Minggu, 25 Januari 2026
Ekbis, Home  

Pertanian Tanpa Zat Kimia, Tim PPM PT Vale Mengubah Keraguan Petani Jadi Keyakinan

Pertanian Tanpa Zat Kimia, Tim PPM PT Vale Mengubah Keraguan Petani Jadi Keyakinan

Palu, Teraskabar.id– Pertanian harus selalu menggunakan zat kimia. Pemahaman ini seolah sudah menjadi mitos di kalangan petani. Mereka sangat bergantung pada  bahan kimia sintetis dalam pertanian.

Pemahaman yang sudah melekat kuat pada diri sejumlah petani menjadi kendala tersendiri saat memperkenalkan System of Rice Intensification (SRI) atau Metode Budidaya Padi Organik kepada masyarakat. Sekelompok petani di Desa Kolono, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, tampak ragu saat tim Program Pemberdayaan Masyarakat PT Vale Indonesia  menyosialisasikan Metode Budidaya Padi Organik melalui Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB).

Pertanyaan dari para petani saat itu ramai ditujukan kepada tim PPM, menggambarkan keraguan mereka. Hal itu patut dimengerti karena metode budidaya padi organik ini baru bagi mereka. Berbeda dengan metode pertanian konvensional yang mengandalkan bahan kimia sintentis, mereka sudah menjalaninya belasan tahun, bahkan ada yang sudah melakoninya puluhan tahun.

Pola interaksi yang diterapkan oleh Tim PPM mampu meyakinkan masyarakat Desa Kolono untuk mencoba SRI Organik. Sebanyak 12 petani menyatakan kesiapannya untuk turut serta dalam program PSRLB yang dijalankan PT Vale Indonesia di wilayah operasional pemberdayaan. Para petani tersebut lantas mulai diikutkan pelatihan teknis sekitar awal tahun 2022. Dalam pelatihan program PSRLB yang berlangsung selama tiga bulan, mereka diberi pemahaman tentang pentingnya pertanian berkelanjutan dan bagaimana mengelola hasil pertanian.

Memasuki musim tanam tahun 2022,  12 petani yang telah mengikuti pelatihan teknis mulai menanam padi menerapkan Metode Budidaya Padi Organik atau SRI Organik di atas lahan seluas 1,1 hektare. Relatif tak luas areal tanamnya, namun menjadi embrio pengetahuan teknis bertani tanpa bahan kimia bagi petani sawah di Desa Kolono khususnya dan Kabupaten Morowali pada umumnya.  

Awal bulan Agustus 2022, kelompok tani ini melakukan panen raya padi organik. Hasil jerih payah serta keteguhan 12 petani menggunakan metode SRI Organik, membuahkan hasil menggembirakan. Panen padi organik tahap perdana mampu mencapai  lima ton per hektare dalam bentuk gabah kering giling. Hasil ini jauh melampui sistem pertanian menggunakan metode konvensional yang mengandalkan pestisida dan pupuk kimia.

Fadlun, petani asal Desa Kolono yang ikut dalam program PSRLB ini tak mampu menyembunyikan kegembiraannya atas keberhasilan pada panen raya perdana ini. Awalnya, ia mengaku sangsi atas program ini. Apatah lagi sejumlah suara suara dari sesama rekan petani yang menyangsikan keberhasilan metode budidaya padi organik yang diperkenalkan oleh Tim PPM PT Vale Indonesia. Anggapan di luar, bertani tanpa menggunakan pestisida dan pupuk berbahan kimia sintetis, rentan terserang hama pengganggu padi. Pemahaman petani yang seolah sudah menjadi “mitos”, tanpa pestisida, panen gagal akhirnya terbantahkan.

  UIN Datokarama Palu Kelola Beasiswa KIP Kuliah Secara Transparan dan Akuntabel

“Kami awalnya sempat ragu, tapi setelah melihat hasilnya, kami sangat bersyukur. Pertanian organik ini benar-benar membawa perubahan,” kata Fadlun, ibu rumah tangga yang juga pemilik lahan areal penanaman padi organik.

Petani Mulai Tertarik Gunakan Metode SRI Organik

Memasuki musim tanam berikutnya,  terdapat tambahan petani yang tertarik ikut program PSRLB PT Vale ini. Sebanyak 20 petani di Desa Kolono menyatakan ketertarikannya untuk ikut program PSRLB di Desa Kolono.  Sehingga, total 32 petani jadi binaan yang awalnya hanya 12 orang. Luasan areal tanam juga bertambah menjadi 5,5 hektare yang sebelumnya hanya 1,1 hektare.

Hasil panen yang melimpah pada pertanian metode SRI Organik menjadi daya tarik bagi 20 petani untuk ikut serta dalam program PSRLB yang dijalankan oleh PT Vale Indonesia di Desa Kolono.  

 “Awalnya, saya melihat petani lainnya yang sudah lebih dulu menerapkan pertanian organik dan memutuskan untuk mencobanya sendiri. Ternyata hasilnya jauh lebih baik dibanding metode konvensional dengan pupuk kimia,” kata Mustari.

Ia menuturkan, meskipun metode SRI Organik memerlukan waktu dan tenaga lebih, produktivitas mencapai 5 ton per hektare per panen. Capaian tersebut sebenarnya lompatan inovasi di bidang pertanian yang sulit tercapai jika masih menggunakan metode konvensional. Berkat keteguhan para petani di bawah pendampingan tim PPM PT Vale Indonesia, panen dengan hasil melimpah jadi catatan sejarah tersendiri bagi wilayah ini.

“Memang kami harus bekerja lebih keras pada awalnya, tetapi hasilnya sangat memuaskan. Pertanian organik ini bukan hanya mengurangi biaya, tetapi juga memberikan hasil yang lebih baik,” ujar Mustari, penerima manfaat Program PSRLB,” ujar Mustari, penerima manfaat program PSRLB.

Selain Desa Kolono, tiga desa lainnya dalam area operasi PT Vale IGP Morowali, yaitu Desa Bahomotefe, Desa Bahomoahi, Desa Ululere juga merasakan manfaat  program PSRLB yang dijalankan oleh PT Vale. Para petani binaan PT Vale, hingga  2024, telah melakukan 12 kali panen dengan total areal tanam seluas 11,95 hektare.

“Kami menjaga kualitas produk dengan memasarkan beras organik dalam kemasan 5 dan 10 kilogram seharga Rp20 ribu per kilogram,” ujarnya.

Fadlun, Mustari dan rekan-rekan petani yang tergabung dalam program PSRLB berharap dukungan PT Vale akan terus berlanjut untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan kemandirian petani.

Karena capaian program ini, selain mampu meningkatkan hasil pertanian, juga menyehatkan bahkan menyejahterakan petani.

  Sembilan Puskesmas di Area Pemberdayaan PT Vale Terima Bantuan Alkes dan Paket Makanan Sehat

“Andaikan PT Vale hanya datang menyosialisasikan pertanian organik lalu pergi, maka saya yakin tidak akan ada perubahan apa-apa. Tapi kini apa yang sudah kami terima dari PT Vale Indonesia sangat membantu masyarakat,” ujar mereka.

Petani Binaan PT Vale Bisa Merasakan Manfaatnya

Pendampingan secara konsisten terhadap petani binaan PPM yang dijalankan oleh PT Vale Indonesia terus berlangsung. Jumlah petani yang ikut bergabung dalam Program PSRLB pun semakin bertambah. Kini jumlahnya mencapai 56 petani dengan total areal tanam 11,95 hektare.

Animo petani untuk ikut bergabung dalam program PSRLB binaan PT Vale di setiap wilayah operasional perusahaan,  membuat CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto merasa bangga.  Walau dari sisi luas garapan areal tanam yang skalanya masih relatif kecil,  bagi Irmanto menjadi embrio untuk hal-hal besar kedepannya. Menurut Irmanto, ini semua sesuai dengan prinsip berkelanjutan dan Environment, Sosial and Governnance (ESG).  

Ia juga berharap, PSRLB dapat memperkuat kemandirian ekonomi petani, mendukung pertanian yang ramah lingkungan untuk keberlanjutan di masa depan.

Bernardus juga mencatat pentingnya umpan balik dari petani untuk perbaikan berkelanjutan. “Kami akan terus mendukung dalam hal pemasaran, edukasi, dan pengembangan kompos dan bahan-bahan kompos, untuk memastikan keberlanjutan pertanian organik ini,” katanya.

Mengubah Pola Pikir Petani

PT Vale IGP Morowali sejak 2022 silam telah melakukan panen raya Padi SRI organik bagi kelompok tani binaan dari empat desa, yaitu Bahomotefe, Bahomoahi, Ululere, dan Kolono, di Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali. Mereka juga memperoleh pelatihan dan pendampingan pelatihan tanaman herbal, sayuran organik, serta pemanfaatan pekarangan.

Kepala Desa Bahomoahi, Asep Anwar, menyatakan dukungan penuhnya terhadap program PSRLB yang digalakkan oleh PT Vale Indonesia. Menurutnya, program ini bukan hanya berdampak pada peningkatan produksi pertanian, tetapi juga membawa perubahan besar dalam pola pikir dan pola hidup masyarakat, termasuk dirinya secara pribadi.

“Kami sangat mendukung program SRI organik ini. Bahkan dari Dana Desa kami sudah menganggarkan bantuan dua unit mesin pencacah rumput untuk mendukung para petani,” ungkapnya kepada media ini, Sabtu (5/7/2025). Ia menyebutkan bahwa program ini dinilainya sangat positif, tidak hanya dalam aspek ekonomi, tetapi juga kesehatan.

Saat ini, kata Asep Anwar, meskipun jumlah petani yang ikut serta dalam budidaya padi organik masih terbatas, namun antusiasme mereka cukup tinggi. “Mereka jadi lebih semangat karena tidak perlu lagi beli pupuk dan obat-obatan kimia. Bahkan, harga jual beras organik ini juga lebih baik,” tambahnya.

  Pelopor SUV 7 Penumpang, New XL7 Hybrid Resmi Mengaspal di Palu

Ia berharap ke depan semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam program ini. “Kalau bisa, semua petani menggunakan metode SRI organik. Karena ini betul-betul menghemat biaya dan jauh lebih sehat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menuturkan bagaimana dirinya terdorong untuk mulai mengurangi konsumsi obat kimia dan beralih ke pengobatan alami berbasis herbal. “Sekarang saya lebih sering menggunakan rimpang untuk menjaga kesehatan tubuh. Ini berkat pendampingan dari PT Vale yang tidak hanya di bidang pertanian, tapi juga memperkenalkan manfaat tanaman herbal,” katanya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa pelatihan dan pendampingan untuk generasi muda masih tergolong minim. Menurutnya, pelibatan generasi milenial dalam program semacam ini sangat penting agar keberlanjutan pertanian organik bisa terjaga. “Mereka masih butuh banyak bimbingan. Karena itu, kami masih sangat membutuhkan pembinaan lebih lanjut,” ujarnya.

Mengenai komunikasi dan koordinasi dengan PT Vale IGP Morowali, Asep menilai hubungan tersebut sudah terjalin baik meski berharap agar terus ditingkatkan. “Kami tetap intens berkomunikasi, tapi kami juga berharap bisa lebih diperkuat lagi, mengingat tidak semua program bisa kami akomodir melalui anggaran desa,” jelasnya.

Hadirkan Sekolah Lapang Organik

Untuk memberi edukasi kepada para petani organik, PT Vale Indonesia menghadirkan Sekolah Lapang Organik di Desa Ululere, Bungku Timur, Kabupaten Morowali. Sekolah Lapang Organik ini digunakan sebagai tempat pertemuan dan pusat belajar para petani binaan Tim PPM PT Vale Indonesia.

Di sekolah lapang ini membina 56 warga belajar yang merupakan petani organik dari 13 desa pemberdayaan IGP Morowali.

Director of Mine Project IGP Morowali, Wafir mengatakan, manajemen IGP Morowali turut berbangga dan bersyukur atas kolaborasi baik dari semua pihak mulai dari pemerintah daerah, kecamatan dan desa untuk menghadirkan program bagi kemajuan masyarakat di sektor pertanian.

 “Kami percaya bahwa secara jangka panjang, program ini bisa mendorong peningkatan kesejahteraan petani sekaligus berdampak pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui konsumsi beras dan sayur organik,” lanjutnya.

Wafir juga menyampaikan, beras organik yang dihasilkan oleh petani binaan telah memperoleh sertifikat dari Inofice, lembaga sertifikasi organik. Hal ini menandakan beras organik hasil petani binaan IGP Morowali telah melalui proses pengujian dan dinyatakan bebas dari bahan kimia berbahaya sehingga aman dikonsumsi.

“Besar harapan kami, kolaborasi baik yang sudah terjalin ini dapat terus berlanjut agar tercipta masyarakat Morowali yang sehat, mandiri dan sejahtera,” tegasnya. (red/teraskabar)