Oleh Hasanuddin Atjo
Artikel ini terinspirasi ketika mengikuti dialog ringan salah satu grup whatsapp di Sulteng. Grup ini membahas tentang status komoditi serta produk bawang goreng Kota Palu yang sejak lama melegenda.
Bawang merah yang diproduksi di sekitar lembah kota Palu dan sebagian wilayah kabupaten Sigisangat terkenal sejak lama karena renyah ketika digoreng serta bertahan disimpan lama, tanpa berkurang kerenyahannya.
Karena itu produk bawang yang memiliki aroma dan rasa khas sangat dicari dan diburu oleh hampir semua orang dalam Negeri hingga Mancanegara. Namum persoalannya stok terbatas, disebabkan pasokan bahan baku yang kurang.
Meskipun harganya jual produk ini lebih mahal hingga tiga kali dari bawang goreng produksi daerah lain seperti Brebes dan beberapa wilayah, penggemar dan penikmat bawang goreng ini tidak mempersoalkannya.
Nilai lebih yang dimiliki oleh bawang goreng Palu, tentunya sebagai modal dasar yang kuat mengembangkan komoditi ini menjadi salah satu unggulan Sulteng dipasar dalam Negeri maupun Mancanegara yang berujung pada kesejahteraan.
Dua persoalan mendasar yang menjadi penyebab bahan baku kurang. Pertama adalah sistem penyediaan bibit diperoleh dari seleksi saat panen massal, dan cara seperti ini berlangsung sejak lama.
Belum ada rekayasa inovasi dan teknologi melalui kebun induk dan kebun bibit. Apalagi yang disebut teknologi kultur jaringan (tissu culture) seperti dipakai dalam pengembangan komoditi hortikultura lainnya.
Dengan cara seperti itu, bisa dipastikan bahwa produktifitas komoditi ini sulit ditingkatkan bahkan cenderung menurun. Dan hal ini perlu diantisipasi sebelum ada Negara lain yang melahirkan teknologi produksi bawang yang mutunya serupa.
Kedua, belum ditemukan faktor penyebab utama kenapa varietas ini bila dibudidayakan di luar kota Palu dan sebagian wilayah di Kabupaten Sigi, mutunya tidak akan sama. Ini tentunya menarik didiskusikan.
Gubernur Anwar Hafid dengan program 9 BERANI, menjadikan komoditi tanaman pangan dan hortikultura sebagai salah satu unggulan mewujudkan Visinya: “Berani mewujudkan sebagai wilayah Pertanian dan Industri Pengolahan yang maju dan berkelanjutan”.
Berani panen raya merupakan salah satu target yang mesti digapai oleh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Sulawesi Tengah. Dan OPD ini tidak boleh dibiarkan bekerja sendiri.
Makna dari BERANI Panen Raya bahwa dalam kurun waktu 5 tahun, produksi bawang merah spesifik lembah Palu mampu ditingkatkan sehingga dapat menjawab keluhan kurangnya bahan baku di UMKM pengolah bawang goreng.
BERANI Panen Raya mesti juga diikuti program hilirisasi yang akan mengembangkan produk olahan bernilai tambah hingga distribusinya. Keterlibatan OPD terkait akan menjadi salah satu kunci sukses.
Terakhir diperlukan peta jalan, atau roadmap peningkatan produksi dan olahan komoditi bawang merah varietas lembah Palu, yang dirancang dengan pendekatan hulu dan hilir.
Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) dinilai mempunyai peran strategis menyusun peta jalan tersebut untuk menjadi pedoman OPD terkait upaya itu. SEMOGA







