk bisa duduk bersama tetua adat yang mungkin memiliki ego sektoral masing-masing, lalu meyakinkan mereka untuk menyepakati satu motif bersama.

Bomba Saga, dengan demikian, bukan hanya selembar kain tenun ikat. Ia adalah manifestasi politik kebudayaan. Ia adalah pernyataan tegas bahwa di bawah kepemimpinan baru ini, identitas daerah tidak lagi dibiarkan liar, tetapi dirawat dan ditenun menjadi satu kesatuan yang utuh.

  1. Bomba Saga:
    Sebuah Replikasi Peradaban Kekinian

Apa yang dilakukan melalui penciptaan Bomba Saga adalah upaya mereplikasi semangat peradaban masa lalu di era kekinian.

  Remaja Putri Penyandang Gangguan Mental di Parimo Diduga Disetubuhi Imbalan Rp50 Ribu

Jika leluhur kita meninggalkan menhir atau prasasti sebagai penanda zaman, maka generasi Parigi Moutong hari ini—di bawah inisiasi Hesti—meninggalkan Bomba Saga sebagai prasastinya.

Motif ini diharapkan menjadi Geist (jiwa) zaman baru bagi Parigi Moutong. Ia bukan sekadar komoditas ekonomi untuk Dekranasda, tetapi bendera identitas.

Ketika orang melihat Bomba Saga, mereka tidak lagi melihat sekat-sekat etnis atau batas wilayah kecamatan, tetapi melihat satu entitas utuh bernama Parigi Moutong.

Penutup:
Awal dari Kedewasaan yang Sesungguhnya

Peluncuran Bomba Saga adalah tonggak sejarah. Namun, tantangan terbesarnya adalah pelembagaan.

Sebuah karya peradaban hanya akan abadi jika ia hidup di tengah masyarakatnya, bukan hanya di lemari pajangan pejabat.

Langkah Ketu Dekranasda Parigi Moutong dan timnya sudah tepat dan sangat fundamental. Proses yang fair, terbuka, dan berbasis riset adalah pondasi yang kuat. Di usia ke-23 tahun, Parigi Moutong akhirnya berhenti sekadar menjadi “penonton” kebudayaan dan mulai menjadi “pencipta” peradaban.

Bomba Saga adalah bukti bahwa dengan kemauan politik yang kuat dan metodologi yang benar, identitas yang terkoyak bisa ditenun kembali menjadi mahakarya yang membanggakan. (***)