Selasa, 13 Januari 2026

Ikrar Laskar To Boengkoe: Nilai, Identitas dan Peran Sosial Dalam Masyarakat Multikultur Morowali

Artikel Khusus Oleh Abd. Ghafur Halim

ikrar laskar to boengkoe nilai identitas dan peran sosial dalam masyarakat multikultur morowali
Penyerahan Pataka Laskar To Boengkoe dari Pembina yang juga adalah Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf kepada Ketua Laskar, H. Aksa Ishak Asira, sebelum pembacaan Ikrar Laskar To Boengkoe dalam memontum pengukuhan, Minggu (7/12/2025). Foto: Dok/Ghaff

Morowali, Teraskabar.id – Dalam momentum pengukuhan pengurus Laskar To Boengkoe pada Minggu (7/12/2025) di Alun-Alun Rumah Jabatan Bupati Morowali, pembacaan Ikrar Laskar To Boengkoe yang dibacakan Abdul Jamil menjadi sesi paling menarik. Ikrar Laskar To Boengkoe, sebagai deklarasi nilai dan komitmen identitas sosial, berfungsi menguatkan kehadiran organisasi budaya dalam masyarakat multikultur yang bertransformasi cepat. Makna yang terkandung dalam ikrar tersebut mempertegas peran organisasi sebagai penjaga adat, pemersatu sosial, dan agen pembangunan yang beretika.

Ikrar tersebut terdiri dari enam poin. Pertama, menjunjung tinggi adat, budaya, dan martabat masyarakat Bungku. Kedua, menjaga persatuan, ketertiban, dan keharmonisan Morowali sebagai daerah multikultur. Ketiga, melaksanakan peran sosial dan budaya secara tertib, profesional, dan tanpa kekerasan. Keempat, menjadi mitra pemerintah, lembaga adat, dan dunia usaha dalam pembangunan yang berkeadilan. Kelima, melindungi dan memelihara lingkungan hidup sebagai amanah leluhur. Keenam, menjadi teladan dalam sikap, moral, dan kedisiplinan di tengah masyarakat.

    Signifikansi Ikrar Laskar To Boengkoe dalam Konteks Identitas Budaya

    Ikrar organisasi ini memuat enam butir nilai yang menegaskan orientasi moral organisasi. Ikrar ini tidak hanya berupa pedoman internal, tetapi juga instrumen penguatan identitas budaya Bungku. Dengan berpegang pada teori identitas budaya dan modal sosial, ikrar ini menegaskan bahwa adat dan martabat masyarakat Bungku menjadi fondasi penting bagi stabilitas sosial di tengah arus modernisasi dan industrialisasi.

    Ikrar Laskar To Boengkoe Menjunjung Tinggi Adat, Budaya, dan Martabat Bungku

    Butir pertama ikrar menegaskan peran adat sebagai modal identitas. Dalam kerangka antropologi budaya, adat tidak sekadar simbol, melainkan mekanisme regulatif yang menjaga kesinambungan etika dan relasi sosial. Laskar To Boengkoe menggunakan ikrar ini sebagai payung moral untuk menjaga martabat kolektif masyarakat Bungku yang menghadapi tekanan globalisasi.

      SIKP Ikut Berpartisipasi di Pasar Ramadan Bahodopi Morowali

    Penguatan Kohesi Sosial di Wilayah Multikultur

    Konteks multikultural Morowali menuntut model pengelolaan perbedaan yang efektif. Ikrar ini secara eksplisit menekankan pentingnya menjaga harmoni, ketertiban, dan solidaritas lintas-komunitas. Perspektif modal sosial menjelaskan bahwa organisasi ini berposisi sebagai penghubung antarkelompok sosial melalui nilai toleransi, etika dialog, dan integrasi sosial.

    Ikrar Laskar To Boengkoe Menjaga Persatuan dan Ketertiban Multikultur

    Komitmen menjaga keharmonisan mengindikasikan bahwa Laskar To Boengkoe memerankan fungsi stabilisasi sosial di tengah dinamika migrasi dan keragaman etnis. Ikrar ini menempatkan organisasi sebagai aktor yang mengedepankan resolusi sosial berbasis non-kekerasan dan komunikasi lintas budaya.

    Peran Organisasi dalam Tata Kelola Sosial dan Civic Engagement

    Ikrar ini juga memuat komitmen untuk bertindak profesional, tertib, dan bebas kekerasan dalam menjalankan fungsi sosial dan budaya. Pernyataan ini sejalan dengan prinsip non-violent civic engagement, yang menempatkan kedisiplinan, etika, dan profesionalitas sebagai basis legitimasi organisasi.

    Ikrar Laskar To Boengkoe Menegaskan Organisasi yang Tertib, Profesional, dan Tanpa Kekerasan

    Komitmen tersebut menegaskan bahwa organisasi tidak mengandalkan kekuatan fisik, melainkan pendekatan edukatif dan persuasif. Hal ini menguatkan citra organisasi sebagai lembaga sosial modern yang adaptif terhadap tata kelola kontemporer.

    Kemitraan Pembangunan Berkeadilan dan Collaborative Governance

    Butir keempat ikrar menyatakan kemitraan lintas-sektor dengan pemerintah, lembaga adat, dan dunia usaha. Pendekatan ini mencerminkan model collaborative governance, yakni tata kelola pembangunan yang kolaboratif, inklusif, dan responsif.

    Ikrar Laskar To Boengkoe Meneguhkan Kemitraan untuk Pembangunan yang Adil

    Laskar To Boengkoe menegaskan posisinya sebagai jembatan sosial yang memastikan pembangunan tidak menyingkirkan masyarakat lokal. Dengan demikian, organisasi berperan dalam memperkuat agency komunitas untuk terlibat langsung dalam perumusan strategi pembangunan.

      Ibu Hamil di Kabonga Donggala Ditangkap Polisi, Mengaku Tergiur Imbalan Jual Sabu

    Dimensi Ekologis dalam Ikrar Laskar To Boengkoe

    Salah satu aspek penting dari ikrar adalah komitmen menjaga lingkungan hidup sebagai amanah leluhur. Nilai ekologis ini bersinggungan dengan konsep sustainable development, khususnya di daerah industri seperti Morowali, yang rentan terhadap tekanan ekologis.

    Lingkungan sebagai Amanah Leluhur

    Butir kelima ikrar menegaskan bahwa hubungan manusia dan alam merupakan relasi timbal balik yang harus dijaga. Laskar To Boengkoe mengartikulasikan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu diwariskan lintas generasi.

    Keteladanan Moral sebagai Pilar Kepemimpinan Sosial

    Nilai keteladanan moral yang termuat dalam butir keenam ikrar memperlihatkan bahwa organisasi ingin membentuk karakter anggotanya sebagai figur moral. Keteladanan ini menjadi mekanisme penting dalam membangun kepercayaan sosial, terutama pada masyarakat yang mengandalkan nilai-nilai komunal.

    Ikrar Laskar To Boengkoe Mengedepankan Moral Leadership di Tengah Masyarakat

    Organisasi mempertanggungjawabkan sikap dan kedisiplinan anggotanya sebagai representasi nilai budaya yang dijunjung. Dengan demikian, ikrar ini menegaskan bahwa identitas organisasi tidak hanya disimbolkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan.

    Kesimpulan: Ikrar Sebagai Landasan Etis dan Instrumen Sosial-Budaya

    Ikrar ini menunjukkan bahwa enam butir ikrar tersebut membentuk kerangka nilai yang relevan bagi penguatan identitas, kohesi sosial, partisipasi pembangunan, dan keberlanjutan lingkungan. Ikrar ini berfungsi sebagai cultural charter yang mampu:

    1. Menguatkan identitas dan martabat budaya.
    2. Menjaga harmoni dalam masyarakat multikultur.
    3. Membangun organisasi yang profesional dan non-kekerasan.
    4. Menegaskan kemitraan pembangunan berkeadilan.
    5. Mengukuhkan kesadaran ekologis komunitas.
    6. Menghadirkan keteladanan moral bagi masyarakat.

    Dengan demikian, Ikrar ini menjadi fondasi etis yang mengatur peran organisasi dalam pembangunan sosial, budaya, dan ekologis di wilayah yang terus berubah. (Ghaff/Teraskabar)