Sabtu, 24 Januari 2026
Home, Opini  

Forum Diskusi Informasi, Grup WA Yang Lebih Hidup dari Rapat Paripurna di Parlemen

Forum Diskusi Informasi, Grup WA Yang Lebih Hidup dari Rapat Paripurna di Parlemen

Segelas kopi guyon dari Abd. Ghafur Halim

ADA satu grup WhatsApp di Morowali yang namanya mungkin terdengar biasa saja, Forum Diskusi Informasi. Grup WA ini dibuat oleh seorang jurnalis bernama Faisal, pada 18 Juli 2020. Siapa pun yang pernah menyimak percakapan di dalamnya pasti akan mengakui satu hal, ini bukan sekadar grup, ini adalah panggung kecil tempat ragam suara menemukan ruangnya. Ia bukan forum resmi, bukan pula produk birokrasi. Namun, dalam keheningan ruang digital itulah, percikan ide, kelakar, hingga debat serius meletup tanpa aba-aba.

Sebuah mikrosemesta yang mempertemukan warga dan elit, pedagang dan pengusaha tambang, antara kontraktor dan pengacara, kepala dinas dan wartawan, sales, tukang gombal dan tukang kompor, komisaris, direktur, karyawan serta nyaris semua profesi ada dalam satu ruang. Yang ajaibnya, tetap ramah dan hangat.

Di tengah grup-grup lain yang sering sepi atau hanya penuh pesan ucapan ulang tahun dan video TikTok, Forum Diskusi Informasi hidup seperti pasar yang tak pernah tidur. Setiap hari ada saja yang dilempar ke tengah arena, berita miring, foto jalan rusak, berita manis, proyek daerah, industrialisasi, ijazah palsu, isu politik, isu nasional dan bahkan internasional, termasuk perang dikawasan Timur Tengah, atau sekadar cerita lucu dari obrolan warung kopi, semuanya ada.

Dan seperti biasa, satu topik saja cukup untuk membuat puluhan jempol mulai mengetik, membalas, menyanggah, menyisipkan emoji, lalu membalas lagi. Diskusi mengalir dengan cepat, kadang sampai terlalu cepat untuk dicerna. Tapi di sanalah justru letak kemeriahannya.

Yang luar biasa dari forum ini bukan sekadar karena anggotanya beragam. Tapi karena iramanya. Pejabat bisa disindir, anggota dewan bisa diajak bercanda, ada juga yang suka marah-marah, lalu semuanya kembali menertawai perbedaan mereka. Perbedaan pandangan bukan untuk dimusuhi, tapi untuk dirayakan. Bahkan saat debat mencapai titik panas, ada saja yang melemparkan candaan yang seketika memadamkan ketegangan. Di tempat lain, perdebatan bisa menjadi jurang. Di sini, ia justru jadi jembatan.

Fenomena ini bukan kebetulan. Forum Diskusi Informasi adalah contoh hidup dari apa yang sering kita dengar namun jarang kita temukan, demokrasi yang tumbuh dari bawah, dari obrolan sehari-hari, dari rasa ingin tahu. Ia bukan demokrasi dalam bentuk prosedur, tapi dalam bentuk pengalaman. Tidak ada moderator tetap, tidak ada tata tertib baku. Tapi secara ajaib, semua tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, kapan waktunya bercanda, dan kapan serius.

  Partai Gema Bangsa Sulteng Imbau Kader Lawan Pengibaran Bendera One Piece

Yang juga menarik, forum ini tidak hanya jadi tempat curhat sosial atau ajang adu debat. Banyak sekali gagasan-gagasan yang lahir dari diskusi yang tampaknya sepele. Usulan kecil tentang persoalan masyarakat bisa menjalar menjadi rencana solutif yang melibatkan pemerintah. Keluhan soal layanan publik bisa langsung ditanggapi oleh pejabat terkait yang diam-diam ternyata juga anggota forum.

Bahkan ada kabar, satu-dua kebijakan kecil diambil karena obrolan yang awalnya hanya lewat satu pesan di grup ini. Begitu besarnya pengaruhnya, hingga kadang saya berpikir, andai semua kebijakan publik punya akar percakapan seperti ini, mungkin rakyat akan lebih percaya bahwa suara mereka sungguh didengar.

Namun tentu saja, tak semua berjalan mulus. Kadang ada juga gesekan, mispersepsi, bahkan komentar yang terlalu tajam. Tapi hebatnya, forum ini punya mekanisme alami untuk menyembuhkan dirinya. Humor. Tertawa bersama adalah tameng yang menyatukan, bahkan ketika kata-kata sudah terlalu keras. Dan mungkin itulah pelajaran terbaik dari Forum Diskusi Informasi, kita tak perlu selalu setuju untuk tetap bersama. Cukup dengan saling dengar dan bersedia menutup percakapan dengan tawa.

Akhirnya, Forum Diskusi Informasi adalah potret masyarakat kita, ramai, berisik, sering berseberangan, tapi juga penuh kehangatan dan solidaritas diam-diam. Di tengah dunia digital yang sering terasa dingin dan mekanis, grup ini adalah ruang manusiawi yang kita butuhkan. Sebuah oase diskusi yang bukan hanya menyebar informasi, tapi juga menumbuhkan kedekatan dan rasa memiliki.

Barangkali, jika ingin melihat masa depan komunikasi warga yang efektif, tidak perlu jauh-jauh menunggu seminar atau studi kebijakan. Cukup masuk ke Forum Diskusi Informasi, baca sejenak, dan rasakan, bahwa Morowali yang ramah, cerdas, dan penuh harapan itu masih ada. Bahkan hidup dan aktif, setiap hari, di layar kecil kita masing-masing.