Senin, 12 Januari 2026
Ekbis, Home  

Kurun Enam Bulan Terakhir, Daya Beli Petani Sulteng Terus Melemah

Kurun Enam Bulan Terakhir, Daya Beli Petani Sulteng Terus Melemah
Imron Taufik J. Musa, Plt Kepala BPS Provinsi Sulteng bersama Asisten II Setdaprov Sulteng Dr. Rudi Dewanto, S.E, M.M., pada press release berita resmi BPS Provinsi Sulteng, Senin (3/11/2025). Foto: Tangkapan layar

Palu, Teraskabar.id – Kurun enam bulan terakhir, yaitu sejak Mei hingga Oktober 2025, daya beli petani di Sulawesi Tengah melemah. Hal itu tergambar dari Nilai Tukar Petani(NTP) yang dirilis BPS  Sulteng, Senin (3/11/2025).

Pada Mei 2025, NTP Sulawesi Tengah sebesar 118,17 poin. Selanjutnya pada Juni 2025, NTP Sulteng sebesar 115,21 poin atau turun sebesar 2,96 persen dibanding bulan sebelumnya.

Kemudian pada Juli 2025, NTP Sulteng kembali tergerus cukup dalam menjadi 111,11 poin atau turun sebesar 4,1 persen. Kondisi serupa terus berulang pada Agustus 2025 di mana NTP tercatat 110,27 poin atau turun  0,84 persen dan berlanjut pada bulan September 2025 dengan NTP sebesar 107,99 poin atau turun 2,28 persen.

Pada bulan Oktober 2025, NTP Sulteng kembali melemah cukup dalam sebesar 4,97 persen sehingga NTP tercatat 102,63 poin. Artinya, kurun enam bulan terakhir, daya beli petani di Sulteng terus tergerus di tengah kenaikan harga beras dan cabai di pasaran.

Plt. Kepala BPS Sulteng Imron Taufik J. Musa pada press release berita resmi BPS Provinsi Sulteng, Senin (3/11/2025), yang dipusatkan kegiatannya di ruang pertemuan kantor BPS Sulteng dan disiarkan melalui zoom meeting, mengatakan, NTP gabungan di Sulawesi Tengah pada Oktober 2025 sebesar 102, 63 poin, turun 4,97 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat  107,99 pon. Penurunan ini akibat indeks harga yang diterima petani (It) tercatat 129,39 mengalami penurunan indeks sebesar 5,52 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 136,96 poin. Tercatat tiga komoditas memiliki andil terbesar yaitu, kakao, gabah dan cabai rawit.

Sementara itu indeks harga yang dibeli petani (Ib)  juga mengalami penurunan, walau penurunannya relatif kecil dibanding indeks harga yang diterima petani. BPS mencatat Ib petani sebesar 126,08 poin mengalami penurunan indeks sebesar 0,59 persen. Tiga komoditas memiliki andil pada kondisi ini yaitu, beras, cabai rawit dan bawang merah.

  Mentan Andi Amran Bawa Investor Industri Sapi Perah Asal Vietnam Meninjau Lahan di Sulteng

Ia menambahkan, tiga subsektor mengalami penurunan NTP yaitu Tanaman Holtikultura dari 132,15 poin menjadi  122,40 poin atau turun sebesar 7,38 persen; Tanaman Perkebunan Rakyat dari 113,50 poin  menjadi 105,36 poin atau turun 7,17 persen; dan Tanaman Pangan 95,11 poin menjadi 92,57 poin atau turun 2,68 persen.

Dua subsektor lainnya justru mengalami kenaikan yaitu Perikanan dari 98,28 poin menjadi 99,46 poin atau naik 1,20 persen namun NTP subsektor ini masih di bawah 100 poin. NTP subsektor Peternakan juga mengalami kenaikan dari 106,84 poin menjadi 107,12 poin atau naik 0,26 persen. (red/teraskabar)