Minggu, 25 Januari 2026

Dwi Tunggal Demokrat Catat Sejarah Kepemimpinan di Sulteng

Dwi Tunggal Demokrat Catat Sejarah Kepemimpinan di Sulteng
Wagub Sulteng Reny A Lamadjido (Kiri) foto bersama Gubernur Sulteng Anwar Hafid (Kedua dari kiri), dan jajajaran pengurus DPD Partai Demokrat Sulteng, Jumat (8/8/2025), pada Rakerda Partai Demokrat Sulteng. Foto: Tim Media BERANI

Palu, Teraskabar.id – Pentas kepemimipinan di Sulawesi Tengah mencatat sejarah. Selama era kepemimpinan elektoral di Sulawesi Tengah, baik saat proses pencalonan maupun setelah pelantikan duet kepemimpinan hasil pemilihan kepala daerah, belum pernah terjadi kepala daerah dan wakilnya  berasal dari satu partai. Duet kepemimpinan Anwar Hafid – Reny A Lamadjido memulainya. Hal itu ditandai dengan bergabungnya Reny A Lamadjido, wakil ketua DPW PKB Sulteng, ke Partai Demokrat.

Reny A Lamdjido yang merupakan wakil gubernur Sulteng memantapkan pilihannya bergabung ke partai Demokrat, di mana ketua DPD nya adalah Anwar Hafid, gubernur Sulteng saat ini. Reny A Lamadjido resmi bergabung ke Partai Demokrat, Jumat (8/8/2025),  ditandai dengan penyematan pin Demokrat oleh  Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat, Herman Khaeron, didampingi Ketua DPD Demokrat Sulteng, Anwar Hafid.

Bagi Partai Demokrat, Reny A Lamadjido menjadi energi baru bagi partai berlambang Mercy itu, termasuk bergabungnya Abdul Sahid, wakil Bupati Parigi Moutong. Namun bagi pengamat politik, DR. Alamsyah M. Nur ketika dimintai tanggapannya mengenai fenomena politik ini mengakui, bagi politisi seperti Reny A Lamadjido, mencari peluang untuk mendapatkan kekuatan yang dianggap akan memberikan keuntungan dalam aktifitas politik, menjadi suatu kesemestian.

“Bagi pasangan gubernur terdapat plus minus ditengah politik populis yang banyak dianut elit politik bangsa ini, termasuk dalam ranah lokal seperti provinsi. Kesamaan partai akan mendorong lebih cepatnya mobilisasi komando yang tentu saja tidak bisa terjadi ketika berbeda partai, sebab satuan aktifitasnya berbeda antara birokrasi dan partai.

Menurut akademisi Universitas Tadulako ini, pada umumnya partai hanya dijadikan sebagai dalih untuk memperoleh kekuasaan. Sesungguhnya personal lah yang sangat dominan dalam politik pada level apapun dan di wilayah apapun eksekutif maupun legislatif.

Wujudnya dapat dilihat bahwa pada wilayah yang pemilik kekuasaan eksekutifnya berasal dari partai tertentu tetapi kenyataannya partainya lemah, padahal partailah yang menyebabkan dirinya mempeproleh kekuasaan. Meskipun dalih ini juga ada benarnya karena partai juga sesungguhnya mendapatkan keuntungan dari elektabilitas calon yang diusungnya.

Untuk itu, kehadiran Reny A Lamadjido  di Partai Demokrat, bisa juga dianggap sebagai simplifikasi dari keutuhan komitmen beliau dalam mendukung gubernur dalam menakhodai Sulteng. Hal ini tentu akan mendatangkan kecurigaan dari partai lain yang akan merasa was-was.

“Tetapi sekali lagi dalam politik hal ini adalah hal biasa. Sehingga berbagai serangan dan titik tembak akan berfokus pada kinerja dwi tunggal demokrat,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam posisi Partai Demokrat yang merupakan “partai penumpang” dalam kabinet saat ini, hal ini akan sulit dikomodifikasi sebagai modal dalam menorong daerah untuk mendapatkan suntikan dana segar dari menara kekuasaan di Jakarta. (red/teraskabar)