Makanya, pihak keluarga bayi pengidap Hydrocephalus memutuskan untuk kembali ke rumah mereka di Desa Sausu Tambu.
” Satu bulan kami di sana (rumah sakit), bulan September 2022 kami sudah tinggalkan rumah sakit dan memilih merawat anak kami di rumah,” ujarnya.
Menurutnya, petugas medis di Puskesmas setempat juga seringkali berkunjung ke rumahnya melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kesehatan bayinya.
Baca juga : Mayat Bayi di Pembuangan Sampah Eks Lokasi Huntara Palu Gegerkan Warga, Pelaku Diciduk Polisi
Selain itu, ia hanya mengandalkan ramuan tradisional. Tetapi, ukuran kepala bayinya saat ini, kian hari kian membesar. Harapan keluarga, anaknya bisa sembuh dari hydrocephalus. Namun, tidak memiliki biaya untuk pengobatan.
Olehnya, keluarga berharap perhatian dan uluran tangan para dermawan untuk membantu kesembuhan bayi pengidap Hydrocephalus ini. Supaya bisa menjalani kehidupan yang normal kembali.
“Selama ini, ada beberapa orang yang datang menjenguk dan sedikit memberi bantuan untuk kebutuhan anak kami,” katanya.
Menurutnya, untuk sementara keluarga kecilnya saat ini hanya numpang di rumah orang tuanya. Sebab rumah milik mereka tidak layak huni karena setiap saat terendam ketika air laut pasang.
“Kami hanya numpang di rumahnya ibu, sebab rumah kami setiap saat terendam ketika air laut pasang. Sehingga, tidak bisa tidur karena air setinggi lutut orang dewasa,” ujarnya. (teraskabar)






