Senin, 26 Januari 2026
Home, Opini  

Produktifitas, Efisiensi dan Nilai, Strategi Meningkatkan Kesejahteraan Swasembada Beras

Produktifitas, Efisiensi dan Nilai, Strategi Meningkatkan Kesejahteraan Swasembada Beras
Dr. Hasanuddin Atjo. Foto: Dok

Oleh Hasanuddin Atjo

APRESIASI dan rasa bangga atas capaian swasembada beras tahun 2025 datang dari berbagai kalangan. Prestasi ini ditandai oleh surplus beras sebesar 3,25 juta ton pada awal Januari tahun 2026 dan untuk kali pertama sepanjang sejarah.

Capaian ini ternyata datang lebih cepat dari target yang telah ditetapkan. Dan diharap jadi motivasi meningkatkan kinerja usaha perberasan di tanah air, seperti harapan Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah kalangan.

Capaian swasembada lebih disebabkan oleh luasan panen yang meningkat tajam. Pada Tahun 2025 luas areal panen mencapai 11,33 juta ha, naik dibanding tahun 2024 (10,05 juta ha) dan 2023 (10,21 juta ha).

Peningkatan luasan panen itu menyebabkan Produksi gabah kering giling (GKG) tahun 2025 naik menjadi 60,25 juta ton. Sementara itu produksi GKG tahun 2024 dan 2023 masing masing 53,16 juta ton dan 53,98 juta ton.

Dari total GKG, Produksi beras tahun 2025 tercatat sebesar (34,71 juta ton), naik dibanding produksi tanun 2024 (30,46 juta ton), dan 2023 (31,10 jtuta ton). Dari angka itu , limbah yang dihasilkan seperti menir, dedak sekam padi sekitar 43 % ini bisa menjadi potensi pendapatan.

Selain itu limbah berupa jerami diperkirakan sebanyak 400 % dari GKG atau berjumlah 245 juta ton pada tahun 2025, kemudian 213 juta ton dan 216 juta ton pada tahun 2024 dan 2025. Satu karunia yang luar biasa.

Produkifitas GKG Indonesia sedikit di bawah Vietnam (5,85 ton/ha), namun unggul terhadap Thailand, Kamboja, Myanmar maupun Philipina dengan nilai produktifitas GKG mereka antara 3 – 3,5 ton/ha.

Vietnam selain ungggul dalam pridukifitas, juga lebih efisien karena dukungan irigasi yang kuat, penerapan mekanisasi serta pengembangan mutu benih dan teknologi budidaya maupun pascapanen yang update

  Lima Warga Gaza Meninggal Kelaparan, Korban Tembus 193 Jiwa

Negeri Gajah Putih , Thailand lebih fokus mengembangkan nilai, antara lain memproduksi beras aromatik yang bernilai tinggi serta program integrasi pemanfaatan limbah untuk pupuk organik dan pakan ternak.

Meskipun telah swasembada, namun nilai tukar petani (NTP) tanaman pangan sebagai satu di antara ukuran kesejahteraan berada pada angka 110 poin (antara lain bermakna potensi saving hanya 10%) dan sangat mendesak untuk ditingkatkan.

Sejumlah strategi diharapkan menjadi program turunan dari program besar swasembada berar yang telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Strategi tersebut antara lain:

Pertama, pemerataan capaian produktifitas padi diluar pulau Jawa, karena masih banyak yang capaian produktifitasnya dibawah angka 3 ton/per ha. Kinerja seperti ini tentunya belum mampu untuk menjamin kesejahteraan

Infrastruktur seperti irigasi dan jalan produksi. Ketersediaan sarana produksi seperti benih, pupuk dan obat obatan serta transformasi inovasi-teknologi menjadi kebutuhan yang mesti dipenuhi.

Kedua , mengatur tataniaga beras mulai penetapan harga benih, pupuk dan distribusinya hingga penetapan harga jual eceran (HET) GKG dan beras serta jaminan asuransi masih perlu diberlakukan.

Kebijakan terkait subsidi dan pengaturan tataniaga diharap ada target waktu. Harapannya tujuan kemandirian dalam pencapaian swasembada dan kesejahteraan minim dari upaya intervensi.

Ketiga, upaya meningkatkan nilai tambah yang saat ini belum banyak disentuh dapat menjadi salah satu pilihan meningkatkan tambahan pendapatan sebagaimana yang dilakukan Vietnam dan Thailand, termasuk pada pascapanen dan tekonologi penggilingan padi berbasis integrasi mekanis – digital.

Limbah dari usaha tani padi sawah begitu banyak, seperti yang diungkapkan pada alinea sebelumnya. Mulai menir, dedak, sekam hingga jerami. Integrasi farming diharap jadi salah satu straregi yang harus dikembangkan.

Keempat, pengembangan inovasi dan teknologi mesti didorong secara paralel. BRIN
(Badan Riset Inovasi Nasional) maupun BRIDA (Badan Riset Inovasu Daerah) diberi peran menenukan sesuatu “Novelty”
(baharu) baik pada perbaikan terlebih inovasi baru.

  Gubernur Sulteng ke Bupati Parimo: Jangan Lagi Jalan Sendiri-sendiri

Dukungan dana berkelanjutan atas sebuah penenuan inovasi dan teknokogi dalan rangka menemukan cara membangun daya saing industri beras nasional perlu memoeroleh perlakuan khusus.

Terakhir, memberi perhatian terhadap empat poin diatas, sepertinya ada rasa yakin dan harapan bahwa swasembada beras dapat dipertahankan dan bisa memberi jaminan kesejahteraan. SEMOGA