Jumat, 30 Januari 2026
Home, News  

Lewat Sosialisasi Badan Geologi, Asisten Optimistis Sulteng Menjadi Kuat dan Tangguh Bencana

Lewat Sosialisasi Badan Geologi, Asisten Optimistis Sulteng Menjadi Kuat dan Tangguh Bencana
Sosialisasi Refleksi Enam Tahun Bencana Likuefaksi Pasigala yang diprakarsai Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di hotel Swissbell, Kamis (19/9/2024). Humas Pemprov Sulteng

Palu, Teraskabar.id – Tangguh Bencana Likuefaksi diangkat menjadi tema dalam sosialisasi Refleksi Enam Tahun Bencana Likuefaksi Pasigala yang diprakarsai Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di hotel Swissbell, Kamis (19/9/2024).

Sesuai temanya, kegiatan ini sangat disambut baik Pemerintah Provinsi Sulteng guna meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana likuefaksi dengan langkah-langkah mitigatif.

Baca juga: Gubernur Rusdy Mastura Gerak Cepat Sikapi Bencana Banjir Bandang Toribulu Parimo

Fenomena likuifaksi atau disebut “tanah bergerak sendiri” terjadi di dua kelurahan padat penduduk yakni Balaroa dan Petobo seusai Kota Palu diguncang gempa bumi dahsyat magnitude 7,4 SR tanggal 28 September 2018. Selain di Palu, likuefaksijuga menimpa Desa Sibalaya dan Jono Oge di Kabupaten Sigi.

Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana 28 September 2018 mencapai lebih dari 4.845 orang. Ditambah lagi lebih dari 110 ribu rumah dinyatakan rusak dan bahkan hilang, serta total kerugian diperhitungkan lebih dari Rp24 Triliun.

Gubernur Sulteng Rusdy Mastura lewat Asisten Perekonomian dan Pembangunan Rudi Dewanto berharap peristiwa bencana 2018 dijadikan pelajaran berharga agar lebih waspada terhadap beberapa wilayah rentan likuefaksi di Sulteng yang telah terpetakan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM.

Baca juga11 Proyek Infrastruktur Terdampak Bencana di Pasigala Tuntas

Ia berharap lewat informasi dan edukasi badan geologi dapat menjadi petunjuk untuk mengurangi dampak destruktif dan fatalitas akibat likuifaksi.

“Informasi kerentanan penting bagi pemerintah dan masyarakat yang hidup di bawah sesar yang melintang di kota besar seperti Palu yang dipadati penduduk,” ungkap Asisten tentang pentingnya sosialisasi.

Dengan terselenggaranya sosialisasi, asisten optimistis bahwa Sulteng ke depan akan semakin kuat dan tangguh bencana.

  Rachmasnyah-Harsono Peroleh Nomor Urut 4, Yakini Simbol Kemenangan di Pilkada Morowali 2024

“Kita memiliki kesiapsiagaan dan kewaspadaan untuk menghadapi amukan bencana yang tidak bisa diketahui dengan pasti waktu kedatangannya,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Badan Geologi Muhamad Wafid dalam sesi wawancara bersama media, berharap masyarakat semakin peka untuk mengetahui dengan persis seperti apa kah potensi gempa dan likuefkasi di lokasi tempat tinggalnya.

Baca jugaReny Lamadjido Berbagi Strategi Pengurangan Bencana di Forum GPDRR di Bali

Termasuk bagi pemerintah daerah untuk menguasai peta kerawanan bencana likuifaksi di wilayahnya, bersumber dari hasil pedoman pemetaan kerentanan likuefaksi skala 1 : 50.000 yang ikut di-launching dalam sosialisasi.

“Pemimpin harus mengetahui betul kondisi kebencanaan di daerahnya untuk mengurangi kerusakan dan korban jiwa,” harapnya.

Seusai melaksanakan sosialisasi, peserta lalu mengikuti kegiatan field trip ke lokasi likuefaksi Balaroa dan melakukan doa bersama serta tabur bunga di lokasi kejadian yang sudah rata dengan tanah. (red/teraskabar)