Poso, Teraskabar.id – Koalisi Rakyat Anti Korupsi ( KRAK) Sulteng meyakini proyek Preservasi Jalan Nasional ruas Tagolu – Tentena, Kabupaten Poso, dengan nilai kontrak Rp101 Miliar lebih, tidak akan selesai sesuai jadwal. Kualitas proyek yang dibiayai oleh KemenPUPR tersebut juga diyakini tak akan sesuai besteknya. Sebab, perusahaan tak memiliki peralatan sendiri, hanya mengandalkan peralatan sewa pada perusahaan lain.
” Dari hasil investigasi lapangan langsung ke proyek pada Rabu (21/01/2026), saya lihat sendiri bagaimana keseriusan rekanan yang melaksanakan pekerjaan tersebut tersendat akibat ketidaksiapan peralatan seperti AMP, sehingga pengaspalan terlihat sangat lambat, serta peralatan lainnya yang hanya sewa,” kata Ketua KRAK Sulteng, Harsono Bareki, S. Sos., kepada media ini di lokasi proyek.
Menurutnya, saat ini rekanan sudah harus menyelesaikan atau miliki bobot pekerjaan melebihi dari uang muka yang telah mereka terima. Namun kelihatannya masih sangat terlambat. Khusus pengaspalan, pelebaran jalan masin sangat terlambat.
“Hari ini saja tidak terlihat kegiatan pengaspalan di lokasi. Malah finisher serta peralatan pendukung terparkir rapih di tengah jalan antara Desa Pandiri dan Tampemadoro. Ini disebabkan oleh ketiadaan aspal dari pihak produsen yang menginginkan sistim cash and carry. Padahal jika rekanan miliki peralatan sendiri saya yakin belasan kilo meter pasti sudah selesai dikerjakan. Dengan realitas seperti ini masyarakat sekitar bertanya mengapa pihak pemilik proyek memberikan pekerjaan ini kepada perusahaan yang terbukti tidak siap untuk mengerjakan perjaan tersebut,” urainya.
Pegiat anti korupsi tersebut juga menyayangkan kualitas jalan nasional yang patching-nya hanya 5 cm sementara jalan tersebut merupakan jalan trans Sulawesi yang setiap saat dilalui oleh truk-truk bertonase berat.
“Saya yakin jalan ini nantinya akan mubasir sebab patching-nya hanya 5 cm ,juga ketebalan aspalnya hanya 5 cm, bahkan ada yang tidak setebal itu. Juga peralatan sebagian adalah alat tua dan rusak yang terparkir di pekarangan warga dan di pinggir jalan. Logikanya jika semuanya peralatan disewa dan aspal dibeli, berapa faktor keuntungan rekanan. Sudah pasti bermain pada kualitas serta valume pekerjaan agar kantongi keuntungan,” tutup Harsono.
Sedangkan salah seorang pengawas di lokasi proyek membantah jika galian patching dan pengasphalan tidak sesuai besteknya.
” Kalau kedalaman galian patching memang dalam RAB-nya berkedalaman 5 cm, sama dengan ketebalan pengaspalan juga 5 cm, jelas Ato, pengawas pelaksana. (deddy/teraskabar)







