Palu, Teraskabar.id – Dokter spesialis patologi klinik di Sulawesi Tengah (Sulteng) saat ini masih terbatas. Jumlahnya masih 16 dokter spesialis patologi klinik yang tersebar di 12 kabupaten dan 1 kota.
Dari kebutuhan yang ada, Provinsi Sulawesi Tengah baru memiliki sekitar 16 dokter yang memiliki spesialisasi patologi klinik yang tersebar di 12 kabupaten dan 1 kota. Kondisi ini menyebabkan masih ada rumah sakit yang belum memiliki dokter spesialis patologi klinik secara tetap.
“Saya berharap ke depan jumlah dokter yang mengambil spesialisasi patologi klinik bisa terus bertambah, agar setiap kabupaten tidak hanya memiliki satu, tapi dua atau tiga dokter spesialis. Masih ada rumah sakit yang belum memiliki dokter spesialis patologi sama sekali,” kata Wakil Gubernur Sulteng dr Reny A Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., saat membuka Workshop Komprehensif Optimalisasi Teknik Mikroskop dan Manajemen Perawatan Rutin, yang digelar di Aula Kedokteran Universitas Tadulako, Sabtu (31/1/2026).
Menyikapi kondisi tersebut, Wagub Reny mendorong para dokter umum dan tenaga analis kesehatan untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan spesialis. Ia menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan seiring dengan peningkatan mutu laboratorium.
“Kualitas laboratorium sangat menentukan kepercayaan tenaga klinis. Jika kualitas laboratorium tidak baik, maka hasil pemeriksaan akan diragukan,” tambahnya.
Dokter Spesialis Patologi Klinik
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur turut mengingatkan pentingnya proses pra analitik, analitik, dan pasca analitik dalam pemeriksaan laboratorium. Kesalahan pada pengambilan dan penanganan sampel, menurutnya, dapat memengaruhi hasil pemeriksaan secara signifikan.
Wagub Reny juga menekankan bahwa kemampuan membaca preparat menggunakan mikroskop merupakan keterampilan dasar yang wajib dikuasai oleh calon dokter maupun dokter spesialis patologi. Menurutnya, kesalahan dalam penggunaan dan perawatan mikroskop dapat berdampak langsung pada ketepatan diagnosis pasien.
“Diagnosis tidak bisa ditegakkan tanpa pemeriksaan laboratorium yang baik. Karena itu, penguasaan mikroskop, mulai dari pembesaran 10, 40 hingga 100, termasuk penggunaan imersi dan perawatan lensa, harus benar-benar diperhatikan,” ujar
Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya Dr. dr. Haerani Harun, M.Kes., Sp.PK, Ivan Gommo, SKM., M.Pd, serta Moh. Bagus Fatihul Ihsan, yang memberikan materi terkait teknik penggunaan mikroskop, perawatan alat, serta peningkatan mutu pelayanan laboratorium kesehatan.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan serta mendorong pemerataan layanan laboratorium yang berkualitas di seluruh wilayah Sulawesi Tengah. (red/teraskabar)







