SEJAK awal, api gerilya politik Asfar sudah terasa menyala. Bukan tiba-tiba. Bukan pula meledak. Api itu tumbuh pelan, konsisten, dan penuh perhitungan. Karena itu, ketika Ruslan dan Sudirman, Ketua dan Sekretaris Partai Prima Morowali memilih hijrah ke PAN, publik yang jeli tidak terkejut. Mereka hanya mengangguk, lalu berkata dalam hati: akhirnya.
Politik lokal sering bergerak gaduh. Namun, Asfar memilih jalan sunyi. Ia tidak berteriak. Ia melangkah. Ia menyusun arah. Maka, api gerilya politik Asfar bekerja seperti bara di balik abu, diam, panas, dan pasti membakar keraguan.
Gerilya Pekerja Politik yang Perlahan Tapi Pasti
Pertama-tama, kita harus jujur. Politik terlalu lama dipenuhi pertunjukan. Banyak aktor sibuk memoles citra, tetapi lupa menanam kepercayaan. Di titik inilah Asfar mengambil jarak. Ia memilih menjadi pekerja politik.
Karena itu, ia bergerak dari bawah. Ia mendengar sebelum bicara. Ia merangkul sebelum meminta. Ia membangun jejaring. Akibatnya, orang-orang mulai percaya. Lalu, kepercayaan itu berubah menjadi keputusan.
Hijrahnya Ketua dan Sekretaris Partai Prima
Morowali bukan efek rayuan sesaat. Keputusan itu lahir dari proses panjang. Proses yang membuat seseorang merasa dihargai, dibutuhkan, dan diajak berjalan bersama.
Hijrah sebagai Bahasa Kejujuran Politik
Selanjutnya, kita perlu memaknai hijrah ini secara dewasa. Dalam politik, berpindah sering dicap sebagai pengkhianatan. Padahal, dalam banyak kasus, berpindah justru menjadi bentuk kejujuran paling keras.
Ruslan dan Sudirman tidak meloncat tanpa alasan. Mereka membaca peta. Mereka menimbang masa depan. Mereka melihat PAN Morowali bukan sekadar perahu, melainkan arah. Maka, langkah itu menjadi rasional sekaligus etis.
Di sinilah api gerilya politik Asfar menemukan momentumnya. Api itu tidak memaksa orang meninggalkan rumah lama. Api itu hanya menunjukkan bahwa ada rumah lain yang lebih terang.
Api Gerilya Politik Asfar: PAN Morowali dan Politik yang Merangkul
Kemudian, hijrah ini juga mengirim pesan penting ke publik. PAN Morowali sedang membuka diri. Partai ini tidak membangun tembok ideologis yang kaku. Sebaliknya, PAN membangun jembatan.
Dengan masuknya Ketua dan Sekretaris Partai Prima Morowali, PAN memperkaya pengalaman. PAN memperluas perspektif. PAN mempertebal otot politiknya. Semua itu terjadi tanpa kegaduhan.
Asfar memahami satu hal krusial: politik lokal tidak butuh pahlawan tunggal. Politik butuh tim. Politik butuh kerja kolektif. Karena itu, ia tidak menempatkan diri sebagai pusat segalanya. Ia memilih menjadi simpul.
Api Gerilya Politik Asfar: Kepemimpinan yang Membaca Zaman
Selain itu, gaya Asfar mencerminkan kepemimpinan yang membaca zaman. Di era ketika publik muak dengan konflik elite, ia justru menawarkan stabilitas. Di saat banyak politisi berlomba menyerang, ia memilih mengajak. Pendekatan ini terasa sederhana. Namun, justru di situlah kekuatannya.
Politik yang tenang sering kali lebih efektif daripada politik yang gaduh. Politik yang konsisten jauh lebih berbahaya bagi lawan dibanding politik yang emosional.
Sekali lagi, api gerilya politik Asfar bekerja dalam senyap. Api ini menghangatkan simpatisan. Api ini menerangi arah. Api ini memberi sinyal bahwa PAN Morowali tidak sekadar hidup, tetapi tumbuh.
Dari Kopi Manis ke Harapan Publik
Sebagai rakyat biasa yang menyeruput kopi, saya membaca peristiwa ini dengan optimisme yang terukur. Bukan euforia. Bukan pula pujian kosong. Melainkan harapan yang lahir dari pola. Jika dijaga, PAN Morowali akan menjadi ruang akumulasi kepercayaan. Jika konsistensi ini dirawat, maka politik lokal akan bergerak ke arah yang lebih waras. Namun, jika api ini diabaikan, ia bisa padam.
Di titik ini, tanggung jawab tidak hanya berada di pundak Asfar, tetapi juga melekat pada mereka yang baru bergabung. Politik bukan soal datang, tetapi soal bertahan dan bekerja. Akhirnya, api gerilya politik Asfar memberi kita satu pelajaran penting, bahwa perubahan tidak selalu datang dengan dentuman. Kadang, ia hadir lewat langkah-langkah kecil yang jujur. Dan justru itulah yang paling lama meninggalkan jejak.***






