Doha, Teraskabar.id– Dunia kembali dikejutkan dengan serangan udara Israel yang menghantam ibu kota Qatar, Doha, pada Senin malam (9/9/2025). Serangan ini menargetkan kompleks tempat tinggal sejumlah pimpinan Hamas dan menelan korban jiwa.
Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, berdasarkan informasi resmi yang diterima media ini, Rabu (10/9/2025) pagi ini, lima anggotanya tewas dalam serangan Israel di ibu kota Qatar, Doha, sekaligus memastikan bahwa delegasi negosiasinya selamat dari serangan mematikan tersebut.
Mereka adalah:
1. Jihad Labad – Kepala Kantor pimpinan Hamas, Dr. Khalil Al-Hayyah.
2. Himam Al-Hayyah – Putra laki-laki dari Dr. Khalil Al-Hayyah.
3. Abdullah Abdul Wahid – Pendamping dekat delegasi Hamas.
4. Mu’min Hasunah – Pendamping delegasi Hamas.
5. Ahmad Abdul Malik – Pendamping delegasi Hamas.
Serangan ini tidak hanya menewaskan para syuhada, tetapi juga menimbulkan luka-luka di kalangan keluarga Al-Hayyah. Namun, Dr. Khalil Al-Hayyah sendiri bersama beberapa pimpinan Hamas lainnya dilaporkan selamat dari serangan tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, kelompok tersebut mengecam serangan Israel sebagai “kejahatan keji dan agresi terang-terangan,” dengan mengatakan bahwa serangan tersebut menargetkan delegasi negosiasi gerakan tersebut.
“Kami menegaskan bahwa musuh telah gagal membunuh saudara-saudara kami di delegasi negosiasi,” tegas Hamas.
“Kami menganggap pendudukan Israel dan pemerintah AS bertanggung jawab atas kejahatan ini karena dukungan Washington yang terus-menerus terhadap agresi dan kejahatan pendudukan terhadap rakyat kami,” tambahnya.
Hamas menyebut serangan Israel sebagai “agresi terhadap kedaulatan Negara Qatar, yang bersama Mesir, memainkan peran penting dan bertanggung jawab dalam mensponsori upaya mediasi untuk menghentikan serangan dan mencapai gencatan senjata serta kesepakatan pertukaran tahanan.”
Kelompok Palestina tersebut juga berduka atas tewasnya seorang personel keamanan Qatar dalam serangan Israel di Doha.
Mereka menekankan bahwa serangan terhadap tim negosiasinya terjadi “tepat pada saat mereka sedang membahas proposal terbaru dari Presiden AS Donald Trump.”
Hamas menekankan bahwa serangan itu membuktikan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pemerintahannya “tidak berniat mencapai kesepakatan apa pun dan sengaja berusaha menggagalkan semua peluang dan menggagalkan upaya internasional.”
Serangan itu “menunjukkan kembali bahwa pendudukan Zionis (Israel) merupakan ancaman serius bagi kawasan dan dunia,” kata Hamas, menuduh Netanyahu melakukan “skema kriminal genosida, pembersihan etnis, kelaparan, dan pengungsian paksa.”
“Upaya pembunuhan yang pengecut ini tidak akan mengubah posisi dan tuntutan kami yang jelas untuk segera mengakhiri agresi terhadap rakyat kami, penarikan penuh tentara pendudukan dari Gaza, pertukaran tahanan yang sesungguhnya, bantuan mendesak bagi rakyat kami, dan rekonstruksi,” kata Hamas.
“Kejahatan teroris ini tidak akan mematahkan tekad gerakan dan kepemimpinan kami, juga tidak akan menghalangi kami untuk berpegang teguh pada hak-hak nasional kami dan melanjutkan jalan perlawanan hingga pendudukan berakhir dan negara Palestina merdeka kami dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya didirikan.”
Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka melakukan “serangan tepat sasaran” terhadap para pemimpin senior Hamas, tanpa menyebutkan ibu kota Qatar.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengecam keras tindakan Israel, menyebutnya sebagai “serangan pengecut” dan “pelanggaran serius terhadap hukum internasional serta kedaulatan negara.” Insiden ini juga mendapat perhatian dunia internasional, dengan PBB dan sejumlah negara menyoroti ancaman besar yang ditimbulkan terhadap stabilitas kawasan.
Darah para syuhada di Doha menambah panjang daftar korban agresi Israel yang kini meluas hingga ke luar Palestina. (top/gazamedia/Palinfo/Al-Jazeera)







