Oleh Hasanuddin Atjo
GUBERNUR dan wakilnya, Anwar Hafid – Reny Lamadjido, untuk kali pertama lakukan perombakan kabinet, Rabu (31/12/2025,) setelah dilantik Presiden Prabowo di Istana Negara (20/02/2025).
Sejumlah pemerhati menilai pengisian jabatan eselon dua (Pimpinan tinggi pratama) kali ini, lebih mengedepakan pertimbangan kompetensi manajerial dan bukan lagi kompetensi teknis semata yang selama ini menjadi ciri.
Pertimbangan seperti ini jadi cara baru dalam rekruitmen kepala organisai perangkat daerah (OPD). Cara seperti ini membuka peluang bahwa jabatan teknis tidak harus diisi oleh orang kompetensi teknis atau sebaliknya. Terpenting, OPD dipimpinnya mampu mengawal program prioritas secara baik.
Praktik seperti ini sejak lama dilakukan di dunia swasta dan BUMN. Mereka kedepankan pertimbangan manajerial yang berbasis unsur kreatifitas dan inovasi. Mampu membangun kreatifitas dan inovasi tentu akan mendapatkan promosi.
Satu contoh pada perbankan swasta dan BUMN. Sejumlah pimpinan bank tidak datang dari ahli perbankan/keuangan saja, tetapi juga diisi oleh para ahli pertanian dan ahli teknik dari berbagai perguruan tinggi
Menjamurnya ahli pertanian di dunia perbankan, membuat akronim IPB (Institut Pertanian Bogor), sekarang IPB University diplesetkan menjadi Institut Pleksibel Banget atau Institut Perbankan Bogor.
Para ahli pertanian dan teknik bekerja secara out of the box, yaitu bekerja mengedepakan kreatiiftas , kemudian melahirkan inovasi (cara baru) memajukam perbankan mereka. Kreatifitas akan terbangun apabila miliki kapasitas kolaboratif.
Percepatan menuju pada cara itu, para kader yang potensial sebelumnya diberi penguatan manajerial. Salah satu target yang ingin dicapai, mengasah kemampuan kolaboratifnya agar nantinya mampu bekerja dalam satu tim (team work).
Berkaitan dengan tujuan itu, salah satu lembaga pelatihan pengembangan kapasitas SDM yang cukup terkenal dan melahirkan sejumkah manajer yang sukses adalah “rumah perubahan” Rhenal Kasali. Dan masih banyak lembaga lainnya yang serupa.
Bekerja secara out of the box, menjadi strategi yang mesti dilakukan perangkat daerah.
Kapasitas Gubernur Anwar Hafid bersama wakilnya, Reny A. Lamadjido yang telah malang melintang pada dunia birokrasi serta politisi tidak diragukan lagi.
Keduanya sudah punya resep tersendiri menangani kabinet bertumpu pada kompetensi berbasis manajerial, termasuk mengurai soal kapasitas fiskal yang menurun serta beban pegawai baru/PPPK.
Tahun 2026 dana transfer ke daerah (TKD) dari pemerintah pusat ke pemerintah provinsi berkurang sebesar 880 miliar rupiah (32,12 %) dari sebesar 2,74 triliun rupiah tahun 2025 menjadi 1,57 triliun rupiah.
Karena itu APBD tahun 2026 hanya sebesar 4,3 triliun rupiah dari sebelumnya 5,5 triliun rupiah.
Dana yang terbatas tersebut lebih dominan diprioritaskan membangun kapasitas SDM yaitu melalui program Berani Cerdas dan Berani Sehat. Dan nantinya bermuara pada target menurunkan jumlah orang yang miskin secara permanen karena telah berdaya.
Anggaran yang tersedia juga diprioritaskan membayar gaji pegawai baru/PPPK. Pada saat ini jumlah pegawai baru dan PPPK (tahun 2024/2025) sebanyak 3.505 orang dan tersebar pada sejumlah OPD.
Potensi SDM ini perlu dicarikan format agar bisa lahir kader kader yang profesional dan berdaya saing untuk mengisi sejumlah jabatan 5 – 10 tahun mendatang. Harapannya agar Sulawesi Tengah bisa menjadi bagian Indonesia Emas 2045.
Terakhir bahwa tiga kata kunci berkaitan dengan kompetensi manajerial. Yaitu kapasitas kolaboratif akan men-triger lahirnya kreatifitas (kerangka berpikir cara baru) bermuara kepada lahirnya satu inovasi (eksekusi cara baru).
Semuanya berpulang kepada orgsnisadi perangkat daerah. Karpet merah telah diberi oleh Gubernur bersama wakilnya. Kinerja 100 hari kerja pertama ditunggu dan menjadi koreksi pertama. Selamat bekerja dan selamat tahun baru 2026. SEMOGA






