Sabtu, 24 Januari 2026

Makna Peringatan Isra Miraj, Safri: Pengingat Dosa Ekologis di Balik Bencana Akibat Manusia Rakus!

makna peringatan isra miraj safri pengingat dosa ekologis di balik bencana akibat manusia rakus
Sekretaris Komisi III DPRD Sulawesi Tengah, Muhammad Safri sebut makna Peringatan Isra Miraj sebagai pengingat dosa ekologis di balik bencana akibat manusia rakus, Jumat (16/1/2026). Foto: Ghaff

Palu, Teraskabar.id– Makna Peringatan Isra Miraj di tengah meningkatnya bencana ekologis di berbagai wilayah, Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Safri, mengajak umat Muslim untuk melihat peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW sebagai momentum refleksi mendalam atas relasi manusia dengan alam. Oleh karena itu, Safri menilai dimensi spiritual harus berjalan seiring dengan tanggung jawab ekologis.

Selain itu, Safri menegaskan bahwa makna Peringatan Isra Miraj tidak boleh berhenti pada ritual keagamaan semata. Sebaliknya, peringatan ini harus mendorong kesadaran kolektif untuk mengevaluasi praktik eksploitasi alam yang semakin tak terkendali. Dengan demikian, nilai-nilai iman dapat hadir secara nyata dalam kehidupan sosial.

Lebih jauh, Safri menyebut bahwa peringatan Isra Miraj harus menjadi ruang muhasabah serius. Ia menilai kerakusan manusia dalam mengeksploitasi sumber daya alam telah memicu rangkaian bencana ekologis. Bahkan, aktivitas penambangan yang mengabaikan daya dukung lingkungan terus memperparah kerusakan alam.

Isra Miraj dan Realitas Kerusakan Lingkungan

Menurut Safri, banjir, longsor, serta rusaknya ekosistem tidak lagi bisa disebut sebagai bencana alam murni. Sebaliknya, peristiwa tersebut muncul sebagai konsekuensi dari kebijakan dan praktik eksploitasi yang dilakukan tanpa kendali. Oleh sebab itu, ia mengajak semua pihak untuk jujur melihat akar persoalan.

Selanjutnya, Safri mengingatkan ajaran Islam secara tegas menolak segala bentuk perusakan alam. Ia menyampaikan bahwa Al-Qur’an telah mengingatkan manusia tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia. Dengan kata lain, pesan tersebut menjadi peringatan keras yang relevan hingga hari ini.

“Islam tidak pernah membenarkan perusakan alam atas nama keuntungan. Pesan ini jelas dan tegas,” ujar Safri dalam keterangannya, Jumat (16/1/2026).

Tambang, Etika Iman, dan Tanggung Jawab Sosial

Safri menilai praktik penambangan yang mengorbankan hutan, kawasan resapan air, dan ruang hidup masyarakat telah melanggar mandat manusia sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai keimanan.

Lebih lanjut, ia mengaitkan makna Peringatan Isra Miraj dengan kewajiban salat. Menurutnya, salat tidak hanya membangun hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga harus melahirkan tanggung jawab sosial dan ekologis. Dengan demikian, kesalehan ritual harus sejalan dengan perilaku menjaga lingkungan.

“Tidak ada kesalehan sejati jika dibangun di atas kerusakan alam,” tegas Safri.

Makna Peringatan Isra Miraj sebagai Titik Balik Kesadaran Ekologis

Selain itu, Safri mendorong umat Islam dan para pemangku kebijakan untuk memaknai Peringatan Isra Miraj sebagai titik balik membangun kesadaran ekologis yang adil. Ia meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap aktivitas pertambangan yang berpotensi menimbulkan bencana.

Menurut Safri, perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW mengajarkan kesadaran kosmik. Artinya, manusia bukan penguasa mutlak alam, melainkan bagian dari tatanan semesta. Karena itu, manusia wajib menjaga keseimbangan lingkungan.

Pada akhirnya, Safri kembali menegaskan bahwa makna Peringatan Isra Miraj harus melahirkan tindakan nyata. Ia menutup pernyataannya dengan peringatan tegas bahwa bencana tidak lahir dari takdir semata, melainkan dari pilihan manusia sendiri. (Ghaff/Teraskabar).