Palu, Teraskabar.id– Keseruan mewarnai kegiatan semiloka yang dilaksanakan oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (YLBH APIK) Sulawesi Tengah, terutama sebelum memasuki sesi penghujung kegiatan pada Selasa (16/11/2022).
Para peserta, narasumber dan fasilitator dipacu untuk mengkreasikan pengetahuannya secara kolaborasi dengan membuat simulasi media online, lengkap dengan nama media dan struktur redaksinya. Termasuk isu garapan dan rubrikasi media tersebut, untuk mengevaluasi sejauh mana pemahaman materi yang telah diperoleh selama dua hari pelaksanaan, Senin – Selasa (15-16/11/2022) di Hotel Santika Palu, Sulawesi Tengah.

Hasil rancangan media yang dibuat dalam bentuk media siber, kemudian diperlombakan. Dua kelompok saling berlomba mengkreasikan rancangan media onlinennya, kemudian mempresentasikannya melalui perwakilan yang ditunjuk oleh masing-masing kelompoknya.
Baca juga : Gema Lentera Peduli Tadulako Gelar Media Gathering, Bahas Penulisan Berita Perspektif gender
Keseruan mulai terlihat saat proses pembuatan simulasi media hingga presentasi. Seluruh peserta yang dibagi dalam dua kelompok, coba menerapkan pengetahuan dan pengalamannya selama bertugas sebagai jurnalis. Bahkan, dari dua kelompok tersebut memaparkan struktur redaksi, latar belakang pemilihan isu garapan hingga pemilihan nama-nama rubrikasi. Dan, dari perwakilan dua kelompok tersebut, seluruhnya mempresentasikan secara sempurna ibarat awak media mainstream sedang rapat redaksi.
Semiloka membangun kesadaran media dalam mendorong upaya pemenuhan kelompok rentan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, dihadiri puluhan jurnalis dari media cetak dan siber di Kota Palu. Mereka antusias mengikuti kegiatan yang dikemas dalam bentuk menarik karena melibatkan secara aktif para peserta yang pada umumnya jurnalis perempuan.
Kegiatan di hari kedua dimulai dengan paparan materi oleh Sabda Tarotrinarta. Di sesi ini, Taro panggilan akrabnya, mengajak para jurnalis untuk mereview materi hari pertama yang dikaitkan dengan peran jurnalis perempuan pada tugas peliputan keseharian.
Baca juga : Genre Solusi Atasi 3 Masalah Remaja
Salah seorang wartawan dari Harian Sulteng Raya, Jane Lestary, mencoba berbagi pengalaman untuk penguatan mitigasi peliputan bagi jurnalis perempuan. Sebab, bagi Jane panggilan akrabnya, seluruh desk peliputan memiliki tantangan tersendiri bagi setiap jurnalis perempuan.
Materi selanjutnya dipaparkan oleh Ikerniaty. Praktisi media ini mengulas materi tentang Peran Media dalam Pemberitaan Inklusi dalam persfektif Kerentanan Perempuan sebagai Jurnalis. Sebagai jurnalis yang pernah berkecimpung mulai dari media kampus hingga media mainstream di Kota Palu, mengakui jurnalis perempuan lebih berat tantangannya saat peliputan di lapangan.
“Saya pernah meliput di suatu daerah, soal letak cincin saja di jari akan menjadi perhatian masyarakat sekitar,” kata Iker panggilan akrabnya. (teraskabar)






