Senin, 12 Januari 2026
Ekbis, Home  

Beras Kembali Jadi Komoditas Penyumbang Utama Inflasi di Sulteng  pada Agustus 2025

Beras Kembali Jadi Komoditas Penyumbang Utama Inflasi di Sulteng  pada Agustus 2025
TIPD Sulteng melaksanakan Sidak untuk memantau harga beras. Foto: Dok

Palu, Teraskabar.id – Sulawesi Tengah mengalami inflasi sebesar 0,06 persen secara bulanan (month to month ) pada bulan Agustus 2025. Penyumbang inflasi bulanan terbesar berasal dari kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,74 persen dengan andil 0,06 persen.

Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,17 persen (andil 0,02 persen), serta kelompok pendidikan sebesar 0,30 persen (andil 0,01 persen).

“Sulteng inflasi 0,06 persen di saat nasional mengalami deflasi 0,08 persen,” kata Imran Taufik J. Musa, Plt Kepala BPS Provinsi Sulteng pada press release berita resmi BPS Provinsi Sulteng, Senin (1/9/2025), yang dipusatkan kegiatannya di ruang pertemuan kantor BPS Sulteng dan disiarkan melalui zoom meeting.

Ia  melaporkan,  dari 11 kelompok pengeluaran, kelompok penyedia makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi sebesar 0,74 persen dan memberi andil inflasi sebesar 0,06 persen secara bulanan. Disusul rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,19 persen dengan andil inflasi mendekati 0 persen. Kemudian perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,17 persen dengan andil inflasi 0,02 persen.

Dari 11 kelompok pengeluaran tersebut, selain kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi 0,28 persen dan berkontribusi pada inflasi sebesar 0,02 persen, disusul Transportasi mengalami inflasi 0, 66 persen dengan andil inflasi 0,08 persen.   Restoran terbaik di dekat sini

“Ada tiga kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau; Transportasi; Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga . Tapi pada umumnya 11 kelompok pengeluaran terjadi inflasi,” kata  Imran Taufik.

Secara umum, komoditas penyumbang utama inflasi secara bulanan antara lain, Beras, Bawang Merah, Ikan Kembung, Ikan Cakalang, Ikan Selar, Nasi dengan Lauk Pauk.

  Infrastruktur Jalan Provinsi di Sulteng Dipantau Real Time, Seluruh Titik akan Dipasangi CCTV

Berdasarkan Spasial

Empat kabupaten/kota di Sulawesi Tengah yang menjadi lokasi penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi tertinggi secara bulanan (M to M) terjadi di Luwuk Kabupaten Banggai, tercatat 0,55 persen. Disusul Kota Palu 0,17 persen, Kabupaten Morowali sebesar 0,06 persen sementara Kabupaten Tolitoli mengalami deflasi 0,82 persen.

Di Kabupaten Banggai, tiga komoditas penyumbang utama inflasi adalah Beras, Ikan Katamba dan Ikan Cakalang. Sedangkan penyumbang utama deflasi adalah Ikan Selar, Cabai Rawit, dan Ikan Malalugis.

Di Kota Palu, tiga komoditas penyumbang utama inflasi adalah Beras, Ikan Kembung dan Ikan Selar.  Sedangkan penyumbang utama deflasi adalah Tomat, Cabai Rawit dan Cabai Merah.

Di Kabupaten Morowali, tiga komoditas penyumbang utama Inflasi adalah, Beras, Bawang Merah, Ikan Kembung. Sementara penyumbang utama deflasi adalah  Tomat, Cabe Rawit, dan Bawang Putih.

Di Kabupaten Tolitoli, tiga komoditas penyumbang utama Inflasi adalah,  Beras, Bawang Merah, dan Udang Basah. Sedangkan penyumbang utama deflasi adalah Cabai Rawit, Tomat, Cabai Merah.

“Artinya, dari empat kabupaten/kota, Beras, Bawang Merah, Ikan Kembung, Ikan Cakalang, Ikan Selar, dan Nasi dengan Lauk,” ujarnya.

Inflasi Tahun ke Tahun

Plt Kepala BPS Sulteng juga menjelaskan, inflasi secara tahunan atau Year to Year, inflasi pada bulan Agustus  2025 terjadi cukup tinggi. Angkanya mencapai 4,02 persen. Inflasi tertinggi secara tahunan (Y on Y), terjadi di Kabupaten Tolitoli sebesar 5,70 persen, disusul Morowali 0,59 persen, Luwuk 4,66 persen,  dan Kota Palu 2,98 persen.

Hal menarik jika mengamati grafik inflasi secara tahunan, siklus  inflasi pada bulan Agustus terjadi cukup tinggi. Besarannya pada bulan Agustus 2024 di angka 2,14 persen, sedangkan pada Agustus 2025 sebesar 4,02 persen.

“Siklus ini kita perlu amati bersama, apa yang terjadi pada kondisi Agustus  2025 terjadi inflasi yang cukup tinggi bila dibandingkan kondisi pada Agustus 2024, nyaris dua kali lipat atau naik sekitar 100 persen,” ujarnya. (red/teraskabar)