Palu, Teraskabar.id – Inflasi Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Januari 2026 kembali bergerak naik secara tahunan (y on y). Borong Emas picu inflasi Sulteng tembus 4,5% menyebabkan angka inflasi jauh melampaui ambang batas yang ditetapkan yaitu 3,5%.
Tiga komoditas memberi andil terbesar terhadap inflasi Sulteng pada Januari 2026 secara y on y yaitu tarif listrik sebesar 1,79 persen, emas perhiasan sebesar 0,91 persen, disusul beras sebesar 0,40 persen. Komoditas lainnya yang turut berkontribusi terhadap inflasi Sulteng pada Januari 2026 secara y on y adalah ikan lajang sebesar 0,17 persen; ikan cakalang sebesar 0,15 persen; ikan selar sebesar 0,12 persen.
Secara umum, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi secara y-on-y pada Januari 2026, antara lain: tarif listrik, emas perhiasan, beras, ikan lajang, ikan cakalang, ikan selar, bawang merah, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, akademi/perguruan tinggi, ikan kembung, ikan goreng, kue basah, angkutan udara, nasi dengan lauk, ikan ekor kuning, kue kering berminyak, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan malalugis/ikan sorihi, dan telur ayam ras.
Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil deflasi secara y-on-y pada Januari 2026, antara lain: cabai rawit, tomat, bawang putih, cabai merah, baju muslim wanita, tissu, telepon seluler, bensin, blus wanita, dan parfum.
Inflasi secara bulanan (m-to-m), emas perhiasan juga memberi kontribusi terbesar terhadap inflasi Sulteng pada Januari 2026. Disusul ikan cakalang, ikan selar, ikan ekor kuning, cumi-cumi, minyak goreng, dan ikan teri.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m, antara lain: cabai rawit, ikan lajang, cabai merah, bawang merah, bensin, beras, tomat, ikan katamba, angkutan udara, ikan kembung, dan telur ayam ras.
Menyikapi kenaikan inflasi Sulteng pada Januari 2026 yang bergerak naik dari ambang batas yang ditetapkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng menggelar rapat koordinasi (Rakorda) TPID se-Sulawesi Tengah. Forum yang digelar secara hybrid yang dipusatkan di Gedung Pogombo, Kamis (26/2/2026), dibuka oleh Wakil Gubernur Sulteng, Reny A Lamadjido.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., pada forum yang menjadi ruang konsolidasi daerah dalam menghadapi tekanan inflasi yang kembali meningkat di awal tahun 2026, mengajak seluruh TPID Kabupaten/Kota se-Sulteng untuk menyampaikan saran dan masukan dalam momentum Rakorda TPID se-Sulteng.
“Ayo kita cari tahu betul apa yang harus dilakukan supaya inflasi ini turun dan sehat kembali,” dorongnya ke peserta agar berpartisipasi aktif memberikan usulan.
Wagub Reny menuturkan bahwa inflasi Sulawesi Tengah pada Januari 2026 kembali bergerak naik dari ambang batas yang ditetapkan, setelah sebelumnya pada Desember 2025 berhasil ditekan hingga berada pada level toleransi 3,5%.
Kondisi ini tegasnya menjadi sinyal kuat agar seluruh unsur TPID se Sulteng menerapkan langkah-langkah antisipatif sejak dini.
Wagub Reny mengungkapkan, perubahan cuaca ekstrem mempengaruhi produksi pangan di Sulteng sehingga menyebabkan kenaikan harga komoditas volatile food seperti bawang, cabai, ikan laut, telur dan beras.
Selain itu, perilaku masyarakat yang cenderung memborong emas akhir-akhir ini, juga dinilainya memberi andil terhadap tekanan inflasi Sulawesi Tengah.
Menjelang libur Idul Fitri ke depan ini, Ia memprediksi akan diikuti dengan kenaikan harga tiket transportasi sebagai salah satu pemicu inflasi di mana pada Januari 2026 ini andil inflasi angkutan udara sebesar 0,05 persen secara y on y. Konsumsi masyarakat jelang idul Fitri juga akan meningkat dan akan memberi andil inflasi Sulteng.
Cuaca Ekstrem dan Borong Emas Picu Inflasi
Sementara Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna menerangkan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya berdampak di Sulawesi Tengah, tetapi juga dialami sejumlah provinsi tetangga sekitar Sulawesi Tengah.
Kelangkaan stok pangan di daerah tetangga akibat cuaca ekstrem ini mendorong peningkatan permintaan pasokan dari Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah produsen pangan terdekat mereka.
Di sisi lain, periode libur panjang dan tradisi mudik diperkirakan akan ikut memicu lonjakan kebutuhan di sejumlah daerah.
Dengan arus keluar barang yang tinggi dari Sulawesi Tengah untuk memenuhi permintaan tadi dipastikan akan menimbulkan kelangkaan stok di dalam Sulawesi Tengah yang kemudian diikuti kenaikan harga.
Karena itu, ia menyarankan pentingnya langkah konkret dan terukur, antara lain melalui penajaman implementasi framework 4K (ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif).
Mengintensifkan sidak pasar dan pelaksanaan pasar murah, optimalisasi neraca pangan, penguatan rantai distribusi, serta perluasan kerja sama antar daerah guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat khususnya di periode jelang idul fitri hingga pasca-idul fitri.
Ia optimis dengan strategi tersebut dapat mengembalikan inflasi Sulawesi Tengah ke ambang batas yang terkendali. “Harapan kami saat bulan Maret, inflasi (Sulawesi Tengah) lebih melandai,” ujarnya optimis. (red/teraskabar)






