Minggu, 25 Januari 2026
Ekbis, Home  

Dekranasda Sulteng Perlu Perubahan Pola Kerja, Tak Terjebak Seremonial

Dekranasda Sulteng Perlu Perubahan Pola Kerja, Tak Terjebak Seremonial
Gubernur Sulteng Anwar Hafid memberi arahan pada rapat Dekranasda Sulteng, Sabtu (20/12/2025), di Hotel Sutan Raja Palu. Foto: Biro Adpim

Palu, Teraskabar.id – Dekranasda Sulawesi Tengah (Sulteng) perlu perubahan pola kerja menjadi salah satu poin penekanan Gubernur Anwar Hafid dalam arahannya pada Rapat Pengurus Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2025.

Perlunya perubahan pola kerja Dekranasda agar pengembangan industri kerajinan tidak lagi bersifat seremonial, tetapi mampu memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan para perajin.

“Kalau Dekranasda mau maju, pola kerjanya harus kita ubah. Kita tidak bisa lagi bekerja dengan cara lama. Pengelolaan industri kerajinan harus profesional dan berbasis perencanaan yang jelas. Tujuan kita bukan sekadar pameran atau kebanggaan simbolik, tetapi bagaimana kerajinan ini memiliki nilai ekonomi dan benar-benar menghidupkan UMKM serta para perajin,” kata Gubernur Anwar Hafid dalam arahannya pada rapat mengangkat tema Sinergi, Kolaborasi, dan Akselerasi Pengembangan Industri Kerajinan di Sulawesi Tengah, Sabtu (20/12/2025), di Hotel Sutan Raja Palu.

Dekranasda Sulteng Perlu Perubahan Pola Kerja, Pengembangan Kerajinan Hulu-Hilir

Gubernur juga mendorong agar Dekranasda Provinsi Sulawesi Tengah menggandeng  tenaga ahli atau konsultan yang mampu menyusun roadmap pengembangan kerajinan dari hulu hingga hilir, mulai dari proses produksi, penguatan kualitas produk, hingga pemasaran yang berorientasi pasar.

“Dekranasda perlu dukungan konsultan yang bisa melihat potensi, memiliki jejaring, dan mampu menyusun perencanaan lima tahunan yang terukur. Tanpa perencanaan yang matang dan profesional, industri kecil tidak akan berkembang besar. Ini bukan soal pasar semata, tetapi bagaimana kita menyiapkan produk yang siap dan layak jual di pasaran,” ujarnya.

Menurut Gubernur, Dekranasda memiliki kekuatan besar sebagai lembaga formal yang berdampingan dengan pemerintah. Dengan dukungan kebijakan daerah, peluang pasar sebenarnya sangat terbuka, termasuk melalui sektor pendidikan, pariwisata, hingga kewajiban penggunaan produk bermotif khas daerah di fasilitas publik dan perhotelan.

  Gubernur Sulteng ke Lokasi Banjir di Sigi Menggunakan Sepeda Motor

Perubahan Pola Kerja di Sisa Masa Kepengurusan

Sry Nirwanti Bahasoan selaku Ketua Dekranasda Provinsi Sulawesi Tengah turut hadir mendampingi Gubernur Anwar Hafid dan memberi poin poin masukan kepada peserta rapat.

Sry Nirwanti Bahasoan, menyampaikan bahwa rapat pengurus ini menjadi pertemuan perdana setelah konsolidasi kepengurusan  pada 30 Juni 2025. Ia menilai pertemuan tersebut sebagai momentum penting untuk menyatukan langkah dan memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam mendukung program prioritas pembangunan 2025–2030.

“Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi antara Dekranasda dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya dalam pengembangan industri kerajinan unggulan yang berbasis pada potensi dan kearifan lokal,” ujar Sry Nirwanti Bahasoan.

Ia berharap, dengan sisa masa kepengurusan sekitar empat tahun, seluruh pengurus  dapat bekerja lebih fokus, solid, dan terkoordinasi dalam menjalankan tugas serta tanggung jawab organisasi. Koordinasi lintas bidang menjadi keniscayaan untuk merumuskan program kerja yang terarah dan berkelanjutan.

Pengembangan Kerajinan Daerah Melalui Sektor Pariwisata

Sry Nirwanti Bahasoan juga menyoroti besarnya peluang pengembangan kerajinan daerah melalui sektor pariwisata. Ia mencontohkan kunjungannya ke sejumlah resort di wilayah Ampana, namun belum menampilkan produk kerajinan khas Sulawesi Tengah.

“Ini peluang besar yang harus kita ambil. Banyak pihak sebenarnya tertarik menggunakan kain khas daerah seperti batik bomba dan tenun Sulawesi Tengah, tetapi mereka belum tahu harus berkoordinasi dengan siapa. Di sinilah peran Dekranasda untuk menjembatani perajin dengan pasar,” jelasnya.

Ia berharap ke depan produk kerajinan Sulawesi Tengah tidak hanya tampil dalam pameran, tetapi juga hadir dalam berbagai bentuk kreatif seperti cenderamata, perlengkapan hotel, hingga produk fesyen yang sesuai dengan karakter wisata daerah. Dengan pengelolaan yang tepat, Dekranasda bisa  menjadi motor penggerak ekonomi kreatif yang berdaya saing dan berkelanjutan. (red/teraskabar)