Poso, Terasabar.id– Hingga malam ini, Jumat (25/7/2025), gempa susulan masih dirasakan warga di Kabupaten Poso terutama di wilayah yang dekat dari pusat gempa yaitu, Desa Tindoli, Desa Tokilo, dan Desa Tolambo, Kecamatan Pamona Tenggara.
BPBD Poso melaporkan, dari data BMKG hingga malam ini pukul 18.30 Wita, sudah 128 kali guncangan akibat gempa susulan. Sehingga, masyarakat masih memilih tidur di tenda BPBD, serta tenda-tenda yang dikhususkan untuk anak-anak, ibu menyusui dan lansia.
“Masyarakat di Desa Tindoli masih memilih tidur di bawah tenda di lapangan terbuka karena masih trauma, apalagi masih terjadi gempa susulan,” kata Kepala bidang Darurat dan Logistik BPBD Poso, Benny Podungge, S.H., yang berada di lokasi terdampak, Jumat malam (25/7/2025).
Benny menambahkan, data sementara yang berhasil diperoleh BPBD, tercatat 154 unit rumah warga mengalami kerusakan di Desa Tolambo, Tindoli dan Tokilo. Jumlah ini masih akan terus bertambah, mengingat masih ada beberapa desa yang datanya belum masuk dari para kepala desanya.
Hal senada disampaikan, Komandan Rayon Militer ( Danramil ) Kodim 1307- 11 / Pso Kecamatan Pamona Selatan, Kapten Isbet mengaku jika data jumlah rumah yang rusak pascagempa sangat dinamis.
” Jumlah rumah rusak akan bertambah sebab ada masuk lagi data baru dari beberapa desa melalui Babinsa. Data yang saya berikan sampai pukul 16.00 Wita masih bersifat sementara,” ujarnya. (deddy)
Sementara itu, Tim BPBD Provinsi bersama BPBD Kabupaten Poso, aparat desa, dan relawan setempat telah melakukan assessment dan evakuasi di lokasi terdampak. Gempa tektonik magnetudo 6.0 lalu mengalami parameter update 5.7, pada Kamis malam (24/7/2025), menyebabkan kerusakan cukup serius di sejumlah desa seperti Tokilo, Tindoli, dan Tolambo di Kecamatan Pamona Tenggara, serta Desa Pendolo di Kecamatan Pamona Selatan. Puluhan rumah warga dilaporkan rusak, termasuk fasilitas umum seperti sekolah dan rumah ibadah. Ribuan jiwa kini tinggal di tenda pengungsian dengan kondisi yang masih terbatas.
Selain menyalurkan logistik, BPBD Sulteng juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, BNPB, serta dinas-dinas teknis di provinsi untuk memastikan seluruh kebutuhan dasar pengungsi bisa segera terpenuhi. Akris menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sulteng akan terus hadir dan bergerak cepat dalam setiap fase penanganan bencana, mulai dari tanggap darurat hingga pemulihan.
Sebelumnya, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah telah mengeluarkan siaran pers resmi sehubungan dengan gempabumi tersebut.
Di Desa Tokilo, Kecamatan Pamona Tenggara yang menjadi salah satu lokasi terdampak paling parah, sebanyak 4 rumah rusak berat dan 21 rumah rusak ringan.
Warga di desa ini yang mengungsi tercatat 596 jiwa dari 184 KK, termasuk balita, bayi, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
Di Desa Tindoli, kerusakan lebih parah. Sebanyak 70 rumah rusak ringan, 10 rumah rusak berat, serta 1 unit gereja dan 1 unit sekolah TK rusak. Sementara di Desa Tolambo masih dalam proses pendataan.
Adapun di Desa Pendolo, Kecamatan Pamona Selatan, tercatat satu unit rumah rusak ringan.
Laporan sementara mencatat empat warga mengalami luka ringan, masing-masing dua dari Desa Tindoli dan dua dari Desa Tolambo.
Total warga yang mengungsi tercatat sebagai berikut, Desa Tokilo sebanyak 596 jiwa atau 184 KK; Desa Tindoli sebanyak 887 jiwa atau 266 KK, kemudian di Desa Tolambo sebanyak 528 jiwa atau 159 KK.
Saat ini, BPBD Kabupaten Poso telah mendirikan tenda-tenda pengungsian dan melakukan evakuasi bersama aparat desa. Namun, kebutuhan mendesak masih tinggi, antara lain; Tenda, Genset dan light tower, alas tidur, selimut, terpal, makanan siap saji, perlengkapan bayi dan obat-obatan. (red/teraskabar)






