Selasa, 13 Januari 2026
Home, Opini  

Lalampa Toboli sebagai Kekayaan Intelektual Komunal dan Simbol Identitas Parigi Moutong

Lalampa Toboli sebagai Kekayaan Intelektual Komunal dan Simbol Identitas Parigi Moutong
Penjual lalampa di Toboli, Parigi Moutong. Foto: Istimewa

Oleh Dedi Askary (Tinggal di Mbaliara, Parigi Barat)

PENETAPAN Lalampa Toboli sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) bukan hanya sekadar pengakuan formal, tetapi juga sebuah langkah strategis dalam melindungi dan mengembangkan warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi dan sosial yang signifikan. Tulisan ini akan mengupas lebih dalam mengenai implikasi dari penetapan KIK ini, serta menggali makna filosofis yang terkandung dalam Lalampa Toboli.

Perlindungan Hukum dan Implikasi Ekonomi

Dengan terdaftarnya Lalampa Toboli sebagai KIK, masyarakat Parigi Moutong memiliki landasan hukum yang kuat untuk melindungi hak mereka atas warisan kuliner ini. Ini berarti bahwa pihak lain tidak dapat memproduksi atau memasarkan Lalampa Toboli dengan nama yang sama tanpa izin dari masyarakat setempat. Perlindungan ini sangat penting untuk mencegah praktik pembajakan atau klaim sepihak yang dapat merugikan masyarakat.

Dari segi ekonomi, penetapan KIK ini membuka peluang untuk pengembangan industri kreatif berbasis kuliner. Lalampa Toboli dapat dipromosikan sebagai produk unggulan daerah yang memiliki daya tarik wisata. Hal ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Nilai Tradisi dan Praktik Komunal

Pernyataan bahwa “Lalampa memiliki nilai tradisi yang kuat, diwariskan secara turun-temurun, dan telah menjadi praktik komunal di tengah masyarakat” menggarisbawahi pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi ini. Lalampa Toboli bukan hanya sekadar resep, tetapi juga sebuah praktik sosial yang melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat. Proses pembuatannya seringkali dilakukan secara bersama-sama, mempererat tali silaturahmi dan memperkuat identitas komunal.

Makna Filosofis dalam Setiap Sajian

Lalampa Toboli mengandung makna filosofis yang mendalam. Penggunaan beras ketan sebagai bahan utama melambangkan kekuatan dan persatuan. Ikan tuna atau tongkol yang telah dibumbui dengan rempah-rempah khas mencerminkan kekayaan alam dan kearifan lokal dalam mengolah sumber daya yang tersedia. Pembungkus daun pisang bukan hanya berfungsi sebagai wadah, tetapi juga melambangkan kesederhanaan dan keharmonisan dengan alam.

  Gubernur Sulteng Resmikan Infrastruktur Listrik di Morowali, Bupati Iksan: Kepulauan Juga Harus Menyala 24 Jam

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meskipun penetapan KIK ini merupakan langkah positif, masih ada tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah bagaimana menjaga kualitas dan keaslian Lalampa Toboli di tengah gempuran produk-produk modern. Selain itu, perlu juga dipikirkan strategi pemasaran yang efektif untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Namun, di balik tantangan tersebut, terdapat peluang yang sangat besar. Dengan pengelolaan yang baik, Lalampa Toboli dapat menjadi ikon kuliner yang tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Ini akan membawa dampak positif bagi perekonomian dan citra daerah Parigi Moutong.

Kesimpulan

Penetapan Lalampa Toboli sebagai KIK adalah sebuah langkah penting dalam melindungi dan mengembangkan warisan budaya yang berharga. Dengan perlindungan hukum yang kuat, nilai tradisi yang dijaga, dan makna filosofis yang mendalam, Lalampa Toboli memiliki potensi besar untuk menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Parigi Moutong. (***)