Sabtu, 24 Januari 2026
Ekbis, Home  

Laa Waa River Park, Destinasi Wisata Matano di Pesisir Danau Limpasan Tambang PT Vale

Laa Waa River Park, Destinasi Wisata Matano di Pesisir Danau Limpasan Tambang PT Vale
Destinasi wisata Laa Waa River Park di Desa Matano, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Foto: Dok

Palu, Teraskabar.id– Angin berhembus sepoi ketika rombongan jurnalis peserta Media Visit PT Vale Indonesia menjejakkan kaki di jetty milik perusahaan tambang nikel itu. Dua raft atau perahu katinting yang dimodifikasi dan dilengkapi mesin, dipersiapkan untuk mengangkut rombongan jurnalis yang berjumlah puluhan orang menuju kawasan destinasi Laa Waa River Park, di Desa Matano, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Tengah.

Setelah seluruh peserta Media Visit hadir lengkap, raft mulai bergerak membelah Danau Matano. Pilihan menggunakan raft karena moda transportasi inilah satu-satunya yang bisa menjangkau kawasan destinasi Laa Waa River Park.

Sekitar 45 menit menyusuri danau terdalam di Asia tersebut setelah sebelumnya rombongan sempat singgah melihat Goa Tengkorak, rombongan Media Visit tiba di dermaga destinasi wisata Laa Waa River Park. Tulisan Well Come to  (Selamat Datang) di Laa Waa River Park  di papan selamat datang seolah menyambut kedatangan rombongan jurnalis dari berbagai daerah di kawasan wisata baru ini.

Laa Waa River Park awalnya hanya tempat kumpul kumpul warga sekitar setiap hari di pesisir Danau Matano  yang mencoba mencari suasana berbeda.  Para pemuda dan pejabat pemerintah desa melihat hal ini potensi untuk dijadikan kawasan destinasi dan berinisiatif mengolalanya melalui unit usaha Bumdes di akhir tahun 2021.

“Kenapa tiba tiba jadi tempat wisata karena dulunya ini, orang tiap hari datang ke sini. Pemerintah desa dan sejumlah pemuda melihat ada potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan destinasi wisata. Itulah kenapa kami buka pelan pelan bersama teman teman,” kata Iniaku Hamsal Wahid, Ketua Pengelola Laa Waa River Park pada Visit Media yang dilaksanakan PT Vale.  

Pemerintah Desa Matano kemudian menerbitkan Perkades pada awal 2022 sebagai legalitas pengelolaan kawasan destinasi wisata Laa Waa River Park. PT Vale melihat potensi ekonomi sirkular bagi warga di sekitar area operasional setempat, mengucurkan bantuan melalui Program  Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dan Pengembangan Kawasan Perdesaan Mandiri (PKPM).

  Pemprov Sulteng Salurkan Paket Pangan Bergizi bagi KPM di Sigi

Kolaborasi pengelolaan desa wisata antara PT Vale Indonesia, Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur, dan pemerintah desa setempat dengan melibatkan para pemuda, berhasil mendorong kemandirian ekonomi bagi warga Desa Matano agar lebih sejahtera.  

Bahkan, Desa Matano meraih Juara II Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 kategori Kelembagaan Desa Wisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Sandiaga Salahudin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kala itu yang menyerahkan langsung penghargaan kepada perwakilan Pemerintah Desa Matano,  menandai pengakuan atas upaya mereka dalam mengembangkan desa wisata dengan mengembangkan destinasi wisata Laa Waa River Park. Pencapaian ini berkat kolaborasi antara PT Vale Indonesia, Pemda dan masyarakat.

Mendorong Ekonomi Sirkular

Dermaga destinasi wisata Laa Waa River Park. Foto: Dok

Keberadaan destinasi wisata Laa Waa River Park mulai banyak dikenal para wisatawan lokal maupun regional. Intensitas kunjungan wisatawan tentunya memberi dampak ekonomi bagi warga setempat dan menambah pemasukan daerah.

Sebagai ilustrasi, Pemerintah Desa Matano memberi target pemasukan daerah dari kontribusi destinasi wisata Laa Waa River Park sebesar Rp15 Juta pada semester pertama tahun 2024.

“Pemasukan ini bersih setelah dipotong dari insentif para pengelola,” kata Hamsal.

Kontribusi PAD ini berasal dari biaya retribusi kunjungan sebesar Rp10.000 setiap orang. Rata-rata pengunjung di Laa waa River Park setiap bulan mencapai 800 orang. Terlebih saat ada iven dari PT Vale dan membawa tamu ke Laa Waa, membuat jumlah pengunjung meningkat.

Pemasukan tambahan lainnya berasal dari penyewaan gazebo Rp50 Ribu per unit, banana boat, area camping beserta fasilitas penyewaan tenda bagi pengunjung yang tak membawa dan berniat melakukan camping, serta penyewaan aula dan perlangkapan sound sistem dan sebagainya. Pengadaan seluruh fasilitas tersebut merupakan sumbangsih PT Vale melalui dana CSR program pemberdayaan dan pengembangan masyarakat.   

Pengelolaan kawasan destinasi wisata ini melibatkan empat pemuda desa. Setiap akhir pekan, ke empat pemuda ini diberi insentif masing-masing sebesar Rp500 ribu. Keterlibatan para pemuda ini awalnya tanpa insentif ketika destinasi wisata ini mulai dirintis. Seiiring meningkatkannya jumlah kunjungan wistawan dan iven iven kolaborasi dengan PT Vale, para pemuda yang memiliki semangat kemandirian ekonomi bagi desanya, mulai memperoleh insentif dengan total Rp2 Juta per bulan.

Kelompok Dasa Wisma juga diberdayakan secara gotong royong mulai dari penyiapan catering hingga penjualan souvenir dan kuliner.

“Waktu pelaksanaan Festival Laa Waa River Park yang digagas PT Vale, masyarakat yang buat makanannya untuk peserta dan pengunjung festival,” ujar Amsal.

Penyediaan perahu katinting atau raft untuk transportasi para wistawan, juga melibatkan masyarakat setempat. “Raft atau perahu itu masyarakat yang punya,” ujar Amsal.  Biaya sewa raft minimal Rp800 Ribu yang bisa memuat hingga 40 orang. Tapi biasanya, wisatawan menyewa pengangkutan untuk pulang pergi dengan tarif Rp1,2 Juta.

Hingga saat ini kata Hamsal, akses satu satunya menuju kawasan destinasi wisata Laa Waa River Park hanya melalui Danau Matano dengan menggunakan raft atau perahu katinting dari Matano Yacth Club dengan waktu perjalanan sekitar satu jam.   

Ia berharap, akses melalui transportasi darat juga bisa terwujud kedepannya agar lebih memudahkan para wisatawan berkunjung ke Laa Waa River Park.

Meninggalkan Warisan Hijau

Goa Tengkorak di Danau Matano, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Foto: Dok

Wisatawan terkadang hanya larut menikmati fanorama indah Laa Waa River yang berada di pesisir Danau Matano yang sangat jernih. Masih ada sebagian di antara wisatawan tak menyangka bahwa di hulu, tepatnya di atas bukit di sebelah selatan Laa Waa River Park terdapat area operasional PT Vale Indonesia.  

  PT Vale Raih Sustainable Business Awards Kategori Sangat Terpuji 2022

Sebagai perusahaan tambang yang telah berdiri sejak 58 tahun lalu, PT Vale telah membuktikan komitmennya sebagai pertambangan yang bersih dengan menerapkan standar Environmental, Social dan Governance (ESG). Bukti dari komitmen tersebut terlihat dari kualitas air Danau Matano yang tetap terjaga sesuai baku mutu.  

Bagi PT Vale, menjaga dan melestarikan Danau Matano sangat penting. Selain karena kawasan konservasi taman wisata, Danau Matano juga menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitar.

Pengelolaan destinasi wisata Laa Waa River salah satu contoh konkret menghidupkan ekonomi sirkular warga. Fanorama indah di pesisir Danau Matano yang jernih menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pencinta alam yang hobi camping.

Di kawasan ini juga terdapat titik pertemuan air sungai dan air danau dengan kualitas air yang sangat jernih dan memiliki suhu berbeda yaitu air sungai yang dingin dan air danau yang hangat.  Perbedaan suhu tersebut menjadi sensasi tersendiri bagi wisatawan saat berendam.

Kawasan wisata ini mampu menarik minat wisatawan lokal dan regional. Tercatat ratusan pengunjung setiap pekannya berkunjung ke Laa Waa River Park. Pada libur Idul Fitri baru baru ini, pengunjung yang datang bisa mencapai 600 hingga 700 orang dalam sehari. UMKM yang dikelola warga bisa tumbuh dan mendorong peningkatan kesejahteraan warga setempat.

Keberhasilan tersebut tak lepas dari kontribusi PT Vale dalam menjaga dan merawat Danau Matano yang bisa menjadi pendorong ekonomi sirkular warga di lingkar operasional perusahaan. Menjadi komitmen PT Vale Indonesia terus menjaga ekosistem lingkungan di tengah stigma negatif dunia pertambangan, demi meninggalkan warisan hijau bagi generasi mendatang.  (fitra/teraskabar)