Oleh Hasanuddin Atjo (Pokja Berani Makmur, TP4)
PROGRAM 9 BERANI Gubernur Anwar Hafid dan wakilnya Reny Lamadjido memasuki tahun kedua. Kesembilan program itu berjalan secara paralel untuk mencapai target masing-masing.
Sinkronisasi program 9 BERANI itu, terus dilakukan TP4 (Tim Percepatan Program Prioritas Penbangunan) Provinsi Sulawesi Tengah. Harapannya agar terbangun pemahaman dan pola tindak yang sama dalam mengeksekusi program itu, agar berdampak percepatan capaian.
BERANI Sejahtera dan BERANI Makmur merupakan dua program yang sepintas beda tipis. Membuat sejumlah kalangan bertanya dimana perbedaan dari kedua program yang berkait dengan taraf hidup masyarakat
Daerah ini cukup terkenal karena memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi mencapai dua digit, jauh di atas Nasional. Ini sangat dipengaruhi industri Pengolahan, Penggalian Nikel dan Gas serta PLTA. Meski pertumbuhan tinggi, angka kemiskinannya juga tinggi, mencapai dua digit, disebut pertumbuhan ekonomi yang anomali.
Sementara itu kontribusi dari sektor Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (PPK) terus mengalami penurunan yang signifikan. Padahal sektor ini menjadi tumpuan pekerjaan sekitar 65 % dari masyarakat Sulteng yang di tahun 2025 berpenduduk 3,21 juta jiwa.
BERANI Sejahtera lebih kepada bagaimana mengurangi angka kemiskinan di daerah ini yang tergolong tinggi dengan laju penurunan yang relatif rendah. Tahun 2024 angka kemiskinan berada dua digit (11,04%).
Strateginya antara lain berupa intervensi kepada kelompok masyarakat berkategori miskin dalam bentuk bantuan dan subsidi pangan, bedah rumah, bea siswa dan pemberdayaan bagi kelompok yang hampir keluar dari garis kemiskinan.
Harapannya pada akhir tahun 2030 nanti, melalui eksekusi dari program BERANI Sejahtra, angka kemiskinan diturunkan pada angka satu digit yaitu antara 7,00 – 8,50 %. Dan ini petlu kerja keras dan integrasi program/sektor.
Selanjutnya BERANI Makmur lebih kepada peningkatan produktufitas sektor Pertanian dan Perikanan, terutama untuk ketahanan dan kemandirian pangan serta komoditi ekspor (Ipemasukan devisa).
Transformasi pengetahuan dan ketrampilan dalam rangka peningkatan produktifitas dan ekspor komoditi, dukungan infrastruktur dan konektivitas serta kelembagaan dalam upaya kemitraan dan akses pembiayaan menjadi strategi.
Melalui implementasi program BERANI Makmur, maka pada akhir tahun 2030 produktifitas padi naik dari 3 ton menjadi 6 ton/ha/tahun. NTP semua sub sektor ( NTP rata rata) berada di atas 100 % yang selama ini belum pernah dicapai.
Fiskal yang menurun karena transfer ke daerah dipangkas mempengaruhi alokasi dana bagi kedua program ini. Sudah saatnya implementasi Money follow fuction (Anggaran yang dibagi habis, orientasi output) ditinggalkan.
Diganti Money Follow Program (anggaran berdasar proritas, orientasi outcome). Paradigma ini dinilai akan mempercepat capaian, meskipun tidak bisa memuaskan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Mengukur keberhasilan kedua program ini, perlu dicontohkan dengan model (pilot proyek) menggunakan wilayah terkecil yaitu desa menjadi lokus dari masing masing program.
Desa kategori tertinggal dan berkembang menjadi lokus implementasi BERANI Sejahtera dengan OPD Pengampu Dinas Sosial bersama Pemerintahan Desa dan didukung sejumlah OPD Penunjang. Selanjutnya BERANI Makmur lokusnya Desa Maju dan Mandiri, pengampu OPD Pertanian dan Kelautan Perikanan.
Diharap catatan kecil ini bisa mentriger para desainer dan eksekutor program BERANI dan lebih khusus BERANI Sejahtera dan BERANI Makmur, merumuskan model impementatif dan bisa diukur. SEMOGA






